Tak ada guna permusuhan/Tak ada guna pertengkaran/ Mari jalin persahabatan/ Rukun sama teman/ Banyak kawan kita tenang/ Banyak sahabat kita hebat/ Mari bergandeng tangan/ Mukun sama teman
Lirik lagu itu dinyanyikan bocah 11 tahun di panggung. Dia nampak percaya diri dan menghayatinya. Panggung dan tempat penonton tak ada yang lebih tinggi. Sama-sama rendah. Beralaskan karpet. Hanya dibatasi tumpukan balon warna putih. Di balik karpet adalah paving pada sebuah gang kecil, yakni gang Bader kelurahan Ngroworejo, Kecamatan Bojonegoro Kota.
Khusus untuk Sabtu (11/7/2026) malam, gang ditutup untuk acara malam pentas seni Festival Bocah Dolan. Festival ini sudah digelar seminggu sebelumnya, sebanyak 12 jenis macam acara, dan malam itu adalah puncaknya. Anak yang menyanyikan lagu karangan Profesor Abdul Mukti itu adalah Safna. Dia adalah salah satu penampil dalam acara yang digelar oleh Sanggar Dunia Imajinasi.
Safna mengatakan baru pertama kali ini membawakan lagu ini di depan bnyak orang. “Saya suka lagu ini. Gak tahu pengarangnya siapa. Suka soalnya tentang teman yang baik,” kata Safna di sela-sela bising suara anak-anak.
Jalan dipenuhi oleh sekitar 65 orang. Sebagian besar mereka adalah anak-anak. Sebagian lagi orang dewasa. Ada juga yang lansia. Saya menyapa seorang perempuan lansia yang tengah menonton dengan antusias. Bibirnya setengah terbuka lebar. Saya menanyai di mana dari sekian anak ini yang merupakan cucunya. Dia tak memperhatikan sapaan saya. Saya mengulangi sapaan saya. Dia masih tak bergeming. Rupanya penampilan anak-anak begitu menghipnotisnya.
“Penampilan selanjutnya tak kalah seru. Kalian mau tahu? Mau tahu atau mau tahu banget?”
Dua anak berduet memandu acara. Aireylin dan Gefia. Meraka akan duduk di bangku SMP. Sepanjang tiga jam acara berjalan, merekalah yang memandunya. Mereka cekatan dalam mengatur jalannya acara. Saling sahut dan menghidupkan suasana.

Sanggar Imajinasi didirikan oleh Agung Riduwan Asmaka, warga setempat. Meski tinggal di sebuah gang sempit, Agung sudah melalangbuana. Dia punya pengalaman cukup banyak dalam aktivitas pendidikan. Tahun 2023 dia menjadi relawan pendidik di SD Negeri kampung Reda Meter, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Pada tahun 2020 lalu dia menjadi runner up pemuda pelopor bidang pendidikan tingkat Jawa Timur. Dia mengaku tidak mengira bisa sampai tahap itu.
“Pokoke budal, Mas. Nekat pol,” katanya yang saya temui beberapa hari sebelumnya.
Dia menderita disleksia. Awalnya dia tidak tahu. Dia hanya merasa lambat dalam memahami sesuatu. Seorang teman baik di kampus menyadarkannya. Tapi itu tak menjadi hambatan bagi Agung untuk berkarya.
Kegigihannya membuat dia mendapat undangan di program Hitam Putih di sebuah TV nasional pada tahun 2019 lalu. Acara tv itu cukup mentereng, karena digawangi oleh Deddy Corbuzier, mantan pesulap yang sekarang aktif sebagai Youtuber terkenal. Di hadapan Deddy, Agung menceritakan beratnya masa kecil yang dialaminya. Ia kerap dianggap bodoh atau tertinggal di lingkungan sekolah karena kesulitannya dalam membaca dan menulis. Dia juga kerap mendapat bully dari kawan-kawannya.
Barangkali Agung adalah contoh seperti yang ditulis Malcolm Gladwell dalam bukunya David and Goliath. Dalam salah satu judul tulisan pada buku itu, Gladwell mengungkap kasus bahwa keterbatasan seperti disleksia atau cacat fisik tertentu bisa mendorong seseorang untuk berkembang secara terampil dan unik.
Perjalanan hingga menjadi Sanggar Dunia Imajinasi cukup panjang. Sekitar 2015 Agung mendirikan Perpus GatDa, singkatan dari Semangat Muda. Dia memanfaatkan becak ayahnya yang sudah tidak dipakai untuk keliling menyediakan buku gratis. Ia kerap melapak saat CFD di alun-alun Bojonegoro. Menyediakan bacaan sembari mendongeng dengan boneka tangan. Agung juga mendirikan Les Basa, bayar sampah. Dalam les ini anak-anak peserta les tidak bayar dengan uang, melainkan dengan sampah.
Kedekatannya dengan dunia anak membangkitkannya kesadaran bahwa anak-anak yang cenderung nakal tidak sepenuhnya nakal. Tapi butuh untuk diperhatikan. Mereka melampiaskannya dengan kenakalan agar diperhatikan. Itu pula yang menjadi motivasi besarnya menggelar Festival Bocah Dolanan. Menyediakan panggung bagi anak untuk unjuk diri dan karya.
“Saya merasa prihatin dengan anak-anak yang tidak bisa liburan ke luar kota. Mereka gabut dan bisa berbuat nakal. Karena kesibukan orang tua. Anak nakal itu sejatinya kurang perhatian. Mereka melampiaskannya dengan kenakalan. Saya awalnya tak tahu. Tapi seiring berjalannya waktu saya menyadarinya,” kata Agung.
Banyak anak yang cenderung nakal ikut kegiatan di Sanggar Dunia Imajinasi. Sebagian besar mereka sembuh.
Pada awal ikut mereka suka jahil kepada anak lain. Agung memberikan kesempatan mereka untuk unjuk diri. Mereka bisa apa dan mau menampilkan apa. Kenakalan mereka terlampiaskan dengan penampilan atau unjuk diri.
Namun tak semuanya berubah. Ada seorang anak bahkan sampai parah nakalnya. Kedua orangtuanya bercerai. Dia beberapa kali ikut kegiatan di sanggar milik Agung. Dia kerap bikin ulah dengan anak lainnya. Kalau sudah nakalnya kambuh dia bisa mengancam anak lain pakai benda tajam.
“Temanku yang bertato saja sampai ketakutan Mas. Kasihan anak itu,” katanya mengenang.
Wajah Agung tampak penuh sesal. Kabarnya, kata Agung, anak itu sudah beranjak remaja. Tak terurus. Ada yang bilang anak itu pernah masuk penjara karena hampir menikam orang.
***
Festival Bocah Dolanan ini digelar setahun sekali saat anak-anak libur sekolah. Ada 12 rangkaian acara di Festival Bocah Dolanan yang berlangsung selama delapan hari. Dari tanggal 4 hingga tanggal 11. Rangkaian acara festival dimulai dengan workshop menanam hidroponik, belajar dari asyik dengan jurnal, dolanan tradisional, pelatihan dokter cilik, workhop korah-korah, umbah-umbah dan nyapu, pameran karya dan lain sebagainya. Ditutup dengan panggung bocah pada Sabtu (11/7) malam. Sebagian pengisi acara adalah praktisi. Pada workshop belajar dengan jurnal pengisi acaranya adalah seorang aktivis Relima, Impong Nasir. Impong membagikan cerita inspirasi pentingnya membuat jurnal atau catatan harian.

Workshop dokter cilik yang menjadi pengisi adalah dr. Desi Fitri, seorang dokter muda, yang berbagi tentang penanganan pertolongan pertama ada kecelakaan atau P3K.
Sebagian acara lagi yang menjadi pengisi acara adalah anak-anak sendiri yang sudah terlatih secara mental dan kemampuan. Pada workshop menyapu, korah-korah, umbah-umbah misalnya, yang menjadi pelatih adalah Sahira, anak berusia 11 tahun yang baru lulus SD hendak masuk SMP tak lama lagi.
Agung menceritakan, tahun ini workshopnya beda. Ada korah-korah, umbah-umbah, dan menyapu. Dia mengaku itu kemampuan dasar yang sepertinya harus dimiliki setiap orang. Tidak semua orang beruntung bisa melakukannya. Perlu dilatih. Dia berkaca dirinya sendiri yang baru bisa korah-korah belum lama ini.
“Ya waktu di Reda Meter itu. Saya tidak bisa nyuci piring sendiri habis makan. Ditertawakan saya Mas,” katanya mengenang.
Panggung Bocah menjadi gong keseluruhan acara Festival Bocah Dolanan. Pengisi acara maju ke panggung silih berganti. Ditutup oklik yang diisi anak-anak setempat. Mereka menabuh alat musik dari drum bekas yang dirangkai sedemikian rupa pada sebuah gledekan. Anak-anak berdiri dan menyanyi bersama. Itu pementasan terakhir. Acara ditutup dengan nyanyian sayonara.









