Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Destinasi

Sejarah Sandur Bojonegoro, Dari Hiburan Masyarakat Agraris hingga Pernah Dicap Kiri

Eni Puspita Sari
01/11/2025
Sejarah Sandur Bojonegoro, Dari Hiburan Masyarakat Agraris hingga Pernah Dicap Kiri

Sandur Bojonegoro/Foto: Dok TBJT

Mastumapel.com – Sandur Bojonegoro merupakan salah satu kesenian tradisional yang serupa dengan teater tradisional. Sandur mempunyai unsur cerita (drama), tari, karawitan dan akrobatik (kalongking). Seni pementasan sandur menampilkan cerita kehidupan sehari-hari, dengan beberapa properti, tokoh pakem dan rangkaian pertunjukan.

Pementasan Sandur biasanya dilakukan pada malam hari. Pertunjukan ini bertempat di tanah lapang terbuka, atau sekarang lebih menyesuaikan. Arena dalam Sandur disebut blabar janur kuning, di mana arena dibatasi pagar tali membentuk kotak persegi. Di setiap sudut dipasangi bambu dengan tali yang menghubungkan empat sudutnya.

Tali dihiasi janur dan digelantungi aneka makanan ringan, ketupat dan lepet. Terdapat penerangan khusus dalam Sandur selain lampu, penerangan ini dinamakan obor sewu, obor sewu diletakkan di sudut sekitar arena pementasan. Obor sewu terbuat dari bambu dengan sebutan mrutu sewu bambu, yang terdapat lebih dari satu lubang tempat ublik menyala.

Tokoh-tokoh Sandur

Tokoh pakem dalam cerita Sandur ada lima orang yakni tokoh Germo, Pethak, Balong, Tangsil, dan Cawik sebagai tokoh perempuan. Namun biasanya ada tokoh tambahan seperti Siti Gemek dan Sudarminah.

Germo menjadi tokoh kunci sebagai sutradara atau dalang. Instrumen musik biasanya berupa kendang, gong, bonang, dan suling. Pemain musik dan panjak hore yang melantunkan tembang-tembang sebagai pengiring keluar masuknya wayang dan narasi perjalanan wayang. Panjak hore merupakan kumpulan dari 10-15 orang.

Pementasan dirangkai dengan pertunjukan jaranan dan atraksi kalongking. Kalongking merupakan pertunjukan akrobatik, pemeran kalongking akan memanjat bambu yang ditancapkan di dua sisi berbeda dan menyusuri tali tambang yang ujung-ujungnya diikatkan pada dua batang bambu tersebut.

Pemeran kalongking bergelantungan di atas pada tali, bergerak mencapai bambu di sisi lain yang berbeda. Pementasan interaktif, terkadang diselipkan lawakan. Panjak hore dan penonton bisa ikut menimpali dan terlibat dalam dialog  alur cerita. Percakapan menggunakan bahasa sehari-hari, Jonegoroan.

Lagu yang Dinyanyikan saat Pertunjukan Sandur

Salah satu poster kegiatan Sandur Bojonegoro

Sandur memiliki Cengkok atau lagu bahasa sendiri. Lagu bahasa spesifik namun datar menjadi permainan tinggi rendahnya dilakukan para peran khusus yang menggunakan kostum wayang yaitu tokoh Pethak, Balong dan Cawik. Tokoh Germo dan yang tidak menggunakan kostum wayang menggunakan bahasa dialog sehari-hari. Dialog dalam sandur mendayu-dayu dan monoton.

Sandur kesenian tradisional Jawa Timur ada di beberapa daerah termasuk Tuban, Jombang, dan Gresik dengan ciri khas sendiri.

Mengutip dari penuturan almarhum Jagat Pramujito. Pram, begitu dia biasa dipanggil, seorang pelaku Sandur dan saksi hidup Sandur dari masa ke masa di Bojonegoro. Dalam sebuah wawancara dengan BBC News Indonesia, Pram menjelaskan, Sandur sebenarnya permainan tradisional anak-anak zaman dulu di pedesaan yang mengalami perubahan menjadi kegiatan sosial masyarakat, kemudian menjadi seni pertunjukan bermain peran.

Pram mengatakan Sandur dipentaskan pada waktu-waktu tertentu, seperti ketika masyarakat memiliki hajat, sebagai bentuk rasa syukur kepada alam dan kehidupan. Sandur diselenggarakan pada masa sebelum panen, sesudah panen dan di tengah-tengah panen, menjadi kegiatan masyarakat yang pembiayaan dan keperluan lainnya semua ditanggung dan didukung masyarakat. Dulu, hampir di tiap desa di Bojonegoro memiliki kegiatan seni drama tradisional dengan penonton berjubel.

Sandur Pernah Dicap Gerakan Kiri

Sandur berada pada puncak kejayaan di 1960-1964.  Nama Sandur merupakan akronim dari sanepane dunya lan urip yang berarti kiasan dunia dan kehidupan. Kesenian Sandur Bojonegoro pernah hampir dihilangkan saat tragedi 1965.

Sandur dituduh menjadi bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI) karena pemainnya dituduh bagian dari Lembaga Kebudayaan Indonesia (Lekra). Sehingga sebagian pegiatnya ditangkap tanpa proses pengadilan pada pergolakan politik 1965. Pram menjelaskan bahwa sudah menjadi tren kala itu, kesenian menjadi penarik masyarakat, sebagai media kampanye partai politik, termasuk PKI.

