Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Mitos & Sejarah

Pembacaan Kritis Atas Sosok Panembahan Senopati Raja Mataram oleh Sejarawan De Graaf

Redaksi
08/01/2024
Pembacaan Kritis Atas Sosok Panembahan Senopati Raja Mataram oleh Sejarawan De Graaf

Panembahan Senopati/Wikipedia

Oleh Nanang Fahrudin

Hermanus Johannes de Graaf atau biasa dikenal dengan nama pendek De Graaf menulis buku berseri tentang sejarah Mataram. Mulai kemunculannya, kejayaannya, hingga keruntuhannya. Sumber yang digunakan tidak cuma Babad Tanah Jawa saja, melainkan juga dari sumber-sumber lain seperti Babad Sengkala, serta catatan-catatan orang Eropa.

Buku tersebut cukup padat dengan data-data sejarah. Tiap kejadian penting, oleh De Graaf, dicoba untuk menelisik secara kritis dengan cara mengomparasikan berbagai sumber. Lalu, sebagai sejarawan, dia menunjukkan hasil akhir keyakinannya dari pembacaan kritis tersebut.

Dan buku yang baru saya, adalah buku De Graaf berjudul Awal Kebangkitan Mataram, Masa Pemerintahan Senopati. Buku ini diterbitkan oleh Grafiti Pers pada 1985. Buku memang tak tebal-tebal amat, akan tetapi, wah, datanya cukup padat. Orang kekinian mengatakan dengan istilah ‘daging semua’.

Tapi, saya akan mencoba merangkum secara singkat saja, tentang isi buku ini. Oh ya, seandainya anda hendak membaca, dan anda sudah membaca novel sejarah Api di Bukit Menoreh karangan SH Mintardja, maka pembacaan akan buku De Graaf ini akan lebih menyenangkan.

Pengalaman saya, ketika membaca buku De Graaf ini, memori saya akan tertuju pada imajinasi penggambaran saya saat membaca halaman demi halaman Api di Bukit Menoreh. Apa alurnya sama? Tentu saja ada perbedaan-perbedaan. Dan menariknya, setiap kali ada perbedaan pemaknaan, kita pasti akan merasakannya.

Baiklah, saya memulai dari silsilah Panembahan Senopati saja.

Panembahan Senopati adalah anak dari Bagus Kacung atau Ki Gede Pamahanan atau Ki Gede Mataram. Kakeknya bernama Ki Ageng Ngenis. Sedang kakek buyutnya bernama Ki Ageng Selo.  Lalu siapa Ki Ageng Selo?

Babad Tanah Jawa menyebut, Kiai Ageng Selo awalnya ingin menjadi tamtama di Demak. Sebagai bukti keunggulannya, ia menghancurkan kepala banteng dengan sekali pukul. Namun, ternyata itu ditolak karena ia membuang muka takut dengan cipratan darah. Kiai Ageng Selo sangat kecewa. Ia membawa beberapa orang dan menyerang istana. Serangannya gagal, dan ia melarikan diri hingga ke daerah bernama Sela.

Sedang versi Serat Kandha, disebutkan bahwa Kiai Ageng Sela, adalah abdi sultan Demak. Untuk menunjukkan kesaktian sultan ke publik, ia bertanding dengan Kiai Ageng Sela, dan mampu mengalahkannya. Namun sultan kemudian berucap, “Mungkin salah seorang keturunannya kelak akan mempunyai keberanian pahlawan yang lebih besar daripada dirinya”.  Ramalan inilah yang dijadikan pembenaran di kemudian hari untuk pendirian kerajaan Mataram.

Kiai Ageng Sela juga dikaitkan dengan kisah yang cupuk masyhur. Yakni ketika pangeran Sabrang Lor dari Demak meninggal, berkumpullah para wali di masjid untuk menentukan siapa pengganti raja. Di langit, awan gelap bergumpal disusul halilintar yang menggelar. Lalu muncullah Gede Sela yang disambar petir. Namun, Gede Sela mampu menangkap petir itu dan diserahkan kepada para wali.

Buku Awal Kebangkitan Mataram karya De Graaf/ Grafiri

De Graaf, sebagai sejarawan barat mencoba untuk menempatkan sosok Kiai Ageng Sela dalam posisi yang wajar sebagai manusia. Meski diakui bahwa ia adalah orang besar, cikal bakal trah Mataram. Posisi orang-orang dari Sela, memang cukup mendapat tempat penting di masa Kerajaan Pajang. Tak heran, kemudian Raja Pajang (Jaka Tingkir) mengambil Senopati atau Bagus Srubut atau Bagus Kacung sebagai anak angkat. Ini sekalin menjadi cara Raja Pajang mengikat orang-orang dari Sela untuk setia kepada Pajang. Raja Pajang kemudian memberi nama Raden Mas Danang.

