Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Sastra

Perjalanan Minli Gadis Kecil yang Berteman dengan Naga untuk Menemukan Rumus Hidup Bahagia

Eni Puspita Sari
27/10/2025
Perjalanan Minli Gadis Kecil yang Berteman dengan Naga untuk Menemukan Rumus Hidup Bahagia

“Kau hanya kehilangan apa yang kau pegang” (hal:130)

Seorang pemimpin kota bernama Terang Bulan menjaga sobekan kertas. Sobekan ini berasal dari kitab peruntungan kakek Rembulan, yang telah menjadi warisan dari generasi ke generasi. Sobekan kertas itu dijaga dengan baik serta penuh penghargaan. Dan sang raja, sobekan kertas itulah yang dicari Minli, seorang gadis kecil yang ingin mengubah hidupnya.

Sobekan kertas itu merupakan “garis pinjaman” yang akan bisa membawanya untuk sampai ke Gunung Tak Berujung. Di gunung ini terdapat kakek Rembulan yang akan bisa menjawab segala pertanyaan, termasuk Minli ingin menanyakan kepadanya tentang cara mengubah peruntungan keluarga Minli.

Penggalan cerita ini terdapat dalam buku berjudul “Where The Mountain Meets The Moon, Tempat Gunung Berjumpa Rembulan” karya Grace Lin. Buku yang baru saja selesai saya baca.

Sobekan kertas itu akhirnya berada di tangan Minli. Sang Raja tak keberatan sobekan kertas itu dipegang Minli. Kepada Minli, sang Raja berujar: “Jadi dengan memilih untuk memberikan kertas ini kepadamu, aku tak akan kehilangan apa-apa”.

Penggalan perkataan sang Raja kepada Minli tersebut mencerminkan bagaimana sang Raja rela melepaskan sobekan kertas yang selama ini menjadi warisan keluarganya kepada Minli. Sobekan kertas itu, bagi sang Raja adalah pinjaman, jadi bukan hak miliknya.

Dan penggalan ini, seakan menyadarkan kita, bahwa tidak jarang kita merasa berlarut dalam kesedihan dan ketakutan ketika harus melepaskan atau kehilangan sesuatu dalam hidup.

Minli, dalam buku ini, adalah anak perempuan kecil yang hidup di sebuah desa dekat dengan Gunung Nirbuah yang kering dan gersang. Konon, dulu desa ini mendapat kutukan dari seekor naga yang bernama Naga Giok. Sebab itu Naga Giok ini ditinggalkan anak-anaknya ke bumi. Gunung Nirbuah mencerminkan rasa kesedihan sebab berpisah dengan anak-anaknya.

Minli hidup bersama ayah dan ibunya di rumah kecil dengan kehidupan pas-pasan, pakaian dan makanan seadanya. Setiap pagi hingga menjelang sore bekerja di ladang. Minli merupakan anak yang ceria. Salah satu sebab dia berseri-seri adalah kisah-kisah yang sering dituturkan oleh ayahnya. Sang ayah merasa seolah melupakan uban dan keletihan akibat bekerja.

Ibu Minli, bernama Ma, ternyata tidak menyukai kebiasaan ayah yang bercerita kepada Minli. Ma tidak suka mendengar kisah-kisah yang diceritakan suaminya kepada anaknya tentang keberuntungan, emas, dan harta benda. Sedangkan dia merasa lelah dengan kemiskinan keluarganya.

Terkesan lucu ya? Seorang anak kecil perempuan yang sering didongengi oleh ayahnya dan berusaha mengubah kisah tersebut menjadi kenyataan. Minli diam-diam memutuskan menuju Gunung Tak Berujung, meninggalkan rumah dan orang tuanya dengan petunjuk ikan mas yang dia beli. Namun siapa sangka, Minli bertemu seekor naga dan beberapa orang di perjalanannya, menuju Gunung Tak Berujung yang ada dalam cerita ayahnya. Minli berhasil bertemu sang Kakek Rembulan.

Ketika bertemu, Minli hanya bisa menanyakan satu pertanyaan saja kepada Kakek Rembulan. Padahal, di benaknya dia mempunyai dua pertanyaan, satu pertanyaan merupakan titipan seekor naga, yang merupakan teman baiknya. Naga ingin menanyakan alasan tidak bisa terbang. Sedang Minli sendiri ingin menanyakan keberuntungan keluarganya.

Pertanyaan mana yang harus ia ajukan? Padahal hanya satu pertanyaan saja. Akhirnya si Minli memilih menanyakan pertanyaan sang naga, teman baiknya. Dia memilih menggugurkan pertanyaannya sendiri.

Minli menyadari, pertemuan-pertemuannya dengan beberapa orang di perjalanan, mengajarkan Minli bahwa sebenarnya  jawaban dari pertanyaannya tentang keberuntungan adalah ada pada: bersyukur.

