Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Mitos & Sejarah

TRIP 2200 Bojonegoro

Kajar Alit Djati
07/12/2024
TRIP 2200 Bojonegoro

Ilustrasi logo TRIP/Sumber: Buku Sejarah TRIP Bojonegoro

Jika Anda di Bojonegoro dan melintasi pojok utara alun-alun, Anda akan melihat sebuah monumen TRIP. Ya, monumen itu merupakan penghargaan akan perjuangan Tentara Republik Indonesia Pelajar atau TRIP. Perjuangan para siswa (rata-rata SMP) yang mengangkat senjata demi tegaknya kemerdekaan Indonesia.

Monumen TRIP yang dibangun tahun 1980 itu menjadi simbol perjuangan para pelajar/siswa Bojonegoro. Para siswa di usia remaja waktu ini, telah berjuang mati-matian mengusir penjajah.

Pada era penjajahan Jepang, para siswa SMP mendapat latihan kemiliteran. Mereka dimasukkan dalam Gekko Totai. Usai proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, para pelajar tersebut ikut melucuti senjata Kenpetai Jepang di Bombok kota Bojonegoro. Pada tahun 1946 Kesatuan TRIP Jawa Timur melatih para pelajar dari daerah-daerah untuk mengembangkan TRIP. Dari Bojonegoro dikirim dua orang, Satjoko dan Budidarmo dari SMP Negeri Bojonegoro.

Hingga pada September-Oktober 1946 digelar deklarasi TRIP di semua daerah. TRIP Bojonegoro pun diresmikan pada 4 Oktober 1946. Catatan ini sebagaimana tercantum dalam buku Sejarah Perjuangan TRIP Bojonegoro yang terbit tahun 1980. Saat diresmikan, anggota TRIP Bojonegoro berjumlah 160 pelajar. Namun, jumlah itu menyusut seiring waktu menjadi 120 pelajar. TRIP Bojonegoro dikenal dengan kompi 2200 atau TRIP 2200.

Tak berselang lama setelah TRIP diresmikan, para pelajar ini langsung diterjunkan ke front pertempuran di Surabaya. Tugas bertempur terus dibebankan ke TRIP 2200. Tak hanya ke Surabaya, TRIP 2200 juga ditugaskan ke Bancang, daerah hutan sebelah timur Jombang pada April 1947.

Pada agresi Belanda ke-1 tahun 1947, sebagian pasukan TRIP 2200 dikirim ke Madiun, dan sebagain ke Ponorogo. Setelah dua bulan berada di lokasi perang gerilya, mereka dikirim balik ke Bojonegoro dan melanjutkan sekolah. Ada yang melanjutkan SMA di Bojonegoro, tapi juga ada yang melanjutkan SMA di Surakarta dan Yogyakarta.

Namun, ketika 18 September 1948 terjadi pemberontakan PKI di Madiun, TRIP 2200 disiagakan lagi. Mereka diikutkan dalam sebuah operasi militer di Tambakrejo, Kalitidu, Padangan dan Jatirogo. TRIP 2200 kembali ditugaskan dalam operasi militer Ketika Belanda kembali menyerang yang dikenal dengan Agresi Belanda ke-2. Pertempuran di sejumlah tempat berkobar. TRIP 2200 ikut dalam barisan tantara dari kesatuan Brigade Ronggolawe.

Salah satu anggota TRIP 2200 yang gugur dalam pertempuran adalah Lisman, anak dari Kepala Desa Gedongarum (Kanor). Lisman kini diabadikan menjadi nama jalan: Jalan Lisman. Selain pahlawan Lisman, banyak yang gugur dalam pertempuran memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Diantaranya Suhartono yang lahir di Ledokkulon.

Lalu, bagaimana dengan sebutan Mastrip atau dikenal dengan Jalan Mastrip. Itu merupakan panggilan masyarakat kepada pasukan TRIP. Karena masih muda-muda, maka anggota TRIP dipanggil dengan mas, bukan pak. Maka, jadilah MASTRIP. [n]

Tags: BojonegoroMonumen TRIPPelajarSejarahTRIP
Previous Post

Kisah Jaka Prabangkara dalam Babad Jaka Tingkir, Sang Pelukis Ternama Putra Prabu Brawijaya V

Next Post

Melihat dari Dekat Tradisi Serabehan Warga Ngarum-Tuban Mengiringi Masa Tanam Jagung

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Dari Warisan Keluarga, Kerupuk Klenteng Bojonegoro jadi Warisan Budaya Tak Benda

Dari Warisan Keluarga, Kerupuk Klenteng Bojonegoro jadi Warisan Budaya Tak Benda

23/05/2026
Kapan Kamu Terakhir Membaca Buku?

Kapan Kamu Terakhir Membaca Buku?

28/05/2026
ESAI BUKU: Membaca yang Merambat

ESAI BUKU: Membaca yang Merambat

30/05/2026
Idul Adha 1447 H untuk Bojonegoro Bahagia

Idul Adha 1447 H untuk Bojonegoro Bahagia

27/05/2026
Jurnalistik Trip #5: Cerita Jejak Rasa Kerupuk Klenteng Bojonegoro

Jurnalistik Trip #5: Cerita Jejak Rasa Kerupuk Klenteng Bojonegoro

17/05/2026
Cara Mahasiswa PAI Unugiri Merawat Kearifan Lokal Bojonegoro, Lahirkan 5 Buku Antologi

Cara Mahasiswa PAI Unugiri Merawat Kearifan Lokal Bojonegoro, Lahirkan 5 Buku Antologi

13/05/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023