Raja kemudian mengangkatnya sebagai ngabehi dengan gelar Raden Ngabehi Sutawijaya, Ini berkaitan dengan nama raja sendiri: Adiwijaya. Ia mendiami dalem di sebelah utara pasar, dan juga dikenal dengan nama Raden Ngabehi Saloring Pasar. Bahkan, ia juga disebut memimpin para tamtama.

Kisah selanjutnya, adalah bagaimana Sutawijaya membunuh Aria Penangsang dengan tombak kiai plered. Dikisahkan, Pajang hendak menaklukkan Jipang. Hingga orang-orang Selo, yakni Ki Gede Pamanahan, Ki Panjawi, Ki Juru Martani dan Sutawijaya berangkat ke Pajang dengan membawa beberapa ratus prajurit. Ki Juru Martani telah menyiapkan siasat dengan membawa kuda betina untuk memikat kuda jantan yang ditunggani Aria Penangsang, yakni Gagak Rimang.

Kita tahu kisah umum yang ada, bahwa Sutawijaya berhasil melukai Aria Penangsang hingga isi perutnya keluar dan akhirnya meninggal. Namun, lantaran tanah yang dijanjikan adalah Pati dan Mataram, maka disebutkanlah di hadapan Raja bahwa Ki Panjawi dan Ki Gede Pamanahan lah yang membunuh Penangsang. Hingga diputuskan Mataram untuk Ki Gede Pamanahan dan Pati untuk Ki Panjawi.

Kisah-kisah itu, oleh De Graaf memang tidak diabaikan. Namun menurut dia, yang paling mungkin adalah, perang Pajang-Jipang memang terjadi dengan sengit. Namun, peran orang-orang Sela, termasuk Sutawijaya tidaklah besar. Cerita-cerita itu, hanyalah sebagai pembenar atas direbutnya Mataram di tangan Ki Gede Pamanahan yang kemudian menamakan diri Ki Gede Mataram. Menurut De Graaf sangat mungkin, Ki Gede Pamanahan dan kelompoknya menyerang Mataram lalu merebutnya.

Kita tahu kisah selanjutnya adalah, Mataram menjadi kerajaan Islam yang besar. Mampu menaklukkan Pajang yang tak lain gusti dan bapak angkatnya sendiri. Di kemudian hari, Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati Bersama Pangeran Benawa merebut Pajang yang saat itu dikuasai Adipati Demak. Saat penyerangan ke Pajang, banyak orang-orang Pajang yang membelot mengikuti Pangeran Benawa.

Setelah peperangan itu, Mataram makin besar. Sedang Pangeran Benawa menghilang. Ada yang menyebut anak dari Sultan Adiwijaya ini memilih menepi, bertapa hingga akhir hayatnya.

 

 

 

 

Tags: AdiwijayaKerajaanMataramPajangPanembahan SenopatiSutawijaya
Previous Post

Pergolakan Politik dan Agama Masa Keruntuhan Majapahit hingga Keruntuhan Demak

Next Post

Ternyata Ada Kampung Jawa di Mekkah Sejak Abad Ke-18, Ini Kisahnya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

ARSIP KORAN: Bojonegoro Raih Juara Nasional Insus Kedelai 1992

ARSIP KORAN: Bojonegoro Raih Juara Nasional Insus Kedelai 1992

17/06/2026
Ngopi di Warkop dan Langkah Kecil Keluar dari Algoritma

Ngopi di Warkop dan Langkah Kecil Keluar dari Algoritma

25/06/2026
ARSIP KORAN 1980: Bojonegoro Punya 485 Taman Gizi

ARSIP KORAN 1980: Bojonegoro Punya 485 Taman Gizi

15/06/2026
Imajinasi Toko Buku dalam Buku

Imajinasi Toko Buku dalam Buku

15/06/2026
Pleret dan Kenangan Masa Kecil

Pleret dan Kenangan Masa Kecil

30/06/2026
Menyantap Mie Ayam “Terenak” Rahayu, Pilihan Menunya Paling Banyak di Bojonegoro   

Menyantap Mie Ayam “Terenak” Rahayu, Pilihan Menunya Paling Banyak di Bojonegoro   

30/06/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023