Aku mengenal makanan ini saat masih kecil dan saat itu aku membencinya. Ceritanya waktu itu aku sakit-sakitan dan ibuku membawaku ke dukun. Si dukun meminta ibuku membuat pleret sebagai perantara kesembuhan. Setelah disuwuk, aku harus memakannya. Saat ini, tiga puluh tahun kemudian, ibuku dikenal sebagai pembuat pleret di desaku.
Kata seorang teman, bisa jadi dia keliru, ciri hal yang tradisional adalah adanya kasta. Termasuk jajanan tradisional. Ia mengenal kasta. Kasta tertinggi adalah yang tidak bisa diproduksi dengan mesin modern. Kalau boleh disebut mesin, maka itu adalah manusia dengan keterampilan tangannya. Contohnya adalah mendut, nagasari, iwel-iwel, termasuk pleret. Setahuku belum ada mesin yang bisa membuat makanan-makanan itu. Nah di tulisan ini aku bercerita tentang pleret.
Pleret adalah makanan tradisional yang berbahan utama tepung beras, santan, garam, gula dan pewarna makanan. Kalau ingin aroma tambah wangi bisa ditambahi pandan. Aku tahu bagaimana prosesnya tapi tak bisa melakoninya. Dalam satu bulan minimal sekali aku pasti melihat proses pembuatan makanan jadul ini. Sebab ibuku adalah pembuatnya.
Tetangga samping rumah dan juga orang-orang di desaku sudah mengenal ibuku sebagai pembuat pleret. Saat ada acara pasar UMKM sebulan sekali bernama Pasar Dadakan di desaku, ibuku pasti buka lapak menjual pleret buatannya, selain jadah, wingko dan makanan atau minuman lainnya. Yang jadi primadona adalah pleret. Selalu habis dibeli orang.

Ibuku membuat adonannya pada malam sebelumnya dan memasakknya saat bangun sekitar pukul tiga dini hari. Sebenarnya mulainya pada siang atau sore hari sebelumnya. Pada siang atau sore dia menghaluskan beras hasil panen sendiri ke tukang selep untuk jadi tepung. Kemudian dilanjut mengukus tepung itu, membentuk adonan dan mewarnanya dengan pewarna makanan. Setelah itu dia membentuknya. Proses ini bisa makan waktu cukup lama. Dari habis maghrib sampai sekitar pukul 11 malam untuk empat kilogram beras. Setelah bentuk pleret terbentuk, dia menginapkannya.
Pukul 3 pagi dia bangun dan mengukusnya beserta taburan kelapa. Kelapa turut dikukus agar lebih tahan lama. Setelah matang dikemas dalam plastik mika atau bungkus daun pisang. Habis subuh pleret sudah siap dijual. Dalam semua proses itu aku tidak banyak membantu. Aku selalu melakukan kesalahan saat membantu. Aku hanya membantu di tahap akhir, yaitu mengepak atau membungkusnya kemudian mengantarnya ke lapak.
Sebenarnya aku tidak begitu menyukai pleret. Hanya tidak suka. Bukan tidak doyan. Aku turut makan baik dalam proses icip untuk memastikan kesempurnaan rasa dan bentuk maupun makan ketika sudah jadi. Meski aku tidak suka, aku menyatakan bahwa pleret itu enak. Paling tidak pleret buatan ibuku.
Saat ada kenduri acara Kaleman (tradisi saat bulir padi mulai kelihatan) sawah di desaku, orang-orang juga memesan pleret ke ibuku. Pada akhir tahun lalu aku menyaksikan sendiri orang-orang lalu lalang ke rumahku untuk memesan pleret ke ibuku. Dalam dua hari ibuku sibuk membuat pleret pesanan orang-orang. Aku juga tak membantu dalam proses pembuatan. Aku hanya ikut membantu membungkus dan mengantarnya ke pemesan.
“Nek ora biasa yo kangelan, Le,” kata ibuku menjelaskan faktor kebiasaan menjadi kunci keberhasilannya membuat pleret.
Bentuk pleret yang kuketahui ada dua. Ada yang bentuk bekicot. Ada yang berbentuk ulat. Keduanya dianggap hama untuk tanaman di dunia pertanian. Dengan memakannya, harapannya tanaman jauh dari hama. Kira-kira begitu.

