Pada era tahun 1980 an, Kabupaten Bojonegoro tercatat sebagai kabupaten terbaik dalam program peningkatan gizi masyarakat. Program pemerintah pusat yang didanai Bank Dunia itu bernama UPGK (Usaha Perbaikan Gizi Keluarga). Pada program ini, Kabupaten Bojonegoro bukan satu-satunya penerima program. Ada beberapa daerah lain, diantaranya Gunungkidul, Lombok Barat, Gianyar, dan Ogan Komering Ilir.
Bojonegoro terpilih menjadi pilot project daerah penerima program. Hasilnya, sebagaimana diberitakan Suara Karya edisi Kamis 27 November 1980, Bojonegoro menjadi daerah terbaik dalam hal menjalankan program UPGK. Sedang, daerah-daerah lain penerima program, kurang bisa menjalankannya dengan baik.
Pada arsip koran tersebut, disebutkan, bahwa Pemerintah Daerah Tingkat II Bojonegoro, mendirikan Taman Gizi di semua desa. Tercatat ada 485 Taman Gizi di Bojonegoro yang berarti ada desa yang memiliki 2 Taman Gizi. Taman Gizi ini semacam dapur modern yang memproduksi makanan bergisi bagi anak. Dilengkapi mesin pengolah Bahan Makanan Campuran (BMC), yakni makanan bayi dengan komposisi beras (70%) dan kedelai (30%).
Taman Gizi di Bojonegoro ini mendapat stimulus dana dari Bank Dunia, yakni sebanyak 27 Taman Gizi. Pendirian Taman Gizi diperkirakan menghabiskan anggaran Rp 1,1 juta/Taman Gizi. Selain Taman Gizi yang pendanaannya dari Bank Dunia, ada Taman Gizi di bawah kelola Dharma Wanita yakni sebanyak 348 buah, dan sisanya swadaya masyarakat.
Dipilihnya Bojonegoro sebagai pilot project ini karena, Bojonegoro memiliki indikasi sebagai daerah kurang gizi. Pada era 1970 an akhir, banyak bayi mengalami kurang gizi. Angka penderita muntaber dan penyakit gondok cukup tinggi. Diberitakan Jawa Pos edisi 1 Desember 1977, sebanyak 300 warga Bojonegoro menderita penyakit gondok. Bupati Alim Soedarsono yang menjadi kepala daerah waktu itu gencar melakukan pengobatan gratis dengan cara turun tangan membasmi penyakit gondok tersebut.








