Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Bojonegoro Timur

Dari Gunung ke Kebun; Kisah Kopi Ditanam di Dataran Rendah Bojonegoro

Redaksi
19/01/2025
Dari Gunung ke Kebun; Kisah Kopi Ditanam di Dataran Rendah Bojonegoro

Kopi yang ditanam di Kebun Kopi Tlogohaji/Foto: Fatma

Reporter: Fatma Rachmania, Rista Puput Meira

Lilik Budi Witoyo, pemilik Kebun Kopi Tlogohaji sekaligus Direktur Kokobo Dander Forest, memulai perjalanan unik dalam dunia kopi. Awalnya Budi seorang pendaki gunung, yang kemudian menyalurkan kepeduliannya terhadap alam dengan menanam kopi di dataran rendah, tepatnya di Desa Tlogohaji, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro. Baginya, kebun ini tak hanya menjadi riset ilmiah, tetapi juga sebagai tempat melepas penat.

Kami bertemu dengan Budi dalam kegiatan Jurnalistik Trip #1 yang digelar Mastumapel.com, Sabtu (18/1/2025). Sebanyak 13 mahasiswa dari beberapa kampus di Bojonegoro, menjadi peserta Jurnalistik Trip tersebut.

Dalam kesempatan ini, Budi menuturkan mulai meninggalkan hobinya mendaki gunung seiring bertambahnya tanggung jawab dalam keluarga. “Karena sudah punya anak, saya tidak lagi naik gunung. Tapi saya ingin membuat miniatur hutan yang bisa menjadi tempat pulang dan melepas penat,” ujarnya.

Maka, tahun 2018 menjadi awal langkahnya, ketika ia mulai mengolah lahan di Desa Tlogohaji. Setahun kemudian, ia menanam kopi dan pada tahun 2020, pohon-pohon kopi itu mulai berbunga.

Dari situ ia melihat peluang untuk membuktikan apakah kopi bisa tumbuh di dataran rendah. “Selama ini orang memahami kopi itu selalu ada di dataran tinggi. Nah dari situ kita menguji coba empat jenis kopi. Ada Robusta, Arabika, Excelsa, dan Liberika,” jelasnya.

Sebanyak 120 pohon dari empat jenis kopi itu menjadi bahan riset awal. Budi tidak mengawali perjalanannya tanpa hambatan. Tantangan terbesar datang dari kondisi tanah di Bojonegoro yang dikenal dengan tanah vertisol.

“Karakter tanah vertisol yang secara ilmiah, ketika hujan lengket dan ketika kemarau pecah-pecah,” ungkapnya. Akibatnya, sebagian besar tanaman kopi yang ditanam pada awalnya mati.

Untuk mencari solusi, Budi kembali ke alam, mendaki Gunung Ringgit guna mempelajari kebutuhan dasar tanaman kopi. Ia pun menemukan jawabannya. “Kopi suka tanah yang gembur, banyak mengandung unsur hara,” katanya.

Lilik Budi Witoyo saat diinterview peserta Jurnalistik Trip #1/ Foto: Fatma

Dengan memanfaatkan bahan organik seperti daun pisang, pelepah pisang, daun bambu, sekam padi, dan  kotoran hewan, ia memperbaiki kualitas tanah di kebunnya. Dari situ ia menemukan formulasi tanah. Yang tadinya vertisol, kini menjadi gembur dan mengandung unsur hara.

Selain tanah, suhu panas Bojonegoro menjadi tantangan berikutnya. “Cara mengurangi panasnya Bojonegoro yakni, dengan cara harus banyak pohon peneduhnya. Kalau tidak ada pohon peneduhnya, dia hidup tapi selanjutnya, berbunga dan rontok karena terlalu panas,” jelas Budi.

Untuk mengatasi masalah ini, ia kemudian menanam pohon peneduh yang berfungsi mengurangi paparan sinar matahari secara langsung. Ia menanam berbagai jenis pohon peneduh seperti pule, durian, cempedak, jambu air, jambu biji bangkok, mangga, alpukat, dan jeruk madu.

Hasil kerja keras Budi akhirnya terbayar. Pada tahun 2020, pohon-pohon kopi di Kebun Kopi Tlogohaji mulai berbunga. Setahun kemudian, ia mengundang teman-teman pecinta kopi untuk menikmati panen pertama. “Sehingga di tahun 2021, kita cupping pertama di sini. Mengundang beberapa teman pecinta kopi. Menyeduh kopi pertama kali bersama di Kebun Kopi Tlogohaji ini. Sampai sekarang Alhamdulillah sudah ke tiga kalinya dan mau ke empat,” kenangnya.

Bibit kopi yang digunakan berasal dari berbagai daerah, seperti Gunung Ringgit, Batu, Banjarnegara, Lereng Gunung Merapi, Kendal, dan Jember. Keberhasilan Budi pun menginspirasi banyak orang. Beberapa daerah dataran rendah seperti Ponorogo, Trenggalek, dan Makassar mulai menanam kopi. “Proses perawatan kopi sebenarnya tidak sulit, selama kebutuhan dasarnya terpenuhi,” tambahnya.

Meski begitu, perjalanan Budi tidak lepas dari berbagai tantangan, terutama saat hama kutu daun menyerang. “Dan untuk hama paling mengganggu yaitu kutu daun (endrak), jadi perlu penyemprotan secara rutin,” jelasnya.

Kini, Kebun Kopi Tlogohaji tidak hanya menjadi tempat riset, tetapi juga menjadi tempat melepas penat bagi Budi. [ppt/fat]

________

Reporter adalah mahasiswi Universitas Bojonegoro (Unigoro), peserta Jurnalistik Trip #1

Tags: BojonegoroJurnalistik TripKebun KopiKopi TlogohajiLilik Budi Witoyo
Previous Post

Jurnalistik Trip #1 Mastumapel.com; Wajah Ceria Jurnalisme Kaki di Bojonegoro

Next Post

Ketika Kopi Menjadi Pembuka Jalan Penghijauan Bojonegoro

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Ketua Tanfidziah MWCNU Ngasem: Menulis Memperpanjang Umur

Ketua Tanfidziah MWCNU Ngasem: Menulis Memperpanjang Umur

02/08/2026
Obrolan Minggu Malam Mastumapel: Ke Mana Arah Jalan Radio di Era TikTok?

Obrolan Minggu Malam Mastumapel: Ke Mana Arah Jalan Radio di Era TikTok?

27/07/2026
Mengenal Sosok Titie Said, Jurnalis dan Novelis asal Bojonegoro yang 2 Periode Pernah Jadi Ketua LSF

Mengenal Sosok Titie Said, Jurnalis dan Novelis asal Bojonegoro yang 2 Periode Pernah Jadi Ketua LSF

20/07/2026
Basofi Soedirman: Gubernur Jatim, Penyanyi dan Anak Jenderal dari Bojonegoro

Basofi Soedirman: Gubernur Jatim, Penyanyi dan Anak Jenderal dari Bojonegoro

14/08/2026
Tawa Riang di Festival Bocah Dolanan  

Tawa Riang di Festival Bocah Dolanan  

17/07/2026
Madrasah Jurnalensa, Ruang Bersama Belajar Jurnalistik Bagi “Jurnalis NU”

Madrasah Jurnalensa, Ruang Bersama Belajar Jurnalistik Bagi “Jurnalis NU”

19/07/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023