Di tempatku pleret disajikan dengan taburan kelapa yang langsung siap makan. Di daerah Magelang beda lagi. Pleret disajikan sebagai minuman. Es pleret semanggi namanya. Pleret dalam gelas, dituang santan dan gula dan es batu. Mirip es dawet. Aku pernah menjajalnya saat berkunjung ke Magelang dua tahun lalu.
Aku tidak menyanyai ibuku dari mana dia bisa membuat pleret. Aku tahu sejak dulu saat aku masih kecil dia sudah bisa.
Aku punya ikatan historis dengan makanan ini saat kecil dan itu tak bisa kulupa. Membekas kuat. Lekat dengan penyakit dan klenik. Ceritanya saat kecil dulu aku sakit-sakitan. Selangkanganku penuh borok. Bertahun-tahun tidak sembuh meski berbagai jenis obat sudah dicoba. Dari yang cair, padat, dengan disuntikkan di bokong maupun dioleskan maupun diminum atau dimakan. Termasuk pleret ini. Ini pernah jadi media penyembuhan.
Ceritanya ada seorang pintar yang didatangi ibuku sebagai ikhtiar menyembuhkanku. Dia banyak didatangi orang sakit. Saat datang aku dijampi-jampi sambil dielus kepalaku. Setelah itu dia menyuruh ibuku datang lagi di lain hari sambil membawa pleret, boleh bentuk bekicot, tapi yang harus ada adalah bentuk ulat. Nantinya pleret itu akan dibacakan jampi-jampi, atau mantra, atau doa, kemudian pleretnya harus kumakan. Supaya ulat yang membuatku gatal-gatal bisa mati. Kira-kira begitu.

Seingatku cara itu tidak manjur. Penyakitku masih tidak sembuh. Dia bahkan sempat mengagnti namaku. Barangkali menurutnya namaku terlalu berat. Tidak cocok buatku sehingga membuatku kena penyakit. Banyak pasiennya yang diganti nama jadi cepat sembuh. Saat itu dia memberiku nama Lugiono. Dia mencari tahu wetonku dulu. Wetonku adalah Legi. Tepatnya Minggu Legi. Bagaimana dari Minggu Legi bisa dapat nama Lugiono, aku tak tahu. Itu juga tidak manjur. Penyakitku sembuh malah tanpa pengobatan apa-apa. Kubiarkan saja saat aku masuk pesantren di Tuban. Seingatku tak sampai genap tiga bulan, penyakitku yang menahun itu lenyap. Padahal bisa dibilang makananku kurang efisien di pesantren dulu. Minum saja air keran yang keruh.
Aku tidak tahu nama orang pintar itu. Aku masih ingat desa tempat dia tinggal karena dekat dengan rumah kerabat. Kadang aku ingin menemuinya. Sekadar menyapa masih ingatkah dulu dia menyuruhku memakan pleret jenis ulat dan doa apa yang dia baca. Aku juga ingin bertanya bagaimana dia bisa menemukan nama Lugiono dan memberikannya padaku. Tapi itu hanya sekadar keinginan.
Mungkin saja orang itu sudah meninggal. Saat itu usiaku belum sepuluh tahun dan orang itu kira-kira limapuluh tahunan. Sekarang aku 37 tahun. Kalau dia masih hidup umurnya sudah lebih 100 tahun. Siapa yang bisa bertahan lebih dari 100 tahun zaman ini.

Kembali lagi ke pleret sebagai sebuah makanan. Kehormatan sebuah makanan adalah ketika dia dimakan. Begitu juga dengan pleret. Bukan untuk dijadikan obrolan atau review. Aku menghormati pleret dengan memakannya. Setiap bulan pasti aku memakannya sambil membantu ibuku mengemas dalam plastik mika atau bungkus daun pisang.
Kalau Anda ingin makan pleret, datanglah ke desaku pada hari Minggu pada awal minggu pertama setiap bulan. Desaku namanya Klampok. Sebuah desa yang kecil di Kecamatan Kapas. Bojonegoro. Datanglah pagi-pagi. Habis subuh juga tak apa-apa. Sebab pukul 7 aku berani menjamin pleret jualan ibuku sudah habis.









