Tentu saja, saat ini semua informasi yang kita butuhkan bisa diperoleh lewat gadget. Dan kita akan tetap sehat walafiat tanpa memegang buku. Tapi, apakah kemudian kita merasa hidup telah lengkap? Jika jawaban Anda: tanpa buku hidup kurang lengkap. Ya, maka berarti kita satu frekuensi. Maka lanjutkan membaca.
Tahun 2012 an, aku berjikabu dengan bisnis buku. Membuka lapak buku lawas online di blogspot dan facebook. Buku-buku lawas, saya cari dari berburu buku tiap hari di Jalan Semarang dan Pasar Blauran di Surabaya. Terkadang di toko buku tua Karya Anda.
Hari-hariku adalah berburu buku, untuk kujual lagi dan sebagian kusimpan. Buku jualan kuposting di blogspot dan facebook. Hampir tiap hari ada saja pembeli. Sebagai komitmen memberi pelayanan terbaik (ehem), buku-buku bekas itu aku sampuli plastik. Juga aku beri bonus stiker bertuliskan: Buku Lawas Online. Dengan sampul plastik, minimal kelihatan makin menarik hati. Sayang, lebih banyak buku yang kusimpan daripada kujual.
Kerjaan yang berpindah-pindah tempat, Bojonegoro, Jakarta, Surabaya, lalu Yogyakarta, membuat ritual berburu buku makin padat, dan menjual buku makin tenggelam. Pada 2014 an (kalua tidak salah ingat), aku mengencangkan lagi niat berdagang buku, membuka lapak kecil di Jalan Patimura Bojonegoro. Namanya: KOBUKU.
Setahunan KOBUKU hadir. Aku memadukan toko buku offline dan online. Lumayan juga. Tapi lagi-lagi sayang, sahwat bisnis kurang besar, sedang gairah mengoleksi makin menjadi-jadi. Kerjaan yang mobat-mabit membawaku ke Jakarta, jauh di tengah laut. Meski telah dibantu seorang kawan untuk menghidupkannya, KOBUKU tetap saja harus tamat.

Dan akhir-akhir ini, mimpi menghidupkan KOBUKU kembali menguat. Dan setelah bersemedi lama, akhirnya kucoba menguatkan ide: KOBUKU lahir kembali. Namun, kini tak lagi sebagai toko buku. Melainkan sebagai ruang membaca dan bersua. Mengajak para pemustaka untuk memegang buku, mencium aroma kertas, dan menjelajahi kata demi kata. Lokasinya di ruang tamu rumahku.
Mungkin memang ini hanya sebatas untuk romantisme belaka. Dan memang tak bisa dibantah. Bukankah mencium aroma kertas adalah romantisme seorang pembaca. Kecerdasan buatan dan segala hal digital boleh saja mengiming-imingi kita untuk selalu menjauhi kertas. Membengkokkan pikir bahwa aroma kertas adalah aroma kemunduran peradaban.
Tapi, ini tak perlu ditanyakan kedua kalinya, bagiku, dan mungkin bagi Anda penyuka aroma kertas, dianggap mundur bukan persoalan penting. Karena terpenting adalah bisa mencium aroma kertas, kapanpun. Toh, apakah maju itu selalu membahagiakan?
Itulah salah satu alasanku menghidupkan kembali KOBUKU dan menguarkan aroma kertas. Kepada siapa? Aku tak tahu juga pastinya. Mungkin, kepada Anda yang membaca tulisan ini.
Salam aroma kertas!
Untuk alamat dan buku-buku yang recommeded untuk dibaca, ikuti Instagramnya:
View this post on Instagram
_________
Nanang Fahrudin, Founder KOBUKU









