Rumahnya sekitar 100 meter dari perempatan lampu merah Padangan ke arah barat. Di selatan jalan, ada gang masuk yang cukup hanya dilewati 1 mobil saja untuk sampai di rumah JFX Hoery tepat di tikungan gang. Rumah 2 lantai dari depan dikelilingi rimbunnya pepohan yang membuat sejuk saat masuk di halaman rumahnya.
“Mau pagi, siang, atau malam, pasti saya temui dengan senang hati, asal janjian dulu,” ujar J.F.X Hoery ramah menyambut kami, rombongan dari peserta Jurnalistik Trip #4 yang digelar Mastumapel, Sabtu (25/4/2026).
Pria kelahiran Pacitan 7 Agustus 1945 itu menceritakan pengalamannya yang gemar menulis sejak duduk di bangku SMP. Kesenangannya menulis diawali dengan senang membaca, sebab dulu ada perpustakaan masyarakat. Karena sering pinjam dan baca buku, Hoery tertarik untuk menulis.
Selain itu, saat di sekolah, ada guru yang mendongeng dulu baru mengajar pelajaran, hal itu juga yang membuat Hoery tertarik untuk menulis cerita.
“Di SMP dulu sering menulis di Mading (Majalah Dinding). Dulu guru-guru selalu mendorong untuk menulis sehingga aktif jadi penulis,” ungkapnya.
Hoery pertama kali menulis di Majalah Taman Putro, yakni majalah bahasa Jawa untuk anak-anak, pada tahun 1962 hingga 1970. Selain itu, juga menulis di Panjebar Semangat, Jayabaya, Djoko Lodang, hingga Mekar Sari.
Proses menulisnya, dulu mengirimkan tulisan tangan di kertas folio dan dikirimkan ke redaksi. Di tahun 1970-an mulai menggunakan mesin ketik, dan tahun 1999 baru memakai komputer saat menjadi wartawan di Bernas (Berita Nasional) di Yogyakarta.
Saat ini, Hoery sudah mempunyai 22 karya berupa buku yang berisi tentang geguritan (puisi Bahasa Jawa), Cerita Cekak (Cerkak/Cerpen), dan puisi. Namun spesialisasi lebih ke geguritan dan cerkak.
“Sampai sekarang masih menulis. Di usia yang baru 81 tahun ini, akan rilis buku di bulan Juli nanti judulnya Pamoring Kawulo Gusti berisi kumpulan geguritan,” kata Hoery.
Kebiasaan yang masih dilakukan Hoery dalam proses kreatif menciptakan karya, yakni dengan membawa buku catatan dan bacaan saat bepergian di mana-mana. Ketika ada ide muncul, saat naik kendaraan pun akan berhenti, dan langsung mencatat ide itu, yang nantinya bisa dikembangkan di waktu khusus untuk berkarya. Sedangkan buku bacaan biasa dibaca saat menunggu, terutama menunggu istrinya di sekolah dulu saat masih menjadi guru.
“Kalau malam sulit tidur, pasti digunakan untuk menulis. Hampir setiap hari saya menulis apa saja yang ada di kepala,” kata Hoery yang pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Bojonegoro tahun 1999-2004 dari Fraksi PDI Perjuangan dulu.
Selain berkarya dengan Bahasa Jawa, di lantai 2 rumahnya dijadikan perpustakaan. Ada 2 kamar yang berisi rak buku, serta di ruang tengah juga terdapat rak buku. Koleksi di perpustakaanya, 80 persen berisi bahasa Jawa, seperti majalah-majalah Bahasa Jawa beberapa edisi dijilid menjadi satu, buku-buku bebahasa Jawa, buku karyanya sendiri, serta buku dari penulis-penulis di Bojonegoro.









