Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Bojonegoro di bawah Perpustakaan Nasional RI menyelenggarakan acara kelas menulis puisi yang rangkaiannya dimulai Senin (7/9/2026). Kegiatan digelar di aula Perpustakaan Daerah Kabupaten Bojonegoro.
Kelas ini rencananya berlangsung dalam 6 kali pertemuan. Dan mengawali kelas, Relima menghadirkan Nanang Fahrudin, seorang penulis sejarah lokal.
Relima Bojonegoro, Imron Nasir Salasa mengatakan kegiatan ini merupakan agenda nasional yang secara serentak digelar di berbagai wilayah di Indonesia. Salah satunya untuk menyambut bulan gemar membaca dan hari kunjung perpustakaan. Bentuk dan format acara diserahkan sepenuhnya kepada Relima masing-masing lokus atau wilayah.
Kegiatan ini merupakan upaya Perpusnas RI untuk mengukur dampak keberadaan relima di masyarakat. Kegiatan menyasar satuan pendidikan, perpustakaan, dan taman bacaan masyarakat. Relima di masing-masing lokus akan menjalankan kegiatan literasi seperti membaca nyaring, ulas buku, menulis cerita berbasis bahan bacaan, sekolah keluarga literasi, hingga diskusi aksi dengan target minimal 6 kali pertemuan.
Di Bojonegoro, Imron sebagai Relima menginisiasi membuat kelas menulis puisi. Imron akan menemani para peserta selama enam kali pertemuan selama acara berlangsung di bulan September ini.
“Kita akan menggali Bojonegoro. Bojonegoro ada yang bilang terbuat dari kayangan api, dari warung kopi, dan lain-lain. Bisa tempat bisa peristiwa,” kata Imron.
Imron berharap para peserta bisa mengikuti seluruh pertemuan. Setiap pertemuan temanya berbeda, mulai dari bincang lokalitas seperti hari ini, tour tempat-tempat lokal yang dirasa penting, hingga latihan menulis dan kumpulan karya di akhir nanti.
“Harapannya peserta bisa berkontribusi untuk kita terbitkan jadi buku puisi. Bulan depan itu Oktober ulang tahun Bojonegoro. Jadi puisi-puisi kita ini yang barangkali bisa kita berikan untuk Bojonegoro,” kata alumni Universitas NU Sunan Giri (Unugiri) ini.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bojonegoro Erick Firdaus mengatakan dengan adanya Relima di Bojonegoro ini bisa meningkatkan tingkat lietarsi masyarakat dan membantu masyarakat dalam meningkatkan kesadaran literasi. Menurutnya literasi masyarakat penting bagi tumbuh kembang kemajuan.
“Literasi itu bukan hanya membaca, melainkan juga bagaimana kita mengaplikasikan apa yang kita baca dengan benar,” kata Erick.
Dengan kelas menulis ini, kata dia, bisa menjadi tambahan ilmu yang berharga. Puisi sendiri, menurut Erick, merupakan pencerminan suatu kondisi apa saja di masyarakat. Puisi bisa dalam bentuk sindiran atau pujian. Bagaimana cara membuat puisi yang baik, bukan hanya sekadar menulis tapi membuatnya, itu dibutuhkan kemampuan atau keahlian dan olah pikir yang bisa memahami suatu kondisi tertentu. “Menulis puisi juga harus ada ilmunya,” kata Erick.
Narasumber pertemuan pertama kelas ini, Nanang Fahrudin, memaparkan pentingnya memahami lingkungan sekitar sebagai bahan menulis dalam bentuk apapun, baik itu karya jurnalistik, cerpen maupun puisi.
“Hidup ini adalah gerak dari cerita ke cerita. Di barat ada tradisi tulis. Di kita tradisi tutur. Kita butuh tulisan,” kata Nanang.
Nanang juga banyak membahas hal-hal penting terkait Bojonegoro yang kerap luput dari perhatian. Misalnya tentang asal-usul orang Bojonegoro yang ternyata banyak spekulasinya. Ada yang menyebut asal-usul orang Bojonegoro adalah dari orang Kalang yang menghuni hutan, ada yang menyebut dari orang Samin, bahkan ada sumber tertentu yang menyebut keturunan orang Bugis.
“Mengetahui segala sesuatu itu penting. Kalau tidak tahu harus mencari tahu. Kita perlu plaur (bahasa jawa) untuk mencari tahu sesuatu. Semakin banyak mengatahui maka akan semakin mudah menulis sesuatu,” kata penulis Lampu Merah Cap Indonesia ini.
Kegiatan ini diikuti sekitar 20 peserta yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat. Ada guru, pegawai negeri, mahasiswa, santri hingga pelajar