Sandur menjadi kegiatan sosial yang anggotanya adalah seniman dari wayang orang, ludruk, ketoprak. Sedangkan banyak yang direkrut Lekra anggota dari ketoprak atau ludruk. Menurut Pram, Sandur mulai dipentaskan kembali sekitar 1970 meski para pegiatnya masih dalam kondisi ketakutan. Di orde baru Sandur tidak sering dipentaskan tapi pegiatnya sering berkumpul dan berlatih secara sembunyi-sembunyi. Pengakuan Pram, pernah dalam satu kesempatan, Sandur dipentaskan oleh Dapertemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud).

Sandur mendapat penolakan sebab kata Somelah dalam tembang Sandur dianggap mempelesetkan kalimat Bismillah. Menganggap bahwa Sandur mencampuradukkan agama dengan yang lain, sehingga menganggap tidak boleh hidup. Pram menjelaskan bahwa kata Somelah merupakan akronim dari Sumende mring Allah.

Pada pertengahan 1980, tekanan untuk menghilangkan Sandur makin kuat. Pram dan teman-teman pegiat Sandur lainnya berkompromi mengubah kata Somelah menjadi Bismillah, berlaku hingga sekarang.

Kelompok-kelompok Sandur Bojonegoro Dulu Hingga Kini

Penampilan Sandur dari kelompok Sedhet Srepet/Sumber: IG sedhet srepet

Mengutip dari beberapa sumber, keberadaan Sandur di Bojonegoro, sejauh diketahui ada sejak masa kolonial Belanda. Berikut beberapa pegiat, seniman Sandur di Bojonegoro dari masa ke masa.

Pertama Sandur Mbah Pahing. Dalam kajian yang dilakukan oleh Agus Setiawan dkk, Sandur Mbah Pahing terkenal di masa kolonial. Kelompok Sandur ini tumbuh dan berkembang di Desa Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro. Kemudian diwariskan kepada anaknya Mbah Sukadi setelah sepeninggal Mbah Pahing pada 1965.

Kedua, Sandur Sekar Sari. Kelompok Sandur yang diwariskan kepada Mbah Sukadi diberi nama Sandur Sekar Sari. Sebelum berdirinya kelompok sandur ini, ada tragedi 1965 yang membuat seniman Sandur trauma. Sandur Sekar Sari mulai ditinggalkan sekitar 2009, sebab kurang eksis. Hingga akhir hayat Mbah Sukadi pada 2011.

Ketiga, Sandur Kembang Desa. Kelompok Sandur ini didirikan oleh Jagad Pramujito dan Masnoen. Pada era Sandur Kembang Desa, Sandur mengalami banyak perubahan. Sandur ditekankan menjadi seni pertunjukan, dan menyesuaikan terhadap kondisi generasi muda yang mulai melupakan kesenian tradisional, serta mulai meninggalkan sisi magis dalam ritual Sandur supaya lebih populer dan diminati kaum muda.

Keputusan Sandur Kembang Desa didasari atas konsultasi dan persetujuan dengan Mbah Sukadi yang pada saat itu masih hidup.

Keempat, Sandur Sedhet Srepet. Kelompok Sandur Sedhet Srepet didirikan oleh Oky Dwi Cahyo pada 2021. Semua nama-nama generasi ini memiliki hubungan layaknya Guru dan murid. Desa Ledok Kulon menjadi Salah satu desa yang mengembangkan inovasi Sandur. Beberapa perubahan disesuaikan dengan perkembangan zaman modern. Meskipun begitu, susunan pertunjukan Sandur tidak mengalami perubahan, dengan tujuan esensi dari Sandur sebagai kesenian tradisi tidak hilang.

Tags: BojonegoroKesenianSandur Bojonegoro
Previous Post

Perjalanan Minli Gadis Kecil yang Berteman dengan Naga untuk Menemukan Rumus Hidup Bahagia

Next Post

Rekomendasi 7 Buku tentang Bojonegoro yang Wajib Anda Baca

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Bertemu JFX Hoery: Menimba Ilmu, Membawa Pulang Bahagia

Bertemu JFX Hoery: Menimba Ilmu, Membawa Pulang Bahagia

12/05/2026
Cara Mahasiswa PAI Unugiri Merawat Kearifan Lokal Bojonegoro, Lahirkan 5 Buku Antologi

Cara Mahasiswa PAI Unugiri Merawat Kearifan Lokal Bojonegoro, Lahirkan 5 Buku Antologi

13/05/2026
Aliansi Buruh Bojonegoro Bersatu Turun Jalan, Suarakan 17 Tuntutan di Hari Buruh Sedunia 2026

Aliansi Buruh Bojonegoro Bersatu Turun Jalan, Suarakan 17 Tuntutan di Hari Buruh Sedunia 2026

02/05/2026
Idul Adha 1447 H untuk Bojonegoro Bahagia

Idul Adha 1447 H untuk Bojonegoro Bahagia

27/05/2026
Peringati WPFD 2026, AJI Bojonegoro Gelar Diskusi Merawat Kemerdekaan Pers untuk Publik

Peringati WPFD 2026, AJI Bojonegoro Gelar Diskusi Merawat Kemerdekaan Pers untuk Publik

04/05/2026
Baca SERUNI, Suguhan Terbaru Perpustakaan dan UKMP Griya Cendekia Unugiri  

Baca SERUNI, Suguhan Terbaru Perpustakaan dan UKMP Griya Cendekia Unugiri  

16/05/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023