Siang di akhir bulan kemerdekaan itu, saya hanyaberguling-guling di kasur dan membaca A Journey to Myself karya Lorianbackpacker pada Selasa (26/8/2025). Saya mengenal Lorian dari Instagram lewat konten-konten travelingnya yang unik dan berbeda. Jika influencer kebanyakan berlibur dengan fasilitas mewah, Lorian justru sebaliknya.
Solo trip pertamanya dari Yogyakarta sampai Bali, merogoh kocek sebesar Rp 150.000. Demi menunggu kereta satu-satunya, ia tidur di stasiun Bangkok bersama para gelandangan. Ia lebih memilih tidur di penginapan murah asal aman dan bisa ditinggali dari pada tempat tidur mewah yang bagus untuk instastory.
Justru konten-konten sederhana dan apa adanya itulah yang membuat Lorian cepat naik daun dan menambah followers hingga kini berjumlah 344.000. Ia menunjukkan bahwa untuk melihat dunia lebih luas, melakukan perjalanan penyembuhan dan pembelajaran, bisa dimulai dengan apa yang dipunya, dari hal sederhana dan apa adanya.
A Journey to Myself atau yang saya artikan sebagai sebuah perjalanan untuk/menuju diri sendiri itu ditulis Lorian berdasarkan hidup yang dia Jalani dan perjalanan panjang yang ia tempuh.

Pulang
Ketika pertama membuka A Journey to Myself dari bungkusnya, ada postcard dengan kalimat “Perjalanan paling panjang adalah kembali pulang, kepada diri sendiri.” Membacanya membuat dada saya tiba-tiba sesak, mungkin ini disebut tersenyuh meski agak alay.
Saya kemudian berpikir, betapa saya dulu pernah amat susah mencari tempat pulang, rumah menaruh kesah. Hingga akhir-akhir ini, saya menyadari, pulang paling damai adalah pada diri sendiri, dan tulisan Lorian pada postcard mengingatkan saya tentang itu.
Saya, mungkin juga beberapa dari pembaca, sangat sering mencari sebuah tenang di luar diri. Merasa bahwa yang terbesar adalah ego, diri sejati mungkin berkata tidak, tapi ego memilih iya demi sebuah eksistensi, mungkin juga validasi.
Lalu saya berpindah membaca judul pertama tentang Terima Kasih. Lorian pertama-tama berterima kasih kepada dirinya sendiri. Kalimat terima kasih itu membuat dada saya kembali sesak, betapa saya sering lupa mengucapkan terima kasih pada diri sendiri. Bahwa tanpa ia yang luar biasa, saya tidak bisa apa-apa.
Alasan Hidup
Tulisan Lorian yang santai, mudah dipahami dan mengalir membuat saya melahap A Journey to Myself dalam sekali baring. Mungkin jika dilihat sekarang, orang-orang banyak mengira enak, ya, jadi Lorian.
Namun, setelah membaca bab 1 dan 2, pembaca akan ternganga, di balik keceriaan Lorian sekarang, ada berjuta luka yang ia sembuhkan sendiri dan secara perlahan.
Lorian tumbuh dan besar tanpa seorang ibu sejak usia 11 tahun. Ayahnya sering memukulinya, berselingkuh dengan tante dan sepupunya, dan mengubur mimpi besar Lorian untuk belajar di sekolah impian dengan mengahbiskan 18juta yang disiapkan ibunya.
Bagi Lorian, bisa pergi jauh dari rumah adalah sebuah kemewahan. Meski sering merasa sepi hingga didiagnosa bipolar, setidaknya ia tidak bertemu sumber sakitnya, sang ayah.
Perempuan dengan nama panjang Indah Suci Lorian itu pernah beberapa kali ingin mengakhiri hidupnya sampai menenggak pil penenang 30 kapsul dalam satu waktu. Hingga, ia menemukan alasan untuk tetap menjalani hidup, meneruskan perjalanannya.
Pertama, ia ingin hidup agar bertemu lebih banyak orang baik dan menjadi orang baik. Seperti penjual makeup yang ia temui di India, yang menjamunya seperti keluarga. Berbagi makanan, tempat tinggal dan hadiah kecil, kehangatan yang justru ia dapat dari manusia yang tidak sedarah dan jauh dari rumah.
Kedua, ia ingin merasakan cinta sekali lagi. Cintanya yang patah pertama kali dan paling terbesar adalah kepada ayah. Dari perjalanannya, ia mendapat kasih-kasih tanpa pamrih dari orang-orang yang ia temui.