Nah, nagaimana ya jika berada di posisi Minli, setelah perjalanan panjangnya sampai, harus dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Minli menemukan kelegaan ketika dia merasa bersyukur.

Di bagian lainnya, ayah dan ibu Minli tentu merasa sedih atas kehilangan anak semata wayangnya ini. Mereka berusaha mencari, namun merasa ragu sebab menganggap Minli mencari sesuatu hal yang mustahil.

“Tidaklah kalian mengerti? Takdir yang tertulis di kitab peruntungan sekalipun bisa diubah. Adakah yang lebih mustahil daripada itu?

“Barangkali jika sulit bagi kalian untuk percaya bahwa putri kalian akan bisa menemukan Gunung Tak Berujung, sebaiknya kalian percaya bahwa dia akan pulang kepada kalian. Karena itu tidak mustahil. Jadi tak peduli apakah Minli akan berhasil mengubah peruntungan kalian, aku tetap berharap agar kalian beruntung.”

Penggalan perkataan dari penjaja ikan yang ditemui orang tua Minli tersebut, mengajarkan bahwasanya suatu keadaan bisa diubah ketika mau berusaha. Pentingnya rasa percaya dan prasangka baik terhadap Yang Maha Mengetahui. Bahwasanya Minli akan kembali pulang.

Hemm jika dalam kehidupan nyata mungkin hal serupa juga yang akan terpikirkan.

Dan akhir kisah, naga teman baik Minli bisa terbang kembali, mengantarkan Minli pulang bertemu ayah dan ibunya. Ternyata naga yang mengantarkan Minli, untuk pulang ke desanya merupakan salah satu anak dari Naga Giok. Dan akhirnya, kehadiran naga bersama Minli menjadikan desa Minli berubah subur dan rindang.

“Jika kau membahagiakan mereka yang ada di dekatmu, mereka yang jauh darimu akan datang.” (hal:38)

Kebahagiaan datang menghampiri Minli dan keluarga sekaligus orang-orang di sekitarnya. Mungkin beginilah cara sastra memberi manfaatnya, belajar dari kisah-kisah yang diceritakan.

Buku Where The Mountain Meets The Moon, Tempat Gunung Berjumpa Rembulan karya Grace Lin ini diterjemahkan oleh Berliani M. Nugrahani. Diterbitkan oleh penerbit Atria. Meski mengisahkan tokoh seorang anak, cerita ini menurut saya patut juga dibaca orang dewasa. Ini selaras dengan kata-kata Joko Pinurbo dalam puisinya yang berbunyi barangkali masa kecil atau masa kanak-kanak adalah alamat pulang yang tidak pernah berhenti mengundang rindu. Masa kecil yang siap menggoda hidup kita yang kadang kelewat serius dan kaku.

Yang menarik dalam buku ini adalah gaya bercerita yang sederhana, mengisahkan dongeng yang saling berkaitan di setiap bab. Tulisan yang bercerita dibuat dengan font berbeda, sehingga memudahkan untuk membedakannya. Bahasa yang sederhana mudah dipahami. Bentuk tulisannya bergaya konotasi (bukan makna sebenarnya), dengan latar belakang cerita suasana masyarakat Cina.

Cover Buku indah dengan kontras (perbedaan) warna yang cantik serta tambahan ilustrasi di dalam tulisan buku, membuat mata tertarik sejak pertama kali melihatnya. Dalam penjelasan buku tertulis Meskipun buku ini karya asli Grace Lin, banyak tokoh latar dan tema-tema yang diambil dari cerita rakyat tradisional Cina. Meskipun Grace Lin seorang penulis kebangsaan Amerika. Salam.

Tags: BukuCerita CinaResensi BukuSyukur
Previous Post

Tutorial Tukar Uang Koin di Mie Gacoan; Dapat Seporsi Mie dan Segelas Es Teh

Next Post

Sejarah Sandur Bojonegoro, Dari Hiburan Masyarakat Agraris hingga Pernah Dicap Kiri

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Idul Adha 1447 H untuk Bojonegoro Bahagia

Idul Adha 1447 H untuk Bojonegoro Bahagia

27/05/2026
Perkuat Identitas Lewat Bojonegoro Wastra Batik Festival 2026

Perkuat Identitas Lewat Bojonegoro Wastra Batik Festival 2026

17/06/2026
Imajinasi Toko Buku dalam Buku

Imajinasi Toko Buku dalam Buku

15/06/2026
Membaca Wigati, Membaca Batin Perempuan Jawa Pesantren

Membaca Wigati, Membaca Batin Perempuan Jawa Pesantren

31/05/2026
ARSIP KORAN: Bojonegoro Raih Juara Nasional Insus Kedelai 1992

ARSIP KORAN: Bojonegoro Raih Juara Nasional Insus Kedelai 1992

17/06/2026
Warna Warni Rasa Kerupuk Klenteng

Warna Warni Rasa Kerupuk Klenteng

21/05/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023