Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Bojonegoro Timur

Jurnalistik Trip #1 Mastumapel.com; Wajah Ceria Jurnalisme Kaki di Bojonegoro

Mukaromatun Nisa
19/01/2025
Jurnalistik Trip #1 Mastumapel.com; Wajah Ceria Jurnalisme Kaki di Bojonegoro

Peserta Jurnalistik #1 berjalan di kebun kopi Tlogohaji/Foto: Nisa

Pagi cerah di kota Bojonegoro Sabtu (19/1/2025). Pukul 08.15 WIB, kami peserta Jurnalistik Trip #1 Mastumapel.com bersama-sama menuju Kebun Kopi Tlogohaji di Kecamatan Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro.

Jurnalistik Trip merupakan program liputan bersama yang diadakan Mastumapel.com. Mastumapel.com mencoba menghadirkan nuansa baru liputan jurnalistik di kalangan mahasiswa Bojonegoro. Jurnalistik yang identik dengan sesuatu yang berat, dikemas menjadi perjalanan bertamasya yang mengasyikkan sinambi melakukan liputan.

Kami menempuh perjalan kurang-lebih 45 menit dari Jl. Ahmad Yani Bojonegoro untuk sampai di kebun kopi. Dalam perjalanan, kami melewati jalan raya yang mulus tapi banyak polusi. Hingga sampai di jalan desa yang butuh perbaikan, tapi kanan-kirinya sangat asri. Tak lama setelah melintasi gapura Desa Tlogohaji, sampailah kami di lokasi.

Sampai di Kebun Kopi, kami disuguhi pemandangan serba hijau dari tanaman-tanaman kopi yang tumbuh rindang dan berbuah. Kepun kopi memang tidak luas banget, namun cukup rindang. Tlogohaji yang hanya memiliki ketinggian 40 meter di atas permukaan laut ternyata mampu menjadi “rumah” yang nyaman untuk bertumbuh dan berkembang bagi tanaman-tanaman kopi.

Kami, peserta sebanyak 13 mahasiswa, duduk berhadap-hadapan ditemani secangkir kopi. Nanang Farudin, jurnalis inisiator Jurnalistik Trip, membuka diskusi jurnalistik sebelum kami melakukan interview kepada Lilik Budi Witoyo, inisiator sekaligus peneliti kopi di Kebun Kopi Tlogohaji.

“Bayangkan jika tiba-tiba android ini tidak ada, apakah kita masih bisa liputan?” tanya Nanang memantik obrolan.

Ia menjelaskan, jurnalisme mata dan kaki perlu untuk terus dibiasakan, di tengah kemudahan liputan dengan gadget dan aneka teknologi lainnya. Jurnalisme kaki sangat diperlukan untuk menghasilkan tulisan yang akurat dan berkualitas dengan merasakan langsung proses di lapangan.

Peserta Jurnalistik Trip #1 melakukan interview langsung dengan Budi Witoyo/Foto: Nisa

Jurnalistik Trip, mencoba menghadirkan kembali jurnalisme mata dan kaki yang sudah sangat jarang dilakukan. Jurnalisme mata dan kaki, menurut Nanang, merupakan liputan yang datang langsung ke lokasi dan menyaksikan peristiwa yang terjadi.

Usai beriskusi jurnalistik, kami yang terdiri dari anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Arusgiri di Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri), Sinergi di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) PGRI, serta UKM Penelitian, Pengabdian dan Jurnalistik (P2J) Universitas Bojonegoro (Unigoro) melakukan interview kepada Budi.

Dalam kesempatan tersebut, Budi bercerita ia memulai ujicoba menanam kopi pada tahun 2019 dibantu beberapa temannya. Tanah Bojonegoro yang retak saat kemarau dan lengket saat hujan, membuat separuh kopi yang ditanam dari 120 pohon mengalami kematian.

“Akhirnya kita naik ke Gunung Ringgit untuk belajar lagi apa saja yang dibutuhkan kopi. Ternyata yang paling utama adalah tanah. Kopi suka tanah yang gembur dan mengandung banyak unsur hara,” terang Budi.

