Novel berjudul Wigati karya Khilma Anis mengalir saat saya baca. Bercerita tentang pesantren, keris, dan dunia batin perempuan jawa. Gambaran ujian sebuah persahabatan dan cinta yang dikemas indah. Merangkai apik tentang sejarah buram masa lalu dan dua keris pusaka.
Terdapat dua tokoh utama perempuan, Wigati dan Lintang Manik Woro. Wigati merupakan seorang santri dengan sejarah kelam. Ia mempunyai ekspresi wajah yang wingit, bersuara lirih dan tidak pernah sumringah, sehingga jarang yang mengajaknya bicara sebab terlihat aneh dari kebanyakan santri lain. Kedamaiannya di pesantren harus terganggu sejak kehadiran keris misterius.
Konon, pusaka berbentuk patrem bernama Nyai Cundrik Arum harus dipertemukan dengan keris Kiai Rajamala. Sesuai pesan neneknya. Sedangkan Lintang Manik Woro adalah sahabat Wigati, berasal dari keluarga harmonis. Ia mencurigai ada petunjuk dalam misteri keris tersebut, lantas berusaha keras membantu Wigati mencari pemilik keris Kiai Rajamala. Tidak disangka, pergulatan memecahkan misteri tersebut membawanya pada misteri-misteri lain yang menegangkan dalam hidupnya.
Belajar hidup seimbang dan perempuan traju emas
Terdapat dialog antara Manik dan laki-laki gondrong tamu Wigati, laki-laki yang membawa keris Nyai Cundrik Arum untuk diberikan pemiliknya, Wigati. “Mbak Manik, sampeyan musti hati-hati, jangan lakukan dosa besar. Sampeyan jenis perempuan traju emas” (hal 16).
Dalam kisah selanjutnya ternyata dijelaskan, bahwa istilah jawa perempuan traju emas adalah julukan untuk perempuan yang bijaksana. Kata traju emas memiliki arti timbangan emas. Julukan ini saya maknai dengan menghubungkan kisah masa lalu buram, yakni sejarah kelam kelahiran Wigati yang merupakan hasil dari pernikahan siri orang tuanya. Di mana, dikisahkan, ayah Wigati adalah putra tunggal kiai besar yang memesan keris kepada kakek Wigati yang merupakan seorang empu. Atas permintaan ibunya, kakeknya mengerjakan pesanan kiai ini, dengan sebutan keris deder Rajamala. Kiai ini sering mengutus anaknya datang sendirian ke kakek Wigati, anak kiai ini yang nantinya menjadi ayah Wigati. Pertemuan yang sering menjadikan Ibu dan ayah Wigati semakin dekat. Hingga pernikahan siri tersebut terjadi atas perintah kakek Wigati dengan alasan agar terhindar dari zina.
Usia ibu dan ayah Wigati masih muda saat itu. Serta merta ayah Wigati sangat setuju dengan rencana pernikahan. Namun kebodohan terjadi, ayah Wigati belum berani mengutarakan niat pada keluarganya, dengan alasan kalau pernikahan tersebut hanya untuk menghalalkan saja. Ia akan mengulang rencana pernikahannya kembali rencana mendatang.
Sedangkan nenek Wigati sebenarnya tidak setuju dengan keputusan pernikahan siri, tapi begitulah perempuan Jawa, tidak berani menentang keputusan suaminya. Namun di sisi lain, nenek Wigati tetap mengupayakan untuk menjelaskan kepada ibu Wigati bahwa pernikahan siri sesungguhnya merugikan pihak perempuan. Memberi nasehat bahwa perempuan harus pintar jaga diri. Namun karena terlalu bergembira menikah dengan kekasih, ibu Wigati tidak terlalu mendengarkan nasehat tersebut. Hingga pada akhirnya penyesalan terjadi.
Ayah Wigati meninggalkan ibu Wigati dan menolak Wigati dalam kandungan sebab pernikahan yang tanpa ijin membawa kekecewaan. Ayah Wigati menikah lagi dengan jodoh yang sudah disiapkan keluarganya. Tentu penyesalan dan rasa sedih luar biasa dirasakan ibu Wigati. Ibu Wigati ingin memberi pesan kepada putrinya untuk belajar dari sejarah kelahiran dirinya dan tidak mengulangi kekeliruan di masa lalu.
Dari kisah ini ada dua poin yang akan saya garis bawahi, belajar hidup seimbang dan bijaksana. Belajar hidup seimbang dari kakek Wigati yang takut jika anak perempuannya dipermainkan, dengan keputusan pernikahan siri. Bahwa paling penting adalah keseimbangan. Kakek Wigati gambaran seorang Jawa dan Kiai gambaran seorang pesantren. Di mana orang Jawa yang Islam harus tahu tentang ilmu pesantren, sedangkan orang pesantren harus juga mengetahui sikap hidup orang Jawa.
Kakek Wigati harus tahu, bahwa hidup di Indonesia, tahu bahwa menikah siri itu bahaya sekali, sedangkan kiai pihak pesantren juga harus belajar tentang falsafah hidup orang Jawa.
