Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Mitos & Sejarah

Kisah Tumenggung Aria Sasradilaga Memimpin Perjuangan Rakyat Melawan Belanda

Redaksi
27/11/2023
Kisah Tumenggung Aria Sasradilaga Memimpin Perjuangan Rakyat Melawan Belanda

Lukisan Peristiwa Penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Raden Saleh/Sumber Wikipedia

Penulis: Nanang Fahrudin

Pada 19 Agustus 1827 digelar perundingan antara Stavers dan Kiai Maja. Namun perundingan dari perwakilan Pangeran Diponegoro dan perwakilan Belanda tak membuahkan hasil. Sedang perundingan yang diadakan wakil Belanda Roei dan wakil perlawanan rakyat Tumenggung Mangun Pawiro juga gagal.

Akibatnya, perlawanan rakyat terus berkobar di mana-mana. Termasuk perlawanan di daerah Bojonegoro hingga Rembang yang dipimpin oleh Tumenggung Aria Sasradilaga.

Sosok Tumenggung ini, dalam Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Istimewa Yogyakarta yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1990), menyebut Aria Sasradilaga adalah Bupati Rembang. Namun, dalam buku itu tak disebut secara detail tentangnya. Sedang di buku Bojonegoro dari Masa ke Masa yang diterbitkan Pemkab Bojonegoro (1988), Tumenggung Aria Sasradilaga adalah Bupati Bojonegoro periode 1827-1928.

Sayang, saya belum bisa memastikan apakah Sasradilaga juga tercatat sebagai Bupati Rembang. Jika benar, maka dalam satu waktu, Aria Sasradilaga tercatat sebagai Bupati di dua tempat. Atau setidaknya, tokoh ini punya peran penting di dua tempat tersebut.

Di Buku terbitan Depdikbud tersebut, dikisahkan pertempuran di Rembang dan sekitarnya berlangsung sangat sengit. Jenderal Belanda yang memimpin pasukan Bclandu sangat kewalahan. Sehingga terpaksa meminta bantuan dari daerah lain. Bahkan, Jenderal Holsman jatuh sakit
dan diganti oleh Kolonel Roest. Belanda kemudian banyak mendirikan benteng-benteng pertahanan dengan mengeluarkan banyak biaya. Dan strategi ini berhasil memperkecil perlawanan. Perjuangan rakyat dapat digagalkan. Tumenggung Aria Sasradilaga pun menjadi buronan dan mengembara dengan menyamar sebagai rakyat biasa.

Perjuangan rakyat yang dipimpin Sasradilaga di wilayah Bojonegoro hingga Rembang terus meredup. Sang Tumenggung tak lagi diketahui keberadaannya. Namun, sejumlah sumber menyebut Sasradilaga kemudian berada di Madiun dengan nama samaran hingga meninggal dan dimakamkan di Madiun.

Di buku lain, kita juga bisa melihat bagaimana perjuangan Sasradilaga, terutama di daerah Rembang dan kemudian meluas di sekitarnya. Diantaranya buku berjudul Aku Pangeran Dipanegara karangan J.H. Tarumetor TS terbitan Gunung Agung tahun 1967. Buku setebal 377 halaman tersebut mengisahkan perjuangan Pangeran Diponegoro dan para pembantunya, termasuk Aria Sasradilaga. Buku ini ditulis dengan gaya sastra.

Dalam buku tersebut dikisahkan percakapan Pangeran Diponegoro dengan anaknya yang dikenang dengan Diponegoro Muda. Berikut gambaran percakapannya sebagaimana ada di halaman 202.

“Bagaimana Muda?” tanjanja. “Apa kabar jang kau peroleh?”

“Memang ada kabar penting ajah,” sahut Dipanegara Muda.

“Baru seminggu lalu datang seorang pesuruh dari rakjat Rembang untuk menemui ajah. Seluruh rakjat Rembang sudah mengangkat sendjata melawan Belanda, dibawah pimpinan Raden Tumenggung Aria Sasradilaga………… !”

“Raden Sasradilaga?” katuk Pangeran Dipanegara tiba-tiba.

“Bukankah dia dulu mendjadi perwira didalam pasukan kraton?”

“Benar ajah, dia adalah anak almarhum bupati Radjagwesi
dan seorang saudara perempuannja kawin dengan penghulu-kepala daerah Rembang. Dia mempunjai pengaruh besar didaerah itu. Dengan mudah Pangeran Sasradilaga sudah dapat merebut Radjagwesi dari Belanda dan berturut-turut sudah dikuasainja djuga Bawerna dan Padangan, sedang waktu pesuruh itu berangkat kesini, kota Ngawi sedang berada dalam pengepungan pasukan pasukan rakjat” (hal: 202)

Dari buku tersebut tampak betapa besar api semangat Aria Sasradilaga melawan Belanda. Terutama di wilayah Rembang dan sekitarnya. Di Kabupaten Bojonegoro sendiri, nama Sasradilaga diabadikan menjadi nama jembatan yang membelah sungai Bengawan Solo.

Tags: Aria SasradilagaBojonegoroPangeran DiponegoroRembang
Previous Post

Makanan Lokal Kunci Hidup Makin Berkualitas, Kok Bisa? Ini Penjelasannya

Next Post

Mitos-mitos di Bojonegoro yang Dipercaya Warga, dari Macan Gaib hingga Watu Semar

Comments 1

  1. Ping-balik: Rajekwesi Jadi Kota Perlawanan Sasradilaga Menentang Belanda - Mastumapel

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Cara Mahasiswa PAI Unugiri Merawat Kearifan Lokal Bojonegoro, Lahirkan 5 Buku Antologi

Cara Mahasiswa PAI Unugiri Merawat Kearifan Lokal Bojonegoro, Lahirkan 5 Buku Antologi

13/05/2026
AJI, KPI, dan GMNI Bojonegoro Gelar Aksi Damai Peringati Hari Kartini di Depan Kantor DPRD

AJI, KPI, dan GMNI Bojonegoro Gelar Aksi Damai Peringati Hari Kartini di Depan Kantor DPRD

21/04/2026
Cerita Pengalaman Berkunjung ke Pak Hoery, Penulis Sastra Jawa di Padangan-Bojonegoro

Cerita Pengalaman Berkunjung ke Pak Hoery, Penulis Sastra Jawa di Padangan-Bojonegoro

26/04/2026
JFX Hoery, Merawat Sastra Jawa dengan Karya dan Perpustakaan di Rumahnya

JFX Hoery, Merawat Sastra Jawa dengan Karya dan Perpustakaan di Rumahnya

26/04/2026
JFX Hoery: Umurku Lagi Wolung Puluh Siji

JFX Hoery: Umurku Lagi Wolung Puluh Siji

28/04/2026
Merawat Kemandirian Pangan Lokal Bojonegoro

Merawat Kemandirian Pangan Lokal Bojonegoro

21/04/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023