Kebun seluas 520 meter persegi itu langsung diberi kompos dari lingkungan sekitar seperti pelepah pisang, daun-daun kering, sekam padi dan sampah organik lainnya. Tanah Tlogohaji menjadi gembur dan cocok untuk kopi.

Tidak hanya tanah, kopi tidak bisa terkena paparan sinar matahari terlalu menyengat, karena itu diperlukan pohon peneduh seperti pule, durian, cempedak, jambu air, jambu biji bangkok, mangga, alpukat dan jeruk madu yang semua pohon peneduh ini berdampak untuk mencegah banjir sekaligus memberikan oksigen lebih banyak.

Setelah dua tahun melakukan berbagai ujicoba, akhirnya kopi di Tlogohaji berbuah dan bisa dipanen pada tahun 2021. “Hingga saat ini, kopi tersebut sudah berbuah sebanyak 4 kali, dan akan memasuki musim panen kelima pada Juli nanti,” tutur Budi.

Kami terus mengulik segala hal tentang kopi untuk dijadikan tulisan dengan angle yang berbeda. Usai melakukan wawancara, kami mengeksplore kebun kopi dengan terus bertanya.

Jenis kopi di sini, kata Budi, terdiri dari arabika, robusta, liberika, dan excelsa. Masing-masing memiliki rasa dan karakteristik pohon dan daun yang berbeda. Menurut Budi, yang paling rapuh dan rentan mengalami kematian adalah arabika yang memiliki daun paling kecil di antara jenis kopi lainnya.

Nah, liputan dengan nuansa bertamasya menyenangkan kan? Liputan santai membikin peserta Jurnalistik Trip merasakan suasana liputan yang berbeda.

Rista Puput Meira dari P2J merasa Jurnalistik Trip ini seru dan dapat ilmu. “Seru, dapat ilmu pastinya. Baru tahu kopi itu nggak bisa di dataran rendah karena terlalu panas dan solusinya ternyata dengan adanya pohon peneduh,” ungkapnya.

“Keren juga, apalagi sama teman-teman yang pengalamannya banyak,” pungkasnya.

Tags: BojonegoroBudi WitoyoJurnalistikJurnalistik TripKebun KopiTlogohaji
Previous Post

Halte Sroyo: Jejak Sejarah yang Terlupakan di Jalur Kereta Api Bojonegoro

Next Post

Dari Gunung ke Kebun; Kisah Kopi Ditanam di Dataran Rendah Bojonegoro

Comments 1

  1. M.Affan arabiyan says:
    1 tahun ago

    dari segi kata ada yang salah huruf nya

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Baca SERUNI, Suguhan Terbaru Perpustakaan dan UKMP Griya Cendekia Unugiri  

Baca SERUNI, Suguhan Terbaru Perpustakaan dan UKMP Griya Cendekia Unugiri  

16/05/2026
Kolaborasi Pemuda Seni Bojonegoro, Suarakan Isu Sosial Melalui Panggung Pertunjukan

Kolaborasi Pemuda Seni Bojonegoro, Suarakan Isu Sosial Melalui Panggung Pertunjukan

30/05/2026
Dari Warisan Keluarga, Kerupuk Klenteng Bojonegoro jadi Warisan Budaya Tak Benda

Dari Warisan Keluarga, Kerupuk Klenteng Bojonegoro jadi Warisan Budaya Tak Benda

23/05/2026
Idul Adha 1447 H untuk Bojonegoro Bahagia

Idul Adha 1447 H untuk Bojonegoro Bahagia

27/05/2026
Membaca Wigati, Membaca Batin Perempuan Jawa Pesantren

Membaca Wigati, Membaca Batin Perempuan Jawa Pesantren

31/05/2026
Warna Warni Rasa Kerupuk Klenteng

Warna Warni Rasa Kerupuk Klenteng

21/05/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023