Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Mitos & Sejarah

Pergolakan Politik dan Agama Masa Keruntuhan Majapahit hingga Keruntuhan Demak

Review Buku Ahangkara

Redaksi
14/01/2024
Pergolakan Politik dan Agama Masa Keruntuhan Majapahit hingga Keruntuhan Demak

Peninggalan Demak

Penulis: Nanang Fahrudin

Kerajaan Majapahit mengalami masa kejayaan era Raja Hayam Wuruk. Selepas itu, pamor Majapahit terus meredup. Perpecahan demi perpecahan terus menggerogoti kebesaran Majapahit. Perebutan tahta dari keluarga keraton terus membayang hingga muncul kerajaan baru, Demak Bintoro.

Sebuah kisah yang disajikan dengan bahasa sastra namun penuh dengan data sejarah ditulis oleh Makinuddin Samin dalam bukunya berjudul ‘Ahangkara; Sengketa Kekuasaan dan Agama’ terbitan Javanica (2017). Penulis cukup berani memberi perspektif agama pada tiap pergolakan politik. Terutama memasukkan tokoh-tokoh Wali Songo dalam cerita.

Buku Ahangkara karangan Makinuddin Samin

Coba saya ringkaskan kisahnya untuk Anda.

Pamor Majapahi meredup dan mengalami titik terendah ketika Jimbun (kelak dikenal dengan Raden Patah) menyerang Majapahit dan mendirikan Demak. Secara faktual, kekuasaan Majapahit sudah runtuh, meski raja dipegang oleh Girindrawardana dan memindah ibukota dari Trowulan ke Dahanapura.

Siapa Jimbun? Jimbun adalah putra Prabu Brawijaya V atau Batara Kertabumi, dari seorang selir berdara Tiongkok bernama Siu Ban Ci yang beragama Islam. Kecantikan Siu Ban Ci memantik api cemburu sang permaisuri Dewi Amarawati yang berdarah Campa.

Saat hamil muda, Siu Ban Ci diberikan kepada Adipati Palembang Arya Damar. Setelah melahirkan, Siu Ban Ci dinikah oleh Arya Damar. Anak hasil dari perkawinan dengan Raja Brawijaya diberi nama Raden Jimbun. Sedang anak dari perkawinan dengan Arya Damar bernama Raden Kin San.

Setelah dewasa, Raden Jimbun dan Raden Kin San berlayar ke Jawa, berguru ke Sunan Ampel. Oleh sang Sunan, kedua raden tersebut diganti nama menjadi Raden Kasan dan Raden Kusen. Hingga pada tahun 1400 saka, Jimbun menyerang kerajaan ayahnya sendiri, Majapahit dan menaklukkannya. Ia kemudian mendirikan Demak. Oleh para wali tanah jawa Jimbun diberi julukan Patah yang artinya sang penakluk. Artinya Jimbun melawan bapaknya sendiri.

Singkat kisah, Demak menjadi kerajaan besar. Wilayahnya terus meluas. Raden Patah digantikan Panembahan Unus. Setelah itu ada pembunuhan Pangeran Surawiyata/Raden Kinkin/Raden Sekar Seda Lepen. Surawiyata merupakan ayah dari Arya Penangsang.

Kita tahu sejarah mencatat, setelah Adipati Unus mangkat, Demak digantikan oleh Panembahan Trenggana. Di kemudian hari, trah Surawiyata (Arya Penangsang) membalas dendam dengan menghancurkan Demak yang dipegang oleh Raden Mukmin (anak dari Trenggana). Arya Penangsang berkuasa di Jipang Panolan.

Dalam buku ini dikisahkan pergolakan politik dan agama dalam tiap peralihan kekuasaan Demak hingga Jipang. Membaca buku ini juga memudahkan kita memahami bagaimana urut-urutan sejarah dengan mudah, serta ketegangan-ketegangan yang terjadi.

Dan fakta terpenting, Tuban mempunyai peran penting dalam tiap pergolakan tersebut. Ketika Panembahan Trenggana hendak menaklukkan wilayah-wilayah Brang Wetan, Tuban bersiasat dengan menyatakan bersekutu dengan Demak. Di bawah Adipati Gegilang, Tuban bersiasat bersekutu untuk kemudian menghancurkan Demak. Sebagaimana Raden Wijaya bersekutu dengan pasukan Tartar memerangi Jayakatwang, namun akhirnya pasukan Tartar dilibas juga. Siasat Tuban berhasil. Trenggana meninggal dalam peperangan di Panarukan.

Bagaimana pergolakan agama juga dihadirkan oleh penulis dalam buku Ahangkara ini. Yakni Ki Gede Basir yang mempunyai keyakinan Islam yang kaku ingin mengislamkan tanah Jawa dan hendak menghancurkan sisa-sisa peninggalan Majapahit yang berpegang pada agama Siwa. Termasuk candi-candi di Jawa, yang salah satunya Candi Ambulu di Bulu-Bancar Tuban.

