Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Sosok

Ajun Pujang Anom, Mendidik Karakter Anak Lewat Sastra Jawa  

Mukaromatun Nisa
12/03/2025
Ajun Pujang Anom, Mendidik Karakter Anak Lewat Sastra Jawa  

Ajun Pujang Anom

Bahasa Jawa, sebagai bahasa ibu masyarakat Jawa, kini menghadapi tantangan besar. Perubahan zaman dan pengaruh bahasa lain menyebabkan generasi muda semakin jarang menggunakannya dalam komunikasi sehari-hari.

Ajun Pujang Anom, seorang pendidik dan pegiat sastra Jawa di Bojonegoro, menemukan kenyataan yang mengejutkan: anak-anak di desa yang dulu dikenal fasih berbahasa Jawa kini justru lebih kesulitan dibandingkan anak-anak di kota.

Ajun yang memiliki pengalaman mengajar selama 12 tahun di kota Bojonegoro, dan kemudian pindah ke desa, yakni di wilayah Kecamatan Ngraho, Kabupaten Bojonegoro. Dari kota, jaraknya cukup jauh sekitar 50 km. Ia melihat anak-anak di desa, ternyata malah kebanyakan menggunakan bahasa Indonesia.

Hal itulah yang kemudian membuatnya semakin terdorong untuk mengembangkan metode unik dalam mengajarkan bahasa dan sastra Jawa kepada anak-anak, tidak hanya untuk melestarikan bahasa, tetapi juga membangun karakter mereka.

Kesulitan dalam Mengajarkan Bahasa Jawa

Ajun, yang aktif di Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB) ini, mengaku mengajarkan bahasa Jawa jauh lebih sulit dibandingkan mengajarkan bahasa lain, seperti bahasa inggris. Salah satu tantangan terbesar adalah kekayaan makna dalam satu kata. Contohnya, kata “kaca” dalam bahasa Jawa bisa berarti cermin. Tapi juga bisa bermakna halaman buku. Sehingga anak-anak sering mengalami kebingungan dalam penggunaannya.

Selain itu, tingkatan bahasa Jawa—ngoko hingga krama—membuat banyak orang merasa khawatir salah dalam penggunaannya, sehingga mereka lebih memilih berbahasa Indonesia.

Ajun juga menyoroti kesalahan yang sering terjadi dalam penggunaan bahasa Jawa di kalangan guru muda. Misalnya, mereka sering keliru dalam membedakan kata “maringi” dan “ngaturi” ketika memberikan sesuatu kepada orang lain.

“Jika guru saja keliru, maka anak-anak yang diajar pun akan lebih sulit memahami penggunaan bahasa yang benar,” tuturnya sebagaimana dikutip dari YouTube dariNOL.

Strategi Ajun dalam Mengajarkan Bahasa dan Sastra Jawa

Ajun Pujang Anon bersama host dariNOL Iwan Siswoyo

Ajun tidak menyerah dengan tantangan tersebut. Ia kemudian mengembangkan metode pembelajaran yang lebih sederhana dan menyenangkan, dengan prinsip bahwa yang terpenting adalah anak-anak tetap menggunakan bahasa jawa, meskipun dalam bentuk ngoko terlebih dahulu. Dari situ, mereka akan berproses secara alami untuk memahami tingkat bahasa yang lebih tinggi.

Beberapa pendekatan yang ia gunakan antara lain yang pertama adalahpemahaman bertahap. Anak-anak diperkenalkan dengan bahasa Jawa ngoko terlebih dahulu agar mereka lebih percaya diri dalam berbahasa Jawa. Setelah terbiasa, mereka perlahan-lahan diarahkan untuk memahami krama inggil dengan fokus pada kosakata yang sering digunakan.

Kedua, belajar melalui sastra. Ajun mengajak anak-anak untuk menulis cerita pendek atau cerita cekak (cerkak) dan naskah dialog (pacelathon) yang kemudian mereka peragakan dalam bentuk drama. Metode ini terbukti efektif dalam meningkatkan penguasaan bahasa secara alami.

Ketiga, metode permainan. Ajun menciptakan berbagai permainan berbasis bahasa Jawa untuk memudahkan anak-anak dalam belajar, seperti Bowling Hanacaraka, di mana botol bekas ditandai dengan aksara Jawa dan digunakan untuk permainan edukatif. Sebisa mungkin bahan yang digunakan adalah bahan daur ulang agar mudah didapat dan mengena di hati anak-anak.