Ketiga, ia ingin melihat senyum ibunya lagi. 11 tahun berpisah, pada 2023, Lorian mengunjungi ibunya yang bekerja di Cina. Dipeluknya ibu yang teramat tegar itu, yang menahan lelah dan rindu demi Lorian dan adik-adiknya tetap menjalani hidup. Mereka saling menangis, tertawa dan menikmati rendang bersama. Senyum ibunya, membuat Lorian memiliki satu lagi alasan untuk melanjutkan hidup.
Mungkin alasan-alasan itu juga yang membuat pembaca dan orang-orang yang mengalami hal sama mulai memikirkan untuk melanjutkan hidup, dan mencari alasan lain sebagai penopang.
Sebab itu, buku ini cocok dibaca bagi yang mengalami keputusasaan dan ingin menyembuhkan luka-luka. Tentu di awal sudah diberi warning oleh Lorian, A Journey to Myself mengandung adegan kekerasan suicidal education yang mungkin bisa memicu trauma bagi sebagian orang. Jika tidak nyaman, disarankan berhenti membaca atau membaca dengan pendampingan.
Penyesalan
Beberapa orang mungkin oernah menyesal dilahirkan, menyesal menapaki bumi yang penuh misteri. Awalnya Lorian begitu, tapi setelah melakukan beberapa perjalanan, ia menerima tanpa menyesali suatu apapun.
Mungkin, bagi pembaca yang sedang menyesal, membaca buku ini, penyesalan itu akan berkurang dan perlahan hilang. Bisa juga melakukan perjalanan untuk melihat dunia yang lebih luas, orang dengan berbagai macam dan pelajaran yang amat kompleks.
Menyayangi Diri Sendiri
Lorian kecil sering dihina babi, muka comberan, mata bulat menakutkan dan si kulit hitam. Ia yang dipanggil Lori seperti gerobak lori pernah merasa sangat sakit dan dikucilkan.
Berjalannya waktu, seseorang dosen memanggilnya Lorian, dan ia merasa bahwa namanya keren dan tak ada alasan untuk merasa insecure. Mata bulat yang kata orang desa menakutkan itu, justru dipuji cantik oleh banyak bule. Kulit sawo matang yang memang khas kulit Indonesia, disukai banyak warga luar negara.
Pada akhirnya, Lorian mencintai dirinya sendiri, seutuhnya, tanpa memikirkan hal buruk apapun yang dilontarkan orang. Ia menjadi perempuan yang menggaungkan bahwa cantik tidak harus putih, bahwa marketing adalah sumber kebutuhan, perempuan-perempuan Indonesia tiba-tiba merasa butuh produk pemutih dan pencerah usai menonton iklan.
Perjalanan adalah Penyembuhan dan Pembelajaran
Bagi aebagian orang, mungkin jalan-jalan adalah rutinitas biasa ketika suntuk atau butuh mengisi laman sosial media. Sedangkan Lorian, menjadikan perjalanan sebagai penyembuhan dan pembelajaran.
Mungkin bagi kebanyakan orang mengunjungi banyak tempat, negara, adalah pencapaian. Namun, bagi Lorian, bukan seberapa banyak ia mengunjungi tempat, tapi seberapa banyak ia mengambil pelajaran dari perjalanan itu.
Kata Lorian, semakin banyak mengunjungi tempat-tempat di dunia, semakin banyak bertemu manusia yang beragam, seseorang akan merasa kecil dan merasa begitu banyak pengetahuan yang belum dipelajari.
Dari perjalanan-perjalan itu, Lorian belajar mengambil keputusan-keputusan dalam hidupnya, baik yang kecil maupun besar, baik sekadar nanti mau makan apa sampai bagaimana caranya bertahan.
Tindakan Seseorang Bukan Faktor dari Apa yang Dipakai
Bagi saya, setiap bab yang ditulis Lorian menyentuh dan realeted dengan banyak hal yang saya alami dan mungkin banyak orang lainnya. Di halaman menuju akhir, ada percakapan ia bersama sang ayah.
Bagaimana sesuatu yang dipakai tidak memengaruhi sikap seseorang. Lorian mencoba semua sesuatu yang dipakai sang ayah. Ternayata, Lorian tetap menjadi Lorian, bukan menjadi ayahnya yang tukang pukul dan gila selangkangan tanpa pernah meminta maaf dan mengakui kesalahannya.
Buku ini, merekam jejak-jejak perjalanan manusia dengan segala persoalannya dan penyembuhannya di bumi yang serba misteri.









