Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Mitos & Sejarah

Riwayat Bengawan Solo, Sejarah Maritim Sungai Sejak Era Majapahit

Redaksi
19/09/2023
Riwayat Bengawan Solo, Sejarah Maritim Sungai Sejak Era Majapahit

Sungai Bengawan Solo/Wikimedia

Penulis: Kajar Alit Djati

Sungai Bengawan Solo adalah arteri alam yang mengalir sepanjang ±600 kilometer. Bermula dari Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, hingga bermuara di Laut Jawa dekat kota Gresik, Jawa Timur. Menjadi salah satu sungai terpanjang di Pulau Jawa, Bengawan Solo menyisiri 20 kota dan kabupaten di provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Dalam masa lalu, Sungai Bengawan Solo memegang peran sentral sebagai jalur penghubung antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Fungsinya tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi, namun juga memengaruhi berbagai aspek kehidupan, seperti sosial, politik, dan militer. Masyarakat Jawa menggunakan sungai ini sebagai sarana transportasi yang efisien, memudahkan berbagai aktivitas dari perdagangan hingga perjalanan ke berbagai wilayah.

Catatan sejarah membuktikan pentingnya sungai ini. Prasasti Wonogiri dari Kerajaan Mataram Kuno (903 M) adalah salah satu contoh yang mencatat perintah Raja Balitung untuk membangun pusat perdagangan dan pemukiman di sekitar Sungai Bengawan Solo, guna memastikan keamanan dan kelancaran arus transportasi dan perdagangan di sepanjang aliran sungai ini. Raja Balitung bahkan memberikan keringanan pajak kepada warganya yang ikut membangun dan merawat daerah-daerah di sekitar aliran sungai ini sebagai imbalannya. Pada masa Majapahit di abad ke-14, sungai ini terekam dalam prasasti Canggu tahun 1280 Çaka (1358 M), yang menyebutkan berbagai desa pelabuhan di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo.

Semanggi, yang sekarang dikenal sebagai Solo, juga menjadi tempat penyeberangan yang penting dan pusat niaga bagi kapal dagang yang berlayar di sungai ini.

Peran Strategis Masa Kesultanan Mataram Islam

Selain itu, Sungai Bengawan Solo juga memainkan peran strategis pada masa Kesultanan Mataram Islam. Pada abad ke-17, saat Surabaya direbut oleh VOC dari kekuasaan Mataram, sungai ini menjadi salah satu sektor penting, terutama dalam distribusi barang dari wilayah pedalaman Solo menuju Surabaya.

Dengan berkembangnya industri perkebunan gula pada akhir abad ke-19, kereta api mulai menggeser peran sungai sebagai sarana transportasi utama, khususnya dalam distribusi hasil-hasil perkebunan.

Sebagai garis hidup Jawa Tengah dan Jawa Timur, riwayat Sungai Bengawan Solo mencerminkan keberagaman peristiwa dan perubahan yang membentuk sejarah dan budaya Jawa.

Berdasarkan Prasarti Canggu yang bertarikh 1280/1358 M menyebutkan di sepanjang aliran sungai Bengawan Solo terdapat 44 desa penambangan yang dikenal dengan desa pinggir sungai atau Naditirapradesa.

Deskripsi Sungai Bengawan Solo

Sungai Bengawan Solo punya panjang ± 600 kilometer. Sungai terpanjang di Jawa ini memiliki 2.200 anak sungai dengan melewati 20 kota dan kabupaten di provinsi
Jawa Tengah dan Jawa Timur (Data Pemkot Solo, 2014).

Sungai Bengawan Solo terbagi menjadi tiga zona utama, yaitu zona hulu, tengah, dan hilir. Zona hulu terletak di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri. Zona tengah berada di sekitar Waduk Gajah Mungkur dan melalui beberapa kabupaten seperti Karanganyar, Sukoharjo, Klaten, Sragen, dan Ngawi. Zona hilir terletak di Kali Madiun, Blora, Bojonegoro, Lamongan, Tuban, hingga Gresik di Desa Ujungpangkah.

Sungai Bengawan Solo telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena digunakan untuk pertanian, menyimpan air hujan, dan menyediakan air bersih.

Ada perbedaan dalam pola belokan sungai Bengawan Solo purba dengan yang kita lihat sekarang. Hal ini disebabkan oleh longsor, pengangkatan tanah akibat tumbukan lempeng, dan sedimentasi. Bentuk aliran sungai Bengawan Solo sekarang lebih lurus dibandingkan dulu.

Teras purba dari sungai ini baru ditemukan pada tahun 1908 oleh Elbert, setelah Eugine Dubois melakukan penggalian fosil manusia purba pada tahun 1894. Daerah pinggir sungai ini terbuat dari dataran alluvial yang memiliki tanah mudah tergerus, sehingga rawan terjadi longsor. Longsoran ini menutup beberapa belokan dari sungai purba, membentuk aliran seperti yang kita lihat sekarang.

Tags: MajapahitMaritimSejarah Bengawan SoloSungai
Previous Post

Hotel Olympic Bojonegoro! Penginapan dengan Fasilitas Memuaskan Tarif Ramah di Kantong, Cek Lokasinya di Sini

Next Post

Mitos Watu Semar Seberat 80 Ton di Alun-alun Bojonegoro, Berawal Kisah Punakawan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Menyantap Mie Ayam “Terenak” Rahayu, Pilihan Menunya Paling Banyak di Bojonegoro   

Menyantap Mie Ayam “Terenak” Rahayu, Pilihan Menunya Paling Banyak di Bojonegoro   

30/06/2026
Imajinasi Toko Buku dalam Buku

Imajinasi Toko Buku dalam Buku

15/06/2026
ARSIP KORAN 1980: Bojonegoro Punya 485 Taman Gizi

ARSIP KORAN 1980: Bojonegoro Punya 485 Taman Gizi

15/06/2026
Kisah Jaka Tingkir: Kesaktian Masa Kecil, Menjadi Sultan Pajang, Lalu Dikalahkan Anak Angkat

Kisah Jaka Tingkir: Kesaktian Masa Kecil, Menjadi Sultan Pajang, Lalu Dikalahkan Anak Angkat

22/06/2026
ARSIP KORAN: Bojonegoro Raih Juara Nasional Insus Kedelai 1992

ARSIP KORAN: Bojonegoro Raih Juara Nasional Insus Kedelai 1992

17/06/2026
Pleret dan Kenangan Masa Kecil

Pleret dan Kenangan Masa Kecil

30/06/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023