Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Bojonegoro Utara

Tradisi Kupatan Nisfu Sya’ban Jelang Ramadhan, Cara Warga Bringan Bersyukur dan Berbagi  

Eni Puspita Sari
16/02/2025
Tradisi Kupatan Nisfu Sya’ban Jelang Ramadhan, Cara Warga Bringan Bersyukur dan Berbagi  

Tradisi Kupatan Nisfu Sya’ban Jelang Ramadhan, Bersyukur dan Berbagi

Ketupat itu mengaku lepat. Lepat adalah bersalah atau khilaf. Makna itulah yang hendak diraih masyarakat dengan menggelar kupatan di malam Nisfu Sya’ban. Seperti yang dilakukan warga Dusun Bringan, Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Kamis (13/02/2025).

“Di malam Nisfu Sya’ban, buku amal perbuatan manusia diganti menjadi baru, kosong lagi,” tutur Salim sesepuh Dusun Bringan.

Slametan ketupat pada malam Nisfu Sya’ban, lanjut Salim, diartikan sebagai salah satu bentuk sedekah dan ungakapan rasa syukur.

Jika ketupat bermakan mengaku salah kepada Allah SWT, maka lontong dan lepet itu gandengannya sebagai tambahan agar makin lengkap. “Pada malam Nisfu Sya’ban ini kita sama-sama banyak berdoa, minta ampun kepada Gusti Allah,” tambahnya.

Tahun 2025 ini Nisfu Sya’ban bertepatan pada Jumat 14 Februari 2025. Malam Nisfu Sya’ban diperingati pada 14 Sya’ban, waktunya setelah maghrib. Sehingga dalam hitungan kalender Masehi jatuh hari Kamis 13 Februari 2025 setelah magrib. Beberapa daerah di Indonesia termasuk Bojonegoro dan sekitarnya, malam Nisfu Sya’ban diperingati dengan melakukan amalan-amalan dan doa serta tradisi kupatan. Tradisi ini tidak jauh beda dengan tradisi kupatan setelah 7 hari lebaran Idul Fitri, namun pelaksanaannya yang berbeda. Tradisi kupatan malam Nisfu Sya’ban dilaksanakan sore setelah magrib.

Malam Nisfu Sya’ban diperingati masyarakat Dusun Bringan, Desa Ngraho, Kecamatan Gayam dengan tradisi kupatan. Kamis (13/02) siang, setelah dhuhur, warga sudah mulai proses membuat kupat, lontong dan lepet.

Cara Membuat Ketupat

Warga memasak ketupat dan lontong/Foto: Eni

Saya melihat proses masak lontong dan ketupat yang dilakukan salah seorang masyarakat Dusun Bringan. Siti Salamah (66) sedang memarut kelapa untuk diambil santan sebagai salah satu adonan sayur lodeh. Sambil menunggu ketupat dan lontong matang direbus, kami mengobrol. 

“Dulu, siapa yang mengajari membuat ketupat?”

“Melihat saja bagaimana cara ibu membuat ketupat, dulu. Tidak diajari, saya coba membuat terus jadi bisa,” jawabnya.

Dia melanjutkan ceritanya. “Ketika itu memasak ketupat jumlah banyak, karena janur yang digunakan milik sendiri. Malahan janur lebih, sampai bisa dijual. Sekarang janurnya beli, jadi buat sedikit. Pohon kelapanya sudah jarang ada,” ungkapnya.

Tradisi Nisfu Sya’ban dengan membuat ketupat, lontong telah diketahui Siti sejak dulu ketika masih kecil. Dia mengatakan, mengikuti apa yang dilakukan orang tua dulu. Cara memilih janur yang baik untuk dibuat ketupat, dijelaskan Siti yakni memilih janur yang berwarna putih.

“Ketupat dan lontong diisi 1/3 beras yang telah dipesusi (dibersihkan), bisa disesuaikan dengan ukuran ketupat dan lontong. Kemudian direbus selama 3 jam. Untuk lontong cara rebusnya diletakkan berdiri, kalau ketupat cukup diletakkan terserah ketika merebus,” jelasnya.

