Sore itu, Sabtu (5/4/2025), air Bengawan Solo di depan Hela Coffeshop tampak lebih tinggi dari biasanya. Sampah-sampah rumah tangga ikut bergerak mengiringi deras air mengalir menuju muara. Di antara daun-daun pisang yang memanjang, beberapa orang sibuk menata buku, membersihkan meja, untuk lapak baca di acara NgaostikFest ke-12.
Bunga kamboja merah muda yang mekar memancarkan pesonanya. Dan beberapa berguguran menerbangkan semerbak harum.
Beberapa pengunjung NgaostikFest duduk di karpet dan mulai membaca setelah memilah-milah buku, ditemani kopi atau minuman kekinian dari dapur Hela Coffeshop. Mereka menyebut sesi bincang dan ngopi sore hari tersebut sebagai Ngaosilaturahmi dan Ngaoskopi.
Semakin matahari menggelincir ke barat, semakin banyak pengunjung yang datang. Dan petang membuat mereka makin asyik duduk melingkar lalu menggelar Ngaoskusi Literasi. Pembahasannya seputar literasi khususnya di Kota Ledre.

Bagi A. Wahyu Rizkiawan salah satu peserta diskusi, literasi melihat zaman dengan ilmu pengetahuan. “Membaca perasaan juga bagian dari literasi,” ujar Rizki.
Ferri, peserta diskusi yang lain menimpali bahwa gerakan literasi di Bojonegoro sudah masif dari sejak beberapa tahun silam. Terbukti dengan beberapa kegiatan lapak baca buku gratis yang digelar oleh beberapa komunitas seperti Angkringan Baca Emperan (ABE), Perpustakaan Jalanan, dan lain-lain.
Acara berlanjut dengan penampilan-penampilan dadakan dari peserta yang hadir, baik dari lokal maupun luar kota bahkan luar pulau. Panggung kecil disiapkan untuk meramaikan acara. Ada yang membaca puisi sendiri ataupun karya penyair lain, baik diiringi musik maupun tanpa musik. Mereka menyebutnya Pusikalisasi Musik.
Lanjut penampilan Musikalisasi Keadaan dimeriahkan oleh lagu Agung Ridwan yang berjudul ‘Aku Wis Lesu’. Lagu ‘Hujan’ yang dibawakan Okky juga menemani malam yang berlangit cerah. Sambil duduk-duduk, pengunjung sesekali bisa menengok jembatan Sosrodilogo yang berkerlap-kerlip di belakang kursi pentas.
NgaostikFest ke-12 kali ini makin kaya. Karena juga ada Ngaostrorytelling, Ngaos-Up Comedy, Debus (Dendang Buku dan Syair) dan Pencak (Penampilan Cah Kene). Perayaan-perayaan membaca, diskusi dan berekspresi tersebut menjadi harapan untuk menyembuhkan mala atau luka, “Membaca menerangi petheng dhedhetnya Indonesia hati kita”.

NgaostikFest 12 Hadir Setelah 5 Tahun
Menurut Agung Ridwan, salah satu yang membantu persiapan NgaostikFest 12. Acara Ngaostik pertama kali digelar pada tahun 2017 yang diinisiasi oleh Rizki dan Bhagas. NgaostikFest merupakan wadah berkumpulnya komunitas-komunitas literasi, seni, lingkungan dan lain-lainnya baik dari Bojonegoro maupun luar Bojonegoro.
Setelah fakum hampir 5 tahun, tahun 2025 ini, NgaostikFest kembali hadir dengan tema ‘Baca Alam Semesta; Acab Mala Semesta’. Acab merupakan kebalikan dari Baca, atau juga merupakan A.C.AB. Atau All Cops Are Bastards, akronim yang digunakan sebagai slogan dalam grafiti, tato, dan gambar lain untuk memprotes perilaku polisi yang tidak etis, dan polisi pada umumnya.
Sedangkan Mala sendiri dalam Bahasa Jawa memiliki makna penyakit, bencana, dan luka. Melalui membaca yang tidak hanya membaca buku, pengunjung NgaostikFest diajak untuk sama-sama menyembuhkan Mala Semesta.
Bagi Tohir, salah satu pengunjung, Ngaostik sendiri merupakan sebuah makhluk yang bersemayam di hati manusia. Ia berharap, ke depannya Ngaostik tetap membara. “Meski Ngaostik tidak ada, tetapi Ngaostik (energi dalam diri) tetap ada,” ungkapnya.
Dirga yang merupakan mahasiswa salah satu kampus di Tuban, merasa Ngaostik seru karena ada lapak baca buku. Ia merasakan Ngaostik membawa dampak positif dengan menyuguhkan wawasan baru seputar dunia literasi.

“Adanya sesi diskusi saya jadi tahu kalau belajar tentang literasi itu tidak semudah itu dan pengalaman pribadi dari teman-teman yang membuka perpustakaan menjadi wawasan baru bagi saya,” terangnya.
Namun, ia menyayangkan karena acara cukup molor lama. Di flyer yang menyebar, acara dimulai pukul tiga sore, tapi baru dibuka beberapa jam kemudian. “Dari segi jam sepertinya terlalu telat, sih. Agak capek juga nungguin, haha,” kelakarnya.
“Dan itu mungkin wajar kalau dilihat acaranya juga baru berjalan setelah 5 tahun off kan,” pungkasnya.
Mawar, pengunjung lain mengapresiasi NgaostikFest yang digelar anak-anak muda Bojonegoro ini. Menurut dia, semangat Ngaostik sangat bagus sebagai permulaan dari kegiatan yang sudah nggak berjalan sejak covid-19. “Tapi mungkin bisa diarahkan kedepannya forum Ngaostik itu mau didesain jadi forum seperti apa. Karena harusnya forum keren seperti itu bisa lebih bermanfaat dari sekadar kumpul-kumpul, diskusi, dan lihat orang baca puisi,” terangnya.









