Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Bojonegoro Timur

Menonton Wayang Kulit di Karangdowo, Lakon Semar Bangun Kayangan

Putri Dharma Yanti
25/08/2024
Menonton Wayang Kulit di Karangdowo, Lakon Semar Bangun Kayangan

Wayang Kulit di Karangdowo/Foto: Putri

Pemerintah Desa Karangdowo, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro menggelar pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Anom Dwijo Kangko dan lakon Semar Bangun Kayangan. Pagelaran kesenian tradisional ini berada di halaman Desa Karangdowo, Kamis (22/8/2024).

Selain wayang kulit, pertunjukan kesenian tradisional itu juga menghadirkan pelawak Cak Percil Cs dari Banyuwangi.

Sejak pukul 19.00 WIB, warga mulai mendatangi halaman balai desa untuk menyaksikan pertunjukan wayang. Mereka terlihat antusias membawa tikar dari rumah. Tak hanya orang dewasa, banyak penonton juga dari kalangan remaja dan anak muda.

Lakon Semar Bangun Kayangan menceritakan seorang Begawan Jatisampurno ingin menyatukan pandawa dan kurawa. Akan tetapi gagal lantaran Ratu Gandari telah bersumpah bahwa pandawa dan kurawa tidak akan bisa rukun sebab berebut tahta negara Ngastina.

Begawan Jatisampurno merupakan guru dari Pandawa sekaligus Kurawa. Ia berausaha merukunkan Pandawa dan Kurawa namun sebenarnya dia berpihak pada Kurawa. Kurawa ingin membunuh Pandawa dengan bantuan dari Begawan Jatisampurno. Begawan Jatisampurno merancang rencana dengan membunuh Semar dan Krisna. Dan baru setelahnya akan membunuh Pandawa. Semar bertempat di kayangan membuat sang Begawan berangkat ke kayangan. Setibanya di gerbang kayangan, ia dihadang Petruk. Lalu terjadilah perangn Bharatayuda antara Pandawa dan Kurawa di tempat yang bernama Kurusetra.

Salah satu penonton, Shofi Fitriani mengaku senang bisa menonton wayang. Apalagi ia suka wayang sejak usia SD.  “Pertama kali saya melihat wayang merasa senang karena terhibur dan merasa bangga, Indonesia memiliki kesenian tradisional yang luar biasa,” jelasnya.

Usai menonton wayang, ia mendapat kesan, bahwa kita harus selalu berhati-hati karena musuh bisa datang dari adalah orang terdekat.

Tags: KesenianSeni BudayaWayang Kulit
Previous Post

Sedekah Bumi di Sumberan Dander, Menari Tayub hingga Tebar Benih Ikan

Next Post

Crita Cekak Jonegoroan Dening Sarwo Muji: Mak Jenthit

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Surasane Tembang Gundhul-Gundhul Pacul

Surasane Tembang Gundhul-Gundhul Pacul

27/10/2026
Festival Ledre, Kopi Ledre, dan Cerita Ledre-Ledre Lainnya 

Festival Ledre, Kopi Ledre, dan Cerita Ledre-Ledre Lainnya 

12/10/2026
Gampang-gampang Susah Jadi Penulis dalam Workshop Literasi IKIP PGRI Bojonegoro Bareng Mastumapel

Gampang-gampang Susah Jadi Penulis dalam Workshop Literasi IKIP PGRI Bojonegoro Bareng Mastumapel

08/10/2026
Bedah Buku “Buruh Tembakau Bojonegoro” di Perpus Unigoro, Nyalakan Literasi dan Merekam Sejarah Lokal

Bedah Buku “Buruh Tembakau Bojonegoro” di Perpus Unigoro, Nyalakan Literasi dan Merekam Sejarah Lokal

30/10/2026
Sombat Sambat Nonton Dokumenter Aib Sang Guru, Suarakan Lawan Kekerasan Seksual

Sombat Sambat Nonton Dokumenter Aib Sang Guru, Suarakan Lawan Kekerasan Seksual

25/10/2026
Manusia Kamar dan Kita Hari Ini

Manusia Kamar dan Kita Hari Ini

19/10/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023

imunify-bot-check