Para mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro punya cara berbeda merawat kearifan lokal. Mahasiswa dari kelas A hingga E, melahirkan 5 buku antologi kearifan lokal Bojonegoro. Kelima buku itu dibedah dalam acara Bedah Buku Antologi Local Wisdom dan Guest Lecture di Auditorium Hasyim Asy’ari Unugiri, Rabu (13/5/2026)
Kelima buku tersebut merupakan keluaran dari mata kuliah jurnalistik yang diampu oleh Usman Roin. Acara tersebut dibuka dengan pemaparan sinopsis dari masing-masing perwakilan kelas.
Umam, perwakilan dari PAI B yang membawa buku berjudul Menjaga Warisan Leluhur, menyampaikan bahwa kearifan lokal merupakan kompas identitas yang dimiliki mahasiswa. “Lokalitas merupakan kompas identitas kita,” ujarnya.
Selain Umam, Iil dari PAI C yang membawa buku Semua Tentang Daerahku menceritakan dengan gembira salah satu tulisan temannya tentang tradisi bubur sengkala. Bubur ini merupakan simbol harapan dan permohonan perlindungan dari sengkala, dari segala sesuatu yang buruk. Yang lebih istimewa, bubur itu diwadahi takir, yakni daun pisang yang dilipat menyerupai perahu kecil.
Dalam buku mereka, takir dimaknai sebagai menangkap pikir, ajakan untuk selalu berpikir. “Pemuda sekarang harus melakukan takir, menangkap pikir. Harus peka terhadap daerahnya sendiri, tahu identitasnya, sebelum mengagumi daerah lain,” tutur Iil.

Selain pemaparan sinopsis, acara tersebut juga diisi dengan guest lecture oleh dua narasumber. Salah satu narasumber, Titis Anganten W, Kepala Bidang (Kabid) Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bojonegoro. Ia membawakan materi berjudul Kontribusi Karya Lokal untuk Memajukan Literasi Bojonegoro.
Ia menekankan bahwa literasi sejati tidak berhenti ketika buku ditutup. “Literasi tidak hanya membaca, tapi sampai mendapat manfaat dari membaca itu,” ujar Titis.
Titis berharap, kelima buku tersebut tidak hanya dibaca, tapi juga bisa memberi manfaat kepada pembaca.

Narasumber lainnya, Nanang Fahrudin, penulis buku Bojonegoro Tempo Doeloe menyampaikan soal Urgensi Karya Tulis Lokal yang Lahir dari Kampus.
Nanang memberikan catatan pada kelima buku tersebut. Menurutnya, buku antologi seperti ini akan lebih kuat bila disusun berdasarkan tema bukan berdasarkan kelas. Semisal, satu buku membahas kuliner, sejarah, adat istiadat, dan lain sebagainya. “Agar setiap buku lebih runtut dan mendalam,” ujarnya.
Soal proses menulis itu sendiri, Nanang menganalogikannya dengan memasak. “Menulis itu seperti memasak. Kalau lama tidak memasak, pasti akan berubah rasanya.” Artinya, menulis adalah keterampilan yang harus terus diasah dan ditingkatkan levelnya.
Menurut Nanang, aktivitas menulis yang dilakukan para mahasiswa adalah bentuk kerja-kerja pengarsipan kearifan lokal. “Yang dilakukan teman-teman adalah cara mengarsip budaya lokal,” ungkapnya.









