Semangat menjaga dan merawat budaya leluhur tetap terpelihara dengan baik oleh para petani di Desa Plesungan, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro. Para petani di desa ini selalu menggelar tradisi wiwitan menjelang masa panen raya. Seperti yang mereka lakukan pada Sabtu pagi (5/7/2025).
Tradisi wiwitan merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang dilestarikan oleh masyarakat petani di berbagai daerah, termasuk di Plesungan. Tradisi ini memiliki makna spiritual dan sosial yang mendalam.
Wiwitan berasal dari kata “wiwit” dalam bahasa Jawa yang berarti “memulai” atau “permulaan”. Dalam konteks pertanian, wiwitan adalah sebuah ritual atau upacara adat yang dilakukan oleh para petani sebelum memulai panen raya. Ritual ini sebagai wujud syukur kepada Sang Pencipta.
“Wiwitan adalah sebuah tradisi budaya sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Pemurah (Gusti Allah) atas hasil bumi yang akan dipanen oleh para petani,” tutur Mbah Sukri, warga yang dituakan di Plesungan.
Rangakaian Tradisi Wiwitan
Syukuran wiwitan ini digelar sebagai kegiatan olah rasa guna mengajak semua warga desa menghargai hasil panen. Upacara ritual dilakukan di tengah sawah, tepat di area yang akan mulai dipanen. Warga desa dan para petani berkumpul bersama-sama membawa sesaji dan makanan tradisional.
Di tradisi wiwitan ini, para petani Plesungan menyiapkan peralatan seperti kendil berisi air, ani-ani, bunga mawar dan kain jarik untuk membungkus hasil padi yang dipetik. Selanjutnya sesepuh desa memulai prosesi dengan berdoa kepada Gusti Allah. Lalu beberapa petani memotong sebagian batang padi sebagai tanda bahwa padi sudah siap dipanen.
“Semua sesaji disiapkan sebagai simbol rasa syukur kepada Gusti Allah. Sesaji-sesaji tersebut berupa tumpeng (nasi kuning), ubo rampenya seperti ayam ingkung, telur, kupat, lepet, pleret, polowijo, gembili, pisang dan kembang telon. Semuanya ditempatkan di atas tampah atau tampir bambu dan didoakan oleh sesepuh desa,” tambah Mbah Sukri.
Makna Tradisi Wiwitan
Tradisi wiwitan adalah warisan budaya nenek moyang yang harus dilestarikan. Setelah prosesi tersebut, warga desa dan para petani menikmati makanan secara bersama-sama. Mereka menikmati makanan dan bercengkrama sebagai simbol kehidupan yang penuh keguyuban, kerukunan dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.
Di samping itu, tradisi wiwitan menunjukkan hubungan spiritualitas antar manusia dengan Sang Khalik, sebagai pemilik alam semesta. Tradisi ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan solidaritas antar warga dan sikap gotong royong. Tradisi ini bermanfaat untuk menjaga identitas lokal sebagai pemersatu warga. Akhirnya tradisi ini bermanfaat untuk memelihara dan memperkuat warisan budaya nenek moyang kita.
___________
Penulis adalah guru SMAN Balen, peserta Pelatihan Menulis Kearifan Lokal yang diselenggarakan Sekolah Menulis Mastumapel









