Pagi yang sejuk, Jumat (11/7/2025), di Sendang Dalwo, Desa Prambontergayang, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban terasa berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk aktivitas warga yang menjadikan agak berbeda, melainkan semangat baru yang terpancar dari gelaran Sekolah Ekologi SEC 2025.
Di bawah naungan rindangnya pepohonan dan segarnya udara pedesaan, sebanyak 16 pemuda (sebagian berstatus mahasiswa) yang berasal dari Bojonegoro dan Tuban duduk melingkar, khusyuk membincang tentang isu lingkungan.
Ya, mereka adalah pserta sekolah ekologi. Sekolah tersebut diinisiasi oleh Society Education Centre (SEC), lembaga sosial yang telah berkiprah sejak 2003 dalam pendidikan, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat. SEC berkolaborasi dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) serta pemuda Prambontergayang. Sekolah ini juga disupport oleh Mastumapel.com.
Ketua Pelaksana Sekolah Ekologi, Ali Ibrahim dari SEC, menegaskan bahwa program ini adalah upaya krusial untuk meningkatkan kesadaran kaum muda terhadap isu lingkungan. “Terutama terkait kerusakan lingkungan, penyebab, dampak, dan solusinya,” jelas Ali.
Lebih dari sekadar teori, peserta juga dibekali dengan program advokasi lingkungan tingkat lokal desa, menyiapkan mereka menjadi agen perubahan.
Filosofi mendalam menjadi landasan utama pada tema kegiatan “Pemuda Peduli Lingkungan sebagai Tititpan Anak Cucu”, dan bukan sebagai warisan anak cucu. Ali Ibrahim menyoroti perbedaan pandangan terhadap lingkungan. “Nalar dan logika bahwa lingkungan adalah titipan anak cucu menjadikan manusia tidak serakah dan tamak dalam mengelola lingkungan,” ucapnya.
Berbeda jauh jika lingkungan hanya dipandang sebagai warisan nenek moyang, di mana yang bergerak bukanlah kebutuhan melainkan hanya keinginan.
Tujuan utama Sekolah Ekologi ini adalah melahirkan kader-kader lingkungan yang siap terjun dalam aksi sosial seperti bank sampah dan pertanian terintegrasi, serta mencetak trainer di bidang lingkungan hidup yang mampu mendampingi kegiatan sosial di sekolah dan desa.
Mengurai Benang Kusut Sampah

Salah satu materi inti dalam Sekolah Ekologi ini adalah “Mengurai Permasalahan Sampah Melalui Bank Sampah”, yang disampaikan oleh Mutohar Adib dari Yayasan Daya Tumbuh Indonesia (YDTI) dan Ronny ES. Mereka membuka mata peserta dengan data-data mengejutkan tentang sampah.
“Cuaca merupakan respon dari manusia,” ujar Adib, mengawali pemaparannya.
Sampah kian bertambah seiring laju pertumbuhan populasi dan keinginan manusia untuk hidup lebih praktis. “Semakin banyak aktivitas kita, semakin modern, sampah semakin banyak.”
Adib melanjutkan “Dulu bayi-bayi menggunakan popok kain, sekarang lebih praktis dengan popok sekali pakai. Dulu orang membungkus makanan dengan daun, sekarang diganti dengan kertas minyak, sterofom,” lanjutnya.
Ia memaparkan fakta bahwa satu orang rata-rata menghasilkan 0,7 kg sampah per hari. Sektor rumah tangga menjadi penyumbang terbesar dengan 50,8%, diikuti pasar (16,67%), kawasan (11,31%), perniagaan 11,01%, kantor 5,1% dan fasilitas umum 3,53%.
“Kalau kita mampu menyelesaikan masalah sampah rumah tangga, maka kita bisa menyelesaikan setengah masalah sampah kenegaraan,” tegas Adib.
Data menunjukkan, 57% sampah adalah organik, 16% plastik, dan sisanya residu. Solusi krusial yang ditawarkan adalah memilah sampah dari rumah. Konsep TPA (Tempat Pembuangan Akhir) kini harus bergeser menjadi TPA (Tempat Pemrosesan Akhir), dan pemrosesan awalnya justru dimulai dari rumah tangga itu sendiri.
Ronny menambahkan, cukup mudah memilah sampah dengan tips bedakan sampah busuk dan yang tidak bisa busuk. “Pokoknya yang busuk satukan dengan busuk, yang tidak busuk, satukan dengan yang tidak busuk,” ujarnya.
Sampah busuk, menurut Ronny, bisa dikelola sebagai kompos, media tanam, yang tentu sangat berguna untuk kebun praktis di rumah atau tanaman-tanaman di ladang karena mayoritas penduduk desa bekerja sebagai petani dan peternak. Sedangkan sampah yang tidak bisa busuk, bisa disetorkan ke bank sampah untuk dikelola.
Khusus untuk Desa Prambontergayang, dengan populasi 7.000 jiwa, diperkirakan menghasilkan 4,9 ton sampah per hari, belum termasuk sampah dari pasar, sekolah, pondok, UMKM, dan toko. Sayangnya, sampah di Prambontergayang belum pernah dikelola secara sistematis.
“Dengan adanya Sekolah Ekologi ini, kita akan memulai lembaran baru dengan alat seadanya,” kata Adib usai mendapat informasi bahwa saat ini desa hanya memiliki satu unit kendaraan roda tiga dan beberapa box sampah besar dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Empat poin penting ditekankan untuk memulai perubahan: pentingnya kesadaran, memulai dari yang sudah ada, pembentukan satuan tugas (satgas), dan studi banding.
Mampu dan Mau: Kunci Kepemimpinan dalam Kolaborasi

