Dr. Umar Kayam (1983), seorang sosiolog yang juga sastrawan, menyebut dunia arsitektur rumah di jawa, tak bisa lepas dari konsep karang kitri. Hal ini dikaitkan dengan keselarasan dan keseimbangan masyarakat saat mendirikan rumah. Sayang, tradisi karang kitri ini tak banyak yang melestarikan.
Apa sih karang kitri? Secara sederhana, karang kitri adalah budaya memanfaatkan pekarangan rumah untuk ditanami berbagai tanaman. Seperti sayuran, buah-buahan serta rempah-rempah (empon-empon).
Tradisi karang kitri, kini tak banyak yang menjalaninya. Rumah-rumah masyarakat makin minim pekarangan. Bentuk arsitekturnya pun memilih gaya barat, atau desain minimalis. Kalaupun ada pekarangan, kebanyakan dibiarkan kosong, tanpa ditanami aneka kebutuhan dapur sehari-hari.
Siti Murtini dan Cerita Kebunnya
Tapi, tak semua warga meninggalkan konsep karang kitri ini. Warga di pedesaan masih banyak yang melakukannya. Salah satunya, Siti Murtini (43) warga Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro.
Murtini memiliki lahan tidak begitu luas di belakang rumahnya. Meski demikian lahan itu disulap menjadi kebun aneka tumbuhan. Kesenangan menanam, diakuinya sejak dia masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Tumbuhan yang terdapat di sekeliling rumah ibu dua anak tersebut meliputi pandan, kemangi, singkong, daun sereh, pisang, cabai, lumbu, ketela, cabai, tomat, jeruk purut, kunir, belimbing, dan kedondong.
Rumah Murtini tepatnya berada di RT 13 Desa Ngraho. Pekarangan yang terletak di belakang rumahnya terlihat hijau dan asri. Sebagian tumbuhan berada di samping rumah, seperti daun sereh, dan pisang. “Ada rasa senang melihat tanaman bisa tumbuh, selain itu juga bermanfaat dan menghasilkan uang,” tuturnya, Rabu (1/1/2025) saat ditanya alasan mengapa menanam aneka tumbuhan di pekarangannya.
Menanam baginya adalah mendatangkan kesenangan. Jika dilihat menghijau, hatinya terasa senang. Dan jika tumbuh subur, hasilnya biasanya ia dijual. “Seperti daun sereh, daun pandan, tumbuh lebih banyak bisa saya jual,” jelasnya.
Ada beberapa cara yang dilakoni Murtini agar aneka tanaman bisa tumbuh di pekarangannya. Ia mencontohkan, saat cabai dan tomat yang dibeli ternyata telah busuk, Murtini tidak lantas membuang begitu saja, Murtini akan menyebarkan biji cabai dan tomat yang telah busuk di pot-pot sederhana yang dia buat dari sisa wadah minyak goreng yang besar dan di polibeg hingga tumbuh bibit. Kemudian bibit dipisah dan ditanam menyendiri. Murtini merawat tumbuhannya dengan memberikan pupuk yang diambil dari kotoran hewan yang dia ternak, yakni kotoran kambing.
“Setelah makan buah, bijinya saya taruh di lahan kosong, kemudian tumbuh sendiri,” jelasnya.
Mbah Warsini Berbagi dengan Tetangga
Kecintaan menanam aneka tumbuhan di pekarangan juga dilakukan Mbah Warsini yang tak lain ibu dari Murtini. Rumah Mbah Warsini berada di samping rumah Murtini. Mbah Warsini, ibu Murtini bercerita, dulu, suaminya, ketika pergi untuk membayar listrik di desa tetangga, pulangnya membawa bibit nangka.
Mbah Warsini kemudian menunjukkan pohon nangka di depan dan belakang rumahnya. Bibit nangka berasal dari warga tetangga desa.
Selain itu, Mbah Warsini menjelaskan, daun lumbu yang ditanam di belakang rumah, bibitnya berasal dari lumbu yang hidup di pinggiran Bengawan Solo. Dia kemudian mengambil untuk ditanam. Bibit lainnya didapat dari meminta tetangga yang telah menanamnya terlebih dulu, seperti singkong dan daun kemangi.
“Ketika ingin masak sayur asam, tidak perlu beli untuk setangkap daun ketela. Tinggal ambil di belakang rumah,” tutur Mbah Warsini.
Jika ada tetangga yang butuh, ia akan mempersilahkan untuk mengambil sendiri di pekarangannya. Kegiatan menanam dilakukan Mbah Warsini untuk melanjutkan kegiatan yang pernah dilakukan oleh orangtuanya dulu.
Ya, kegiatan menanam pekarangan dengan aneka tanaman produktif. Dan inilah budaya karang kitri yang perlu dilestarikan.