Keempat, mengenalkan dialek lokal. Ajun juga mengenalkan dialek Bojonegoro agar anak-anak tidak kehilangan ciri khas bahasa Jawa di daerah mereka. Misalnya “nayoh” yang berarti gampang.

Kelima, memanfaatkan teknologi. Selain pendekatan konvensional, Ajun juga mengenalkan penggunaan teknologi seperti Canva dan PowerPoint untuk pembuatan media pembelajaran bahasa Jawa. Selain berharap anak-anak bergerak secara aktif membuat media pembelajaran dari daur ulang, ia juga ingin anak-anak menggunakan teknologi yang sekarang berkembang. Ke depan, ia berencana memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk lebih mempermudah pembelajaran bahasa Jawa.

Mencetak Buku untuk Anak-anak

Selain mengajar, Ajun juga membimbing anak-anak untuk menulis dan menerbitkan buku antologi yang berisi karya mereka sendiri. Sayangnya, buku-buku ini hanya dicetak dalam jumlah terbatas, sekitar 10-20 eksemplar, dan hanya dikonsumsi oleh anak-anak serta beberapa guru. Namun, bagi Ajun, karya tersebut memiliki nilai sentimental yang besar karena menjadi kenangan dan bukti nyata perkembangan kemampuan menulis anak-anak.

 

Pendidikan Karakter Melalui Bahasa dan Sastra

Bagi Ajun, sastra bukan hanya soal keindahan bahasa, tetapi juga media untuk menanamkan karakter kepada anak-anak. Dalam proses menulis dan bermain drama, anak-anak belajar untuk berpikir kritis, kreatif, dan berani mengungkapkan ide mereka. Selain itu, mereka juga belajar menghargai perbedaan dialek, memahami etika berbahasa, serta menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya mereka sendiri.

Sebagai seorang pendidik, Ajun juga menekankan pentingnya memberikan ruang bagi anak-anak untuk belajar tanpa takut salah. Dalam proses belajar bahasa, kesalahan adalah bagian yang wajar dan justru menjadi tanda bahwa mereka sedang berproses. Dengan pendekatan ini, ia berhasil menumbuhkan semangat anak-anak untuk lebih mencintai dan menggunakan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari.

Ajun Pujang Anom menjadi salah satu contoh nyata bahwa inovasi dalam pembelajaran bahasa dan sastra Jawa dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan efektif. Dengan metode yang ia kembangkan, ia tidak hanya berhasil mengajarkan bahasa Jawa kepada anak-anak, tetapi juga menanamkan nilai-nilai karakter dan kecintaan terhadap budaya sendiri.

Melalui sastra, permainan, dan teknologi, ia membuktikan bahwa bahasa Jawa bukanlah sesuatu yang kuno atau sulit dipelajari, tetapi bisa menjadi bagian yang hidup dan dinamis dalam kehidupan anak-anak zaman sekarang.

Tags: Ajun Pujang AnomBojonegoroSastra Jawa
Previous Post

Pasa: Antaraning Religi Lan Tradhisi

Next Post

Crikak Bojonegaran: Pasanem Wis Mokel Gung?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Bupati Bojonegoro Setyo Wahono: Guru Harus Berjiwa Mendidik, Bukan Mengajar

Bupati Bojonegoro Setyo Wahono: Guru Harus Berjiwa Mendidik, Bukan Mengajar

07/04/2026
Peringati Hari Kartini 2026, Perpustakaan Unugiri Gelar Talk Show Woman Campus in Kartini Days

Peringati Hari Kartini 2026, Perpustakaan Unugiri Gelar Talk Show Woman Campus in Kartini Days

21/04/2026
Konser Intimate Bagus Dwi Danto di Bojonegoro, Pertama Kali Bawakan Lagu dengan Formasi Band

Konser Intimate Bagus Dwi Danto di Bojonegoro, Pertama Kali Bawakan Lagu dengan Formasi Band

08/04/2026
JFX Hoery, Merawat Sastra Jawa dengan Karya dan Perpustakaan di Rumahnya

JFX Hoery, Merawat Sastra Jawa dengan Karya dan Perpustakaan di Rumahnya

26/04/2026
Garis Batas: Perjalanan Menyingkap Makna Kehidupan

Garis Batas: Perjalanan Menyingkap Makna Kehidupan

16/04/2026
Peringati WPFD 2026, AJI Bojonegoro Gelar Diskusi Merawat Kemerdekaan Pers untuk Publik

Peringati WPFD 2026, AJI Bojonegoro Gelar Diskusi Merawat Kemerdekaan Pers untuk Publik

04/05/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023