Sesi kepemimpinan, organisasi, dan kolaborasi yang disampaikan oleh Agus Salim, Ketua SEC, memberikan fondasi filosofis bagi para peserta pada malam harinya usai bakar-bakar ayam.
Menurut Agus, untuk mewujudkan sesuatu, dibutuhkan perpaduan antara kemampuan dan kemauan. Menurutnya, ada 4 kategori dalam suatu kelompok; mampu dan mau, tidak mampu, tapi mau, tidak mau tapi mampu, dan tidak mampu dan tidak mau.
“Kemampuan besar, tapi kemauan kecil, tidak bisa berjalan. Begitu juga dengan kemauan besar, tapi kemampuan belum maksimal,” jelasnya.
Ia memberikan contoh konkret pada isu sampah: “Masyarakat ini mampu memilah sampah yang organik, an-organik dan residu dari rumah. Tapi apakah ada kemauan? Belum ada, tetap belum bisa jalan.” Sebaliknya, jika ada kemauan besar tapi belum ada kemampuan atau pelatihan, hasilnya juga belum optimal.
Agus Salim mengajak peserta untuk merenung. “Bahwa dalam tubuh kita adalah sungai kehidupan, ujung lahir sampai muara mati, sudah sampai mana kita? Lha sampah ini sudah sampai mana penyumbatannya?”
Ia juga menyoroti ironi bahwa banyak orang bisa mengubah uang menjadi barang mewah yang akhirnya jadi sampah, namun hanya sedikit yang mampu mengubah sampah menjadi barang mewah, bahkan uang.
Bank sampah, lanjut Agus, tidak bisa berdiri sendiri. Semua anggota kelompok harus rela berkorban (seleh) dan berkolaborasi. “Lebih baik berangkat dari nol daripada berangkat minus,” pesannya, menekankan pentingnya memulai dengan potensi dan alat yang ada, tanpa melulu memikirkan pembiayaan atau gaji di awal.
Seluruh kegiatan Sekolah Ekologi ini dilakukan dengan langsung membaur dengan alam di samping Sendang Dalwo, menambah kedekatan peserta dengan lingkungan yang mereka perjuangkan.
Sedekah Bumi dan Kopi Bayar Sampah

Pada malam harinya juga, Desa Prambontergayang kian meriah dengan gelaran wayangan sebagai bagian dari tradisi sedekah bumi. Namun, ada yang berbeda dan menarik perhatian: stan kopi yang beroperasi dengan konsep “Kopi bayar sampah”.
Inisiatif unik ini merupakan kolaborasi apik antara SEC, PT Hayu Ning Rasa, dan BUMDes setempat. Pengunjung dapat menikmati secangkir kopi Copitayan sambil menonton wayang, cukup dengan menukarnya dengan sampah yang mereka bawa.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi daya tarik tambahan dalam acara sedekah bumi, tetapi juga sarana edukasi praktis yang ringan dan menyenangkan tentang pentingnya memilah sampah dan mengubahnya menjadi sesuatu yang bernilai. Sebuah perpaduan harmonis antara pelestarian budaya, kesadaran lingkungan, dan inovasi sosial, yang membuktikan bahwa aksi nyata dapat dimulai dari hal-hal sederhana dan kolaboratif.
Menurut salah satu peserta Sekolah Ekologi, kegiatan sampah ditukar dengan kopi itu merupakan program baik untuk mengajak warga peduli lingkungan. “Warga kan jadi diajak menjaga lingkungan dengan mencari sampah lalu ditukarkan dengan kopi,” ucap M. Rifki Wahyudi.
Ilmu dari Sekolah Ekologi, menurut mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel itu, cukup bagus karena mengajarkan kita mencintai alam. “Cara berpikir dari para pemateri, konsep yang disampaikan benar-benar matang dan bisa langsung diaplikasikan.”
Sekolah Ekologi ini dihadiri Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan Kabupaten Tuban, Camat, Kepala Desa, Pengurus BUMDes, dan warga sekitar.