Ki Gede Basir menyusupkan murid-muridnya ke pasukan Demak, dan bahkan mendahului pasukan Demak ke wilayah Brang Wetan. Cara Ki Gede Basir ini ditentang oleh Sunan Kudus, Sunan Kalijaga dan para wali tanah jawa lainnya. Karena Islam yang diajarkan para wali, tidak mempertentangkan Jawa dan Islam.

Ketika Trenggana mangkat, benih-benih perebutan kekuasaan pun mulai tampak. Arya Penangsang yang semula hanya diam, namun ketika didesak keluarganya untuk membalas dendam atas kematian Surawiyata, sang ayah, Penangsang pun mengangkat senjata.

Demak kemudian dipimpin oleh Raden Mukmin. Namun, tak lama berselang, Arya Penangsang menyerbu Demak. Pangeran Kalinyamat meninggal ketika rombongannya dicegat pasukan yang menyamar atas perintah Arya Penangsang. Raden Mukmin pun mangkat. Dan Demak akhirnya runtuh.

Arya Penangsang tak melanjutkan Demak. Ia memilih tetap berkuasa di Jipang Panolan. Karena dalam penglihatan mata batinnya, sebelum perang, Penangsang melihat dirinya menggenggam masjid demak, tapi kubah masjid tidak ada dan dibawa oleh kunang-kunang ke selatan. Arya Penangsang menjadi raja Demak tapi tanpa mahkota.

Sejarah mencatat kemudian, Jipang ditaklukkan Pajang. Dan Pajang di bawah Sultan Hadiwijaya, atau Mas Karebet/Jaka Tingkir menjadi kerajaan besar. Sedang Jipang Panolan runtuh selepas kematian Arya Penangsang.

Oh ya, ada yang juga sangat menarik. Yakni gambaran bagaimana majlis wali (wali tanah jawa) ikut mempengaruhi roda sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa. Ketika Trenggana mangkat, digelar pasamuhan yang dihadiri oleh semua wali. Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Pratikal (Sunan Prapen), dan wali lainnya. Pasamuhan dipimpin oleh Sunan Demak, yang merupakan keturunan Sunan Ampel Denta dan tidak memiliki kedekatan dengan anak-anak atau keluarga dari Trenggana.

Kedekatan Sunan Kudus dengan Arya Penangsang juga digambarkan dengan sangat menyentuh. Bagaimana Sunan Kudus yang langsung mengusulkan Arya Penangsang menggantikan Trenggana, meski akhirnya ditolak oleh para hadirin. Arya Penangsang adalah murid kesayangan Sunan Kudus.

Ah, sebaiknya Anda langsung membacanya sendiri. Merasakan langsung suasana masa lampau, masa kerajaan Majapahit, Demak, hingga Jipang Panolan. Merasakan lewat kalimat-kalimat yang disusun penuh makna oleh sang penulis, Makinuddin Samin.

Satu lagi. Lalu apa makna Ahangkara sendiri? Silakan membaca, diantaranya ada di halaman 239. Salam.

TONTON JUGA INI

Tags: Kerajaan DemakMajapahitPajangSejarah
Previous Post

Perlawanan Hebat di Temayang Bojonegoro Mempertahankan Kemerdekaan di Agresi Belanda 1949

Next Post

Pembacaan Kritis Atas Sosok Panembahan Senopati Raja Mataram oleh Sejarawan De Graaf

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Garis Batas: Perjalanan Menyingkap Makna Kehidupan

Garis Batas: Perjalanan Menyingkap Makna Kehidupan

16/04/2026
AJI, KPI, dan GMNI Bojonegoro Gelar Aksi Damai Peringati Hari Kartini di Depan Kantor DPRD

AJI, KPI, dan GMNI Bojonegoro Gelar Aksi Damai Peringati Hari Kartini di Depan Kantor DPRD

21/04/2026
Bupati Setyo Wahono: Perlu Membangun Identitas Bojonegoro

Bupati Setyo Wahono: Perlu Membangun Identitas Bojonegoro

25/03/2026
Peringati Hari Kartini 2026, Perpustakaan Unugiri Gelar Talk Show Woman Campus in Kartini Days

Peringati Hari Kartini 2026, Perpustakaan Unugiri Gelar Talk Show Woman Campus in Kartini Days

21/04/2026
Menjelajahi Baureno, Ini 3 Destinasi Wisata Gerbang Timur Bojonegoro

Menjelajahi Baureno, Ini 3 Destinasi Wisata Gerbang Timur Bojonegoro

26/03/2026
ASN Bojonegoro Diimbau Ngonthel ke Kantor Mulai 30 Maret 2026, Cek Ketentuan Jaraknya

ASN Bojonegoro Diimbau Ngonthel ke Kantor Mulai 30 Maret 2026, Cek Ketentuan Jaraknya

29/03/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023