Berkat yang dibawa warga saat Kapatan di Bringan/Foto: eni

Ia menyebut ada dua jenis ketupat. Pertama dinamai ketupat luar, dan kedua dinamai ketupat biasa. Ketupat luar adalah ketupat yang bentuknya menyerupai persegi panjang atau jajaran genjang. Sedangkan ketupat biasa yakni seperti ketupat pada umumnya berbentuk layang-layang. Kini dia membuat ketupat dengan bentuk biasa.

Ketupat, lontong dan lepet serta alu-alu (serupa dengan lepet) yang dibuat oleh warga Dusun Bringan RT 13  kemudian dibawa ke masjid atau musholla. Berkat yang dibawa berupa  3 hingga 4 kantong keresek berisi 3 hingga 5 biji lontong, beberapa ketupat, lepet dan alu-alu, ditambah sayur lodeh atau sejenisnya.

Pengalaman Generasi Muda Ikut Kupatan

Lontong di dépure warga Bringan/Foto: Eni

Suasana sore yang diguyur hujan, membawa hawa sejuk. Hujan reda ketika masuk waktu magrib. Satu persatu warga datang di musholla dengan menggunakan sepeda motor, sebagian ada yang berjalan kaki, sambil ada yang sudah membawa berkatnya. Beberapa lagi ada yang baru mengambil berkatnya setelah sholat maghib.

Setiap anggota keluarga, tak terkecuali anak-anak ikut datang, sehingga suasana menjadi ramai namun tetap tertib. Kegiatan diawali dengan membaca surat yasin sebanyak tiga kali, dalam pembacaan surat yasin ini masyarakat juga membawa air putih berwadah botol yang dibiarkan membuka diletakkan di tengah-tengah lingkaran duduk masyarakat dengan keyakinan supaya air menjadi berkah. Kemudian dilanjut dengan pembacaan tahlil. Setelah doa dibacakan oleh Kiai musholla, warga bersuka cita membagi berkat sama rata kepada setiap orang yang datang di mushola Al Mashadi.

“Senang karena bisa kumpul- kumpul, dan dapat berkat. Saya lebih suka makan lepetnya,” kata Wildan, remaja usia 20 tahun, yang ikut dalam acara. Diakuinya untuk membuat ketupat dia belum bisa.

Tags: KupatanNisfu Sya'banRamadhan
Previous Post

Mengukuhkan Gerakan Literasi, Catatan Bedah Buku Antologi Mahasiswa UNUGIRI Bojonegoro

Next Post

Pasamuwan Ageng PSJB, Lan Kepyakan Pengurus Anyar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

7 Pelajaran Usai Nonton Na Willa, tentang Pola Asuh hingga  Cara Melihat Semesta

7 Pelajaran Usai Nonton Na Willa, tentang Pola Asuh hingga Cara Melihat Semesta

08/04/2026
ARSIP: Atas Angin Vol 6 Tahun 2014, Wawancara Martin Aleida dan Joko Pinurbo

ARSIP: Atas Angin Vol 6 Tahun 2014, Wawancara Martin Aleida dan Joko Pinurbo

17/04/2026
Bupati Setyo Wahono: Perlu Membangun Identitas Bojonegoro

Bupati Setyo Wahono: Perlu Membangun Identitas Bojonegoro

25/03/2026
MASTUMAPEL (Sejarah, Heritage, Kuliner): Menghadirkan Lokalitas di Tengah Universalitas

MASTUMAPEL (Sejarah, Heritage, Kuliner): Menghadirkan Lokalitas di Tengah Universalitas

22/03/2026
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono: Guru Harus Berjiwa Mendidik, Bukan Mengajar

Bupati Bojonegoro Setyo Wahono: Guru Harus Berjiwa Mendidik, Bukan Mengajar

07/04/2026
Setyo Wahono: Bojonegoro Tak Hanya Minyak, Tapi Juga Kaya Budaya

Setyo Wahono: Bojonegoro Tak Hanya Minyak, Tapi Juga Kaya Budaya

14/04/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023