Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB) berulang tahun, atau dalam bahasa jawa disebut ambal warsa, yang ke 43. Pagi yang mendung itu, Minggu (6/7/2025), di bagian paling timur Bojonegoro tepatnya di Perumahan Gajah Indah Blok O No. 18-19 Baureno, acara ambal warsa PSJB ke-43 digelar.
Gang di depan Sanggar Sastra PSJB yang merupakan rumah Suwarno atau yang kerap disapa Nono Warnono disulap menjadi panggung sederhana dengan beberapa meja dan kursi penonton yang ditutup kain serba putih dan hijau.
Nono Warnono yang kini menjadi Ketua PSJB menyambut para tamu dengan ramah. Ia menggunakan batik seragam PSJB, bercelana hitam, memakai belangkon dan bersepatu selop.
Tamu-tamu yang hadir pun juga memakai dress code yang sama. Beberapa ada yang mengenakan pakaian khas Samin, berbaju serba hitam dengan memakai udheng motif Obor Sewu. Ada pula yang memakai baju garis-garis warna cokelat-hitam yang nyentrik. Tamu perempuan juga ada yang memakai rok jarik dan kebaya. Semua tamu rata-rata memakai identitas khas Jawa.
Sambil menunggu tamu lainnya, gending-gending dimainkan melalui sound system khas seperti suasana mantenan. Tamu yang terdiri dari anggota PSJB, seniman, sastrawan, guru Bahasa Jawa, dan semua yang menyukai Jawa saling berbincang hangat ditemani kopi dan beberapa jajan tradisional seperti jenang kelobot yang dibungkus daun jagung dan juga ketan salak yang dibungkus daun pisang.
Sekitar pukul sebelas, acara dimulai dan dipandu oleh Lila, guru Bahasa Jawa yang sumeh dan ceria. Beberapa anggota PSJB bergantian naik ke panggung untuk unjuk karya. Ada yang membaca geguritan, macapat, nembang, nggending dan lain-lain. Yang paling khas adalah, rata-rata anggota PSJB bersuara merdu dan berbahasa Jawa fasih. Hampir tiap rangkaian acara dibawakan dengan bahasa jawa yang lanyah.
PSJB dan Perannya dalam Pelestarian Jawa di Bojonegoro

Usai beberapa penampilan, sebagai tuan rumah sekaligus ketua PSJB, Nono Warnono memberikan sambutan yang semuanya hampir full menggunakan Bahasa Jawa Krama Alus. PSJB, menurut Nono, sedang menyusun modul pembelajaran bahasa Jawa untuk kurikulum Jawa Timur tingkat SD dan SMP.
PSJB juga tengah menulis kumpulan tembang untuk dikirimkan dalam penghargaan Sutasoma. Menilik kiprah PSJB, setidaknya sudah ada 50 karya berbentuk buku sastra Jawa dan Indonesia yang telah dilahirkan. Juga banyak penghargaan, seperti Sutasoma, Rancage dan Balai Bahasa yang disabet para anggotanya.
PSJB yang rata-rata beranggota para orang tua, nyala semangat untuk melestarikan Sastra Jawa senantiasa muda; berkobar dan membara.
Diksi Pamarsudi; Simbol Persatuan PSJB
Sebagai simbol rasa syukur bertambahnya usia, ada sesi pemotongan tumpeng oleh Nono Warnono yang lalu diserahkan kepada JFX Hoery yang merupakan salah satu pendiri PSJB sekaligus Ketua PSJB sebelumnya. Keduanya tersenyum memperlihatkan potongan tumpeng di atas piring. Garis-garis wajah mereka saat tersenyum menyimbolkan perjalanan PSJB yang panjang.
Hoery yang datang bersama istri memberikan beberapa patah kata yang juga full dalam Bahasa Jawa Krama Alus. Ia berkisah, PSJB lahir ketika Orde Baru memimpin di tahun 1982 tepatnya tanggal 6 Juli.
Ia yang saat itu juga mengenakan seragam PSJB dan bertopi hitam, menceritakan bahwa PSJB pernah mengadakan program Sarasehan Jati Diri Sastro Daerah se-Indonedia yang dihadiri peserta dari Batak, Minang, Bali, Banjar, Madura, dan lain-lain.
Laki-laki yang usianya kini 80 tahun lebih, juga memaparkan mengapa diksi yang digunakan adalah pamarsudi meski di daerah lainnya menggunakan nama Organiasi Pengarang Sastra Jawa. “Mendetnya pamarsudi, siapapun yang punya niat untuk melestarikan Bahasa Jawa Sastra dan budaya Jawa, mereka diterima sebagai anggota. Tidak hanya pengarang saja, tapi juga pembaca, penyuka, simpatisan dan sebagainya,” terangnya.
Di akhir, ia berharap semua yang hadir dapat melanjutkan estafet kepemimpinan PSJB. “Kito saget nyengkuyung PSJB,” pungkasnya.
Syukuran Nuansa Jawa yang Khas
Menuju pertengahan siang meski matahari tidak tampak dan hujan sedikit turun perlahan, para tamu disuguhi tape ketan dan ketan salak yang dibungkus daun pisang. Diiringi suara MC yang full Bahasa Jawa dan sesekali nembang, benar-benar mencerminkan syukuran ala Jawa yang khas.
Ketika waktu istirahat tiba, orang-orang menikmati jamuan dengan seksama. Rasa tape yang asam dan segar tentu membuat lidah termanjakan. Dilanjut ketan salak warna kemerahan karena dibuat dari gula merah menambah rasa manis dan gurih yang khas.
Disambung makan siang dengan sayur bening, dadar jagung atau pelas dengan botok tahu-tempe, benar-benar seperti makan masakan nenek. Ada juga menu lainnya seperti ayam goreng, asem-asem daging dan bakso. Ditutup dengan es cendol yang dingin, manis dan gurih dari kuah santannya.
Sarasehan sebagai Urun-Rembuk untuk Sastra Jawa Bojonegoro
Usai menikmati berbagai hidangan, acara dilanjut dengan sarasehan. PSJB berencana memberikan surat cinta untuk Bojonegoro berupa antologi puisi atau geguritan yang akan dilaunching ketika hari jadi kabupaten pada Oktober mendatang.
Tepat pukul dua siang, acara ditutup dengan foto bersama. Di akhir sesi foto, semua kompak mendengungkan jargon “Sugeng ambal warsa PSJB kaping sekawandoso tigo, rahayu, rahayu, rahayu!”









