Buku yang Membaca Buku. Ya, ini buku yang baru selesai saya baca. Buku ini tidak tebal, hanya 93 halaman. Penulisnya Nanang Fahrudin. Buku ini berisi catatan-catatan pengalaman hasil pembacaan penulis akan buku-bukunya.
Mengutip dari catatan pembuka dalam buku itu, oleh Mardi Luhung (penyair asal Gresik), tertulis “sebab lewat buku yang di dalamnya berisi hasil pembacaan, kita akan mendapatkan sebuah gambaran dari sebuah pemikiran yang mungkin berbeda dengan pemikiran kita sendiri. Dan lewat perbedaan pemikiran itulah, kita akan memasuki dunia yang saling membaca. Di mana antara aku yang satu dengan aku yang lainnya, bukanlah berdiri dalam situasi yang bertingkat, melainkan sejajar.”
Lebih lanjut, Mardi Luhung menggambarkannya dengan kata-kata: “aku membacamu, kau membacaku, dan kita membaca dia, juga mereka, juga merekanya mereka. Dan itu membuat kita tahu, jika kita memang bukanlah hal sama, seragam dan hitam putih, tapi sebaliknya. Saling memiliki keunikan”.
Dan benar saja, dalam buku ini memang dikenalkan beberapa macam buku. Kita diajak berkenalan dengan buku, yang menjadikannya lebih akrab dan menjadi hal yang menarik. Saya melihat, ini semacam kumpulan tulisan buku bagus dan dibaca oleh orang hebat. Banyak buku sastra yang dihadirkan mengandung nilai-nilai kehidupan yang mungkin dapat membuka pandangan pembacanya.
Di akhir halaman, catatan penutup, Nanang Fahrudin, penulis buku ini menulis bahwa buku pun menginginkan kado. Penulis mengatakan “buku ini hadir dimaksudkan untuk berbagi pengalaman membaca yang sangat subyektif. Bedanya, apakah pengalaman itu hendak dibagi kepada orang lain atau disimpan saja dalam diri. Dan saya memilih berbagi pengalaman itu.”
Sepanjang saya membaca, sebentar-sebentar saya berhenti membaca, menghela nafas, tersenyum, dan menutup bukunya. Sejujurnya saya tertampar membaca buku ini. Sering kali setelah membaca, apa yang saya baca hilang begitu saja. Kita tahu bahwa pembaca yang bagus adalah pembaca yang mampu meneladani makna-makna penting pada apa yang dibaca. Membaca sastra, misalnya, bisa dikatakan sebuah pengalaman. Apa yang terjadi dalam sastra, kita sebagai pembaca ikut merasa suasana di dalamnya. Jiwa dalam sastra mempengaruhi jiwa kita. Seperti rekreasi jiwa. Namun mungkin setiap kita ada tujuan masing-masing dalam pembacaan sastra. Ketika kita susah, tapi merasa senang dan lega ketika membaca sastra.
Membaca buku ini, saya ikut larut dalam piskologi pembacaan akan buku. Selain mendapat pandangan buku yang baik dibaca, dengan membaca ini saya menemukan gagasan-gagasan dalam setiap bab hasil pembacaan buku yang mungkin akan berbeda. Di setiap tulisan, menyelinap pesan sekaligus tantangan: catatan apa yang sudah saya tulis setelah baca buku?
Saya setuju dengan istilah “menghidupkan sastra” atau mungkin “mematikan sastra”. Dan buku yang saya baca ini memilih menghidupkan sastra. Ia terselip pada pesan lembut atau kasar dari kegiatan pembacaan buku ini. Kadang hal itu saya sadari, dan terkadang tidak.
Ada satu bab yang paling menarik bagi saya. Yakni pembacaan buku yang berjudul Telegram dan Komedi Manusia. Hal itu mengingatkan saya, dengan sependek pemahaman saya, bahwa semesta diciptakan berpasangan, selalu ada dua sisi. Baik dan buruk. Senang ada sedih. Malam ada siang. Dan seterusnya dan seterusnya. Jadi bagaimana pengalaman pembacaan kalian? Terakhir, ternyata saya belum handal dalam menilai.









