Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Pendidikan

Imajinasi Toko Buku dalam Buku

Nanang Fahrudin
15/06/2026
Imajinasi Toko Buku dalam Buku

Sumber: PIxabay

Tak banyak buku yang kubaca berbicara tentang toko buku. Fiksi maupun non fiksi. Memang, boleh jadi, bukan lantaran minimnya buku-buku bertema toko buku, tapi aku aja yang kebetulan enggak bertemu buku-buku itu.

Dari sedikit buku yang kubaca, entah kenapa semakin menebalkan imajinasiku tentang keindahan toko buku. Keindahan yang membawa serta kedamaian, kesadaran, keakraban, dan kesederhanaan. Rupa apapun sebuah toko buku, maka imajinasiku akan selalu beranjak menyusuri lorong-lorong indah, membawa kegembiraan yang tak terkatakan, dan … semua ada di imajinasiku.

Anda boleh menertawakan apa yang kurasakan, tapi memang benar begitulah perasaanku. Pada tahun 2011 an, hampir tiap hari aku ke Kampung Ilmu Surabaya, pusat buku bekas. Tak pernah ada rasa bosan menyusuri lapak-lapaknya. Terkadang, jika belum “kenyang”, aku akan keluar menyusuri Jalan Semarang hingga ujung yang berdekatan dengan stasiun Pasar Turi. Jika belum “kenyang” juga, aku akan bergeser ke Pasar Blauran atau toko buku Anda. Sampai-sampai, aku pernah memimpikan akan menyewa satu lapak untuk “kamar kost”.

Imajinasiku akan toko buku kembali “hidup” ketika membaca tulisan Arif Zulkifli berjudul “Berburu Buku di Surga” dan “Old Books Never Die” yang masuk di buku “Jurnalisme di Luar Algoritma” yang diterbitkan Tempo Publishing (2023). Membaca tulisan ini, aku merasakan berada di sebuah kota yang dipenuhi toko buku, begitu lengkap, seperti sebuah kota khayalan.

Arif yang merupakan jurnalis kawakan Tempo, menulis features tentang kota buku bernama Hay-on-Wye di Inggris. Dua tulisannya tersebut merujuk kota berpenduduk 1.500 jiwa tersebut. Kota kecil itu benar-benar dibangun dari mimpi menjadi kota buku dengan lorong-lorongnya penuh dengan toko buku. Pengunjung akan diajak berwisata melihat buku. Wow!!!

Aku pun teringat sebuah buku yang membahas toko buku. Judulnya Book’s Kitchen karya penulis Korea Kim Jee-hye (cetakan ketujuh, 2025). Toko buku ini pun begitu memesona. Pengunjung hadir, meminjam buku, bebas menulis apa saja untuk dirinya sendiri, saling bertukar buku, dan pulang membawa ketenangan pada dirinya sendiri.

Pada buku yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama ini, toko buku diimajinasikan sebagai ruang untuk menyembuhkan luka batin. Lelah bekerja, sumpek urusan keluarga, kehilangan jati diri, dan entah masalah kejiwaan apapun, akan luruh ketika masuk ke toko buku yang bernama Soyang-ri Book’s Kitchen. Yu-jin, sebagai pemilik toko buku, secara tidak langsung berkampanye tentang pentingny toko buku di sebuah kota terpencil.

Imajinasi toko buku di “Book’s Kitchen” ini makin membuncah ketika membaca buku “Selamat Datang di Toko Buku Hyungnam-dong” yang juga karya penulis Korea. Yakni Hwang Bo-reum. Buku ini sunggu membawaku ke sebuah gambaran toko buku “sempurna”. Bayangkan, toko buku itu di sebuah kota kecil, bukan di kota besar. Awalnya sepi, tapi dengan bertemunya para pengunjung yang berbeda latar belakang, membentuk sebuah dunia baru. Sebuah “dunia toko buku”, tak sekadar toko buku dalam artian jual buku.

Di Toko Buku Hyunam-dong, Yeong-ju dan Min-joon seperti magnet, membawa orang-orang mendekat, yang kemudian membangun sebuah dunia bersama: “dunia toko buku”. Pengunjung tak cuma hendak membeli buku, tapi juga menikmati kopi, mengikuti kelas menulis, kelas membaca, kelas merajut, dan bertemu dengan penulis. Toko Buku Hyunam-dong adalah imajinasi sempurna sebuah toko buku. Itu bagiku sih.

Selamat Datang di Toko Buku Hyunam-dong dan Book’s Kitchen memang karya fiksi. Tapi, novel itu menghidupkan imajinasi banyak pembaca, termasuk aku. Jadi, menurutku, novel itu tak sekadar mengajak orang membacanya, tapi juga mengimajinasikan toko buku, menempatkan toko buku dalam posisi penting dalam kehidupan masyarakat. Dan dua tulisan jurnalistik Arif Zulkifli di buku “Jurnalisme di Luar Algoritma” semakin meneguhkan bahwa toko buku unik itu memang benar-benar nyata. Tak hanya fiksi.

Akhirnya, aku memerlukan menarik nafas panjang, lalu membiarkan imajinasiku mengembara, ke toko-toko buku yang pernah kudatangi. Aku biarkan imajinasiku bebas membangun dunianya. Dunia toko buku.

Salam buku!

Tags: ImajinasiToko Buku
Previous Post

ARSIP KORAN 1980: Bojonegoro Punya 485 Taman Gizi

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Dari Warisan Keluarga, Kerupuk Klenteng Bojonegoro jadi Warisan Budaya Tak Benda

Dari Warisan Keluarga, Kerupuk Klenteng Bojonegoro jadi Warisan Budaya Tak Benda

23/05/2026
Kolaborasi Pemuda Seni Bojonegoro, Suarakan Isu Sosial Melalui Panggung Pertunjukan

Kolaborasi Pemuda Seni Bojonegoro, Suarakan Isu Sosial Melalui Panggung Pertunjukan

30/05/2026
Warna Warni Rasa Kerupuk Klenteng

Warna Warni Rasa Kerupuk Klenteng

21/05/2026
Imajinasi Toko Buku dalam Buku

Imajinasi Toko Buku dalam Buku

15/06/2026
Jurnalistik Trip #5: Cerita Jejak Rasa Kerupuk Klenteng Bojonegoro

Jurnalistik Trip #5: Cerita Jejak Rasa Kerupuk Klenteng Bojonegoro

17/05/2026
Membaca Wigati, Membaca Batin Perempuan Jawa Pesantren

Membaca Wigati, Membaca Batin Perempuan Jawa Pesantren

31/05/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023