Berikutnya, ada pada julukan perempuan traju emas. Menengok lagi yang terjadi pada ibu Wigati, mengajarkan bahwa perempuan harus belajar bijaksana. Kadang dari kita perempuan terlena dengan perasaannya sendiri. Pentingnya pandangan baik dan benar untuk diri sendiri. Perempuan harus belajar percaya diri, mandiri, dan berani menyampaikan aspirasinya untuk kelanjutan perannya di masa depan.
Perempuan harus pintar jaga diri
Dalam bab ke 21 pada novel, dikisahkan ketika Manik sedang menyusul dan mencari Wigati yang berkunjung ke makam kakeknya sendirian. Manik bersama tokoh Hidayat Jati, bertemu dengan seseorang untuk meminta bantuan, namun salah satu dari seorang tersebut memiliki pandangan yang sangat cabul. Manik memakai pakaian tertutup. Ia merasa tidak nyaman dan meninggalkan pembicaraan mereka, sibuk membayangkan caranya membawa diri. Manik sudah khawatir dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi, di lingkungan luar.
Dari kisah ini saya belajar, mengapa perempuan harus pintar jaga diri, siapa yang akan menjamin aman ketika di luar, jika tidak diri sendiri dengan pandangan yang baik dan benar sebagai perempuan?
Menyambung dengan misteri keris pusaka, untuk menjadi sebuah keris perlu beberapa proses panjang. Proses pembuatan keris yang ditempa dengan panas beribu derajat celcius untuk menjadi keris yang kuat dan bentuk indah. Di samping itu, untuk memiliki sebuah pusaka, pembuat perlu melakukan ritual guna terbentuk keris yang sakti.
Kembali pada perempuan, perempuan mengalami menstruasi dan punya rahim yang tidak dialami dan dimiliki laki-laki. Perempuan menjadi tempat bayi selama sembilan bulan dalam kandungan. Perempuan adalah pusaka bagi generasi bangsa. Perempuan diibaratkan harus memiliki keris dalam arti lain, perempuan tidak boleh malas belajar, harus pinter, dan matang secara psikologis untuk terciptanya keseimbangan yang kita bahas di atas.
Meski dalam novel mengisahkan gambaran kehidupan perempuan di lingkungan pesantren. Di pesantren selain belajar ilmu agama juga paling utama ilmu hidup. Hal ini menurut saya penting bagi kita perempuan semua, tidak hanya perempuan beruntung yang berada di pesantren, perempuan yang di rumah pun sama seberuntung, yang bersama orang tua, juga bisa mengupayakannya. Belajar yakin pada barokah pengasuh, mengolah rasa, berkarakter, dan bercita-cita
Digdaya
Digdaya dalam KBBI adalah yang tak terkalahkan, sakti. Dalam istilah Bahasa Jawa sendiri, berarti tangguh dan kuat. Pada novel, digdaya menjadi bab terakhir dalam cerita. Tidak jauh dari pembahasan sebelumnya, saya menyambungkan istilah digdaya dengan peran perempuan. Dialog Lintang dengan tokoh Hidayat yang membahas tentang sikap paling sulit, menjadi pandangan saya memaknai istilah digdaya ini. Hidayat mengatakan,
“Nriman”
“Nriman itu bukan pasrah sambil mengeluh. Nriman adalah pasrah yang penuh syukur. Mensyukuri yang sudah terjadi dan percaya bahwa yang akan terjadi di depan sudah ditata Gusti Allah dengan apik. Kalau sudah Gusti Allah yang noto, mesti apik, Manik.” Hal 200
Pada sepenggal kisah dialog tersebut, tokoh Lintang Manik yang diam-diam menyimpan rasa suka kepada tokoh Hidayat Jati. Begitu pula sebaliknya, cinta tumbuh pada dua anak muda ini, namun tidak disangka di akhir cerita, saat misteri keris terpecahkan dan keyakinan Manik dengan keris Nyai Cundrik Arum membentuk sejarah perjalanan cintanya dengan Hidayat Jati.
Menjadi plot twist yang mengharukan, karena ternyata keinginan Lintang untuk mempertemukan dua misteri keris, membantu menaklukkan dendam di hati Wigati dan menyatukan sahabatnya dengan walinya, tapi membuat hati Lintang sendiri tercabik-cabik sebab Wigati harus menyatu dengan orang yang disayangi, Hidayat Jati. Keris itu tetap membentuk sejarah Wigati, sang pemilik. Pertemuan dengan Hidayat Jati yang akan menjadi suami Wigati. Mereka dijodohkan.
Belajar dari yang terjadi pada kisah Ibu Wigati, Sejarah kelahiran Wigati dan cinta Lintang Manik Woro, memberi makna terdalam dari batin perempuan Jawa. Usaha membangun perasaan megah dan harapan yang ditata susah payah. Ketika berhadapan dengan masa-masa kelam, rasa perang di dada, hati yang berkecamuk tidak tentu arah, mengecap sendiri perihnya, lukanya, seperti bertempur tanpa senjata.
Mengakhiri tulisan ini, saya akan menuliskan salah satu kutipan dalam novel yang akan menjadi kesimpulannya hehe, berikut ; ‘Aku hanyalah perempuan biasa yang tidak pernah menjalankan laku tapa brata, aku juga tidak tahu cara bersemedi, bagaimana mungkin Tuhan menganugerahiku senjata sebagaimana para kesatria?









