Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Bojonegoro Kota

Kelas Menulis Puisi dan Lamunan-lamunan Liar  

M Tohir
08/09/2026
Kelas Menulis Puisi dan Lamunan-lamunan Liar  

Kelas Menulis: Bojonegoro dan Sepotong Puisi

Saya mengikuti Kelas Menulis: Bojonegoro dalam Sepotong Puisi yang digelar Relima Perpusnas RI di ruangan berpendingin Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispusip) Bojonegoro, Senin (7/9/2026). Tapi, saya hadir bukan sebagai peserta kelas menulis puisi, melainkan mewakili mastumapel.com.  

1.

Sebelumnya saya berpikir bahwa menulis puisi itu tak perlu dikelaskan. Jika mau menulis puisi ya menulis saja. Tapi, apa yang dilakukan Relima Bojonegoro, Imron Nasir Salasa, melalui kegiatan ini meruntuhkan pandangan saya tersebut.

Oh iya, Relima adalah Relawan Literasi Masyarakat yang berada dalam naungan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI). Di tiap daerah ada relimanya meski ada daerah tertentu yang tidak. Relima di Bojonegoro adalah Imron Nasir Salasa, pria asal Desa Kedaton Kecamatan Kapas. Relima ini dibentuk oleh Perpusnas RI untuk menjadi penggerak, pendamping, dan katalisator untuk memperkuat ekosistem literasi di daerah.

Saya mengenal Imron sudah lama. Dulu dia seorang pemuda NU yang ringan kaki. Saya pernah ikut baca Ratib Hadad di rumahnya. Lama tidak ketemu, dia aktif sebagai seniman teater kampus Lintang Giri dengan nama panggung Impong. Lama tidak ketemu lagi, dia sudah aktif sebagai pekerja sosial yang melalangbuana. Lama tidak ketemu lagi, dia sudah menjadi Relima yang kemana-mana memakai rompi dan kalung identitas resmi.

Saya sampai lupa bahwa dia juga pernah menulis buku puisi yang saya bantu membuat desain sampulnya. Seingat saya, saya juga yang mengusulkan judul Ada Empat Kereta Api (diambil dari salah satu judul puisi yang ada). Gambar sampulnya dibuat oleh Oky Dwi Wicahyo.

Kelas Menulis puisi digelar Relima Imron dalam 6 pertemuan selama September. Setiap pertemuan topik dan formatnya beda-beda. Pada pertemuan pertama, peserta diajak mengenal lokalitas Bojonegoro. Pertemuan kedua nanti peserta akan diajak keliling (walking tour) ke tempat-tempat penting bersama Komunitas Bojonegoro History. Pertemuan ketiga akan bertemu dengan budayawan Bojonegoro yang menkuni kesenian tradisional sandur. Selanjutnya peserta akan diajak untuk berlatih menulis puisi bersama penyair. Hingga nantinya peserta akan berkontribusi dalam sebuah buku kumpulan puisi.

“Harapannya peserta bisa berkontribusi untuk kita terbitkan jadi buku puisi. Bulan depan itu Oktober ulang tahun Bojonegoro. Jadi puisi-puisi kita ini yang barangkali bisa kita berikan untuk Bojonegoro,” kata alumni Universitas NU Sunan Giri ini.

Melihat rangkaian acara kelas menulis itu saya menyadari sesuatu bahwa sepertinya Imron ingin menunjukkan kepada dunia bahwa tulisan itu harus bermakna. Harus punya isi. Tidak boleh kosong. Puisi itu tidak bisa asal tulis. Tidak bisa asal bikin larik nonprosa kemudian secara sangat sangat sangat mudah sekali kita sebut sendiri sebagai sebuah puisi.

Kesadaran itu saya dapati paling tidak setelah secara penuh saya mengikuti pertemuan pertama kemarin yang menggali lokalitas Bojonegoro dengan narasumber Nanang Fahrudin, salah satu sosok (untuk tidak menyebut satu-satunya) yang plaur terhadap urusan sejarah di Bojonegoro.

Kesadaran tersebut juga kian tebal setelah saya terlibat obrolan di warkop depan Perpusda yang membahas apa dampak puisi terhadap kehidupan ini.

2.

Pertemuan pertama Kelas Menulis Puisi Bojonegoro dalam Sepotong Puisi topiknya adalah “Menggali Lokalitas Bojonegoro”. Narasumbernya bukan seorang penyair. Terang-terangan si narasumber, Nanang Fahrudin, menyebut dirinya bukan penulis puisi. Di pertemuan ini Nanang memaparkan panjang lebar meski tidak detail tentang alam Bojonegoro. Alam Bojonegoro ini yang perlu jadi bahan dalam menulis puisi.

Nanang Fahrudin menekuni jurnalistik sejak tahun 2002 hingga sekarang. Laman mastumapel.com yang Anda baca saat ini dikelola olehnya. Kalau Anda cermati, di laman ini ia menaruh perhatian istimewa pada soal lokal, mulai sejarah, budaya, kesenian, kuliner dan hal-hal sederhana lainnya.

Nanang juga berkarya dalam bentuk buku seperti Bojonegoro Tempo Doeloe yang ditulisnya bersama beberapa kontributor lain. Juga Lampu Merah Cap Indonesia, Orang Bojonegoro Berdarah Bugis? Dan Esai Lainnya, Angin Jenogoro, dan masih banyak lagi yang lain. Saya lupa.

Di kesempatan itu, Nanang banyak membahas hal-hal terkait lokalitas Bojonegoro yang kerap luput dari perhatian. Misalnya tentang asal-usul orang Bojonegoro yang ternyata banyak spekulasinya. Ada yang menyebut asal-usul orang Bojonegoro adalah dari orang Kalang yang menghuni hutan, ada yang menyebut dari orang Samin, bahkan ada sumber tertentu yang menyebut keturunan orang Bugis.

“Mengetahui segala sesuatu itu penting. Kalau tidak tahu harus mencari tahu. Kita perlu plaur. Semakin banyak mengetahui maka akan semakin mudah menulis sesuatu,” kata penulis Lampu Merah Cap Indonesia ini.

Sesuatu hal yang dekat di pekarangan rumah kita, kata dia, juga penting untuk diketahui. Di zaman dulu masyarakat desa mengenal dan mempraktikan karangkitri, yaitu tradisi menanam segala sesuatu di pekarangan rumah.

“Kakek nenek kita itu menanam apa yang dimakan, dan memakan apa yang ditanam,” katanya.

Nanang juga kerap melontarkan kalimat-kalimat mengusik kepada peserta bahwa jarang dari kebanyakan orang yang memperhatikan sekitar yang dekat. Kisah di seputar rumah, gang dan jalan tempat tinggal, bahkan kisah leluhur. Katakanlah misalnya kita yang seringkali ikut acara reuni keluarga, jarang yang tahu kisah leluhur kita. Kita hanya tahu nama tanpa makna. Tanpa cerita.

“Hidup itu adalah dari cerita ke cerita. Di barat ada tradisi tulis. Di kita tradisinya tutur. Kita kini butuh tulisan,” kata dia.

3.

Adakah puisi yang bisa memberikan dampak bagi kehidupan ini adalah pertanyaan yang klise. Hal itu jadi pembahasan dalam obrolan warung kopi di antara kami. Ada Wahyu Rizki Jurnaba, Rudi Perpus Jenggala, Awe Bojonegoro Institute, Putri Bojonegoro Book Party, Impong Relima, Rian Giri Foundation dan saya Tohir Nuntera, yang lebih banyak diam saja karena sedang mengetik tulisan ini.

Coba Anda pikir, puisi terus diