Melanjutkan usaha kuliner keluarga, bukan sekedar urusan ekonomi. Akan tetapi juga sebuah usaha merawat warisan rasa dan sejarah kuliner. Begitulah yang dilakukan Miftahur Rohmah, perempuan yang meneruskan usaha orangtuanya, memproduksi dumbek.
Sebagai jajanan lokal, dumbek memang tak seterkenal kuliner lokal macam gethuk atau serabi. Dumbek hanya diproduksi di daerah yang banyak pohon siwalan. Dan itu banyak di Kabupaten Tuban.
Di tengah perubahan zaman yang semakin modern, Miftahur Rohmah tetap setia memproduksi dumbek. Brand yang digunakan adalah Dumbek H. Sahenan. Sahenan adalah nama bapaknya. Sejak didirikan puluhan tahun silam, Dumbek H. Sahenan tetap bertahan di tengah banyaknya produsen dumbek di sekitarnya yang telah gulung tikar. Perjuangan yang diwariskan dari orangtuanya membuat usaha tersebut tetap bertahan hingga kini.
Ayah Mifta (panggilan akrab Miftahur Rohmah) membangun usaha dumbek dari tahun 1990-an. Dengan dibantu istrinya, ia mampu menjadikan usaha dumbeknya bertahan hingga diwariskan ke anaknya sejak 3 tahun terakhir.
Proses pembuatan dumbek menjadi proses yang panjang dan melibatkan sejumlah pekerja. Mulai dari pemilihan bahan pembuatan adonan, hingga pengiriman pesanan ke pelanggan. Pembuatan wadah dumbek tidak bisa menggunakan sembarang bahan, daun lontar dipilih karena lebih kokoh daripada daun lain. Daun lontar yang didatangkan dari pemasok diolah terlebih dahulu menjadi wadah dumbek yang berbentuk kerucut panjang.

Adonan dumbek terbuat dari campuran antara tepung beras dan gula merah. Dumbek H. Sahenan tidak menggunakan tepung beras siap pakai, beras dibeli dari pemasok, lalu digiling sendiri hingga menjadi tepung. Kualitas gula merah juga menjadi pertimbangan dalam pemilihan bahan adonan, tidak semua gula merah cocok untuk dibuat adonan dumbek.
“Dari sekian banyaknya tempat, hanya ada satu toko di pasar Rengel yang sesuai dengan kualitas yang kami cari,” katanya.
Setelah adonan dumbek jadi, kata dia, selanjutnya dituangkan satu per satu ke wadah yang telah dibuat, sebelum dimasak di atas pawon. Dalam proses memasak, pawon atau tungku berbahan bakar kayu lebih sering digunakan daripada kompor gas karena pertimbangan waktu dan biaya produksi. Meski demikian, kompor gas tetap disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan pesanan. Setelah matang, dumbek dikemas dan siap dikirimkan.
Produksi Dumbek H. Sahenan menyesuaikan jumlah pesanan agar produk tetap segar saat diterima pelanggan. Proses pembuatannya dapat berlangsung sejak dini hari, pagi, siang, hingga sore atau malam hari, tergantung pada kebutuhan pesanan.
Untuk menjaga ketersediaan stok, adonan dibuat melebihi jumlah pesanan yang masuk. Sisa adonan kemudian disimpan di lemari pendingin agar tetap dapat digunakan untuk proses pembuatan dumbek berikutnya. Stok tersebut biasanya habis terjual dalam sehari. Ketika persediaan habis, adonan kembali dibuat untuk memenuhi kebutuhan produksi dan menjaga ketersediaan dumbek bagi pelanggan.
Dalam menjalankan usaha Dumbek H. Sahenan, Mifta dibantu 10 pekerja yang terlibat dalam produksi hingga pengiriman. Sebanyak lima orang bertugas membuat wadah dari daun lontar, satu orang menangani bahan daun lontar, dua orang memasak adonan menjadi dumbek, dan dua lainnya bertugas mengantarkan pesanan kepada pelanggan. “Mereka para pekerja merupakan warga sekitar yang turut membantu keberlangsungan usaha ini,” terangnya.
Mifta menjelaskan, cara penjualan saat ini berbeda dengan dulu. Saat masih dikelola oleh sang ayah, ia mengandalkan penjualan di Pasar Rengel setiap pagi dan juga menerima pesanan di rumah. Sempat berjalan lancar, namun pesanan pelanggan di rumah meningkat banyak. Akhirnya ia mengurangi aktivitas penjualan di pasar.

Setelah usaha dipegang oleh Mifta, penjualan dikembangkan lewat distribusi ke toko-toko, yang mencakup wilayah Tuban dan Bojonegoro. Setiap pagi kurir bertugas mengantarkan dumbek ke toko-toko tersebut.
Meski jumlah penjualan mengalami pasang surut, pesanan tetap datang setiap hari. Pelanggan biasanya datang langsung ke rumah produksi untuk memesan dumbek, baik pesan sedikit untuk konsumsi sendiri maupun dalam jumlah banyak. Selain pelanggan lokal, terdapat pula pelanggan dari luar kota, termasuk seorang pelanggan dari Surabaya yang rutin memesan setiap bulan.
Bagi pesanan harian, biasanya pelanggan datang langsung ke rumah untuk mengambil pesanan. Sementara itu, untuk pelanggan dari luar kota, dumbek dikemas menggunakan plastik vakum agar tidak basi. Biasanya dumbek dapat bertahan hingga lima hari selama di dalam plastik. Setibanya di tujuan, dumbek dapat dihangatkan kembali agar lebih nikmat saat dikonsumsi.
Di era yang serba digital ini, Mifta juga mengubah strategi promosi. Jika sebelumnya promosi dilakukan melalui platform media sosial Facebook, kini Mifta mulai memanfaatkan TikTok untuk memperkenalkan Dumbek H. Sahenan kepada pasar yang lebih luas. Upaya ini telah berjalan sekitar satu tahun dan membuka peluang bagi pelanggan dari luar kota lewat fitur toko di TikTok.
Melalui TikTok, pesanan dari luar kota datang hampir setiap hari. Jumlahnya bervariasi, mulai dari 2-5 pesanan hingga puluhan pesanan pada periode tertentu, seperti awal bulan ketika banyak orang menerima gaji.
Di sisi lain, Dumbek H. Sahenan masih menghadapi kendala dalam memenuhi pesanan pelanggan. Salah satu tantangan utamanya adalah ketersediaan daun lontar yang digunakan untuk membuat wadah dumbek. Daun lontar yang didapatkan dari dua pemasok masih belum mencukupi lonjakan permintaan pada saat tertentu.
Terutama menjelang Hari Raya Idul Fitri, pesanan dapat mencapai 5.000 hingga 6.000 buah. Sementara itu, hanya lima pekerja yang mengolah daun lontar menjadi wadah dumbek. Kondisi ini membuat keterbatasan persediaan bahan baku dan kemampuan produksi menjadi tantangan tersendiri bagi usaha tersebut.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Mifta tetap berupaya mempertahankan usaha Dumbek H. Sahenan yang telah diwariskan keluarganya. Dengan memanfaatkan media sosial, ia berharap bisa bertahan dan memperluas jaringan distribusi.
Ke depan, Mifta berharap dapat membuka cabang di wilayah perkotaan agar lebih mudah menjangkau pelanggan yang selama ini terkendala jarak. Upaya tersebut menjadi langkah untuk membawa Dumbek H. Sahenan terus berkembang tanpa meninggalkan tradisi yang telah menjadi bagian dari perjalanan usaha keluarganya.
—
Penulis adalah peserta Sekolah Jurnalistik Mastumapel









