Kopi telah lama jadi budaya. Hampir semua daerah punya tradisi ngopi, membuat warkop, kafe, kedai, atau apalah namanya, tumbuh bak jamur di musim hujan. Tapi, penjual kopi satu ini beda, sangat beda. Nama yang dipilihpun bukan warkop atau kedai, tapi toko kopi. Ya, Toko Kopi Dua Saudara.
—-
“Kami sengaja menyuguhkan sesuatu yang beda. Semua kopi di sini ala Singapura, yang kami racik khusus. Makanannya pun demikian,” ujar Imam Mabrurin, owner Toko Kopi Dua Saudara, saat kami temui akhir Mei 2024 lalu.
Bangunannya tak luas-luas amat, namun cukup nyaman. Lokasinya juga strategis, berada di Jl Kapten Martono Bojonegoro. Dekat dengan Mapolres, RS Bhayangkara, dan sejumlah perkantoran serta hotel. Anda punya dua pilihan tempat duduk, apakah suka di dalam ruangan ber AC, atau di luar ruang. Tapi jangan kaget, jika Anda ke sini dan tak mendapatkan tempat duduk alias penuh, Anda harus puas untuk membungkus makanan atau minuman, atau memilih balik saja. Karena pengelola tak menyediakan kursi tambahan.
Toko Kopi Dua Saudara mencoba menghadirkan nuansa Melayu Tionghoa. Nuansa itu sudah mulai terasa saat Anda memarkir kendaraan. Ornamen dan segala macam hiasan dinding menghadirkan nuansa China. Stiker, patung kecil di meja kasir, serta desain papan nama toko, semua bernuansa China. “Kami hadirkan f&b ala Singapura. Karena di Bojonegoro belum ada,” terangnya.
Imam Mabrurin, sang owner lebih dikenal dengan panggilan Uying. Ia mengaku awalnya tak memiliki passion dunia bisnis, apalagi bisnis kopi. Meski ia adalah pecinta kopi, sebagaimana warga Bojonegoro pada umumnya. Apalagi, profesinya sebagai jurnalis, membuatnya lebih sering duduk lama di warkop. “Sehari bisa tiga kali,” katanya sambal tersenyum.
Namun, ia punya keyakinan, bahwa semua bisa dipelajari. Ia melihat potensi adiknya yang punya pengetahuan tetang dunia kopi. Lalu, ia mengajak adiknya membangun bisnis kopi dengan berusaha menghadirkan kultur baru di Bojonegoro dengan konsep kopi tiam. Makanya, nama bisnisnya Toko Kopi Dua Saudara yang berarti bisnis dua saudara: ia dan adiknya. “Kita riset dulu. Dan Alhamdulillah sudah dua tahun kami hadir dan diterima anak-anak muda,” tuturnya.

Dalam proses riset, Uying menuturkan sempat mencicipi berbagai menu, berbagai racikan kopi. Hingga akhirnya, dipilihlah sederet menu andalan. Ada kopi O, kopi C, teh tarik, mi medan, dan beberapa pilihan menu utama lainnya.
“Kopi C mengadopsi dari Singapura. Kopi murni yang dicampur dengan susu. Tapi susu bukan yang kental manis,” katanya.
Menu, warna, ornamen, semua mengarah pada usaha menghadirkan nuansa Singapura. Ada unsur melayu, juga unsur China. Hal ini juga didorong oleh keinginan menyasar target market anak-anak muda Bojonegoro. Mereka adalah para pekerja, mahasiswa, atau siswa. Ia yakin, ada banyak tantangan yang perlu dihadapi di bisnis kopi. Apalagi, Bojonegoro bukan penghasil kopi, meski ada. Tapi kita menghadirkan kopi dari Malang, Aceh dan dari beberapa daerah lain.
“Karena yang pasti target kita adalah untuk harga yang tengah. Jadi tidak murah, tapi juga tidak mahal. Ada Kopi C Kopi O, Kopi Peng, Teh Peng. Kita punya ciri khas sendiri, dengan takaran yang pas,” tuturnya.(nanang fahrudin)
SIMAK YOUTUBE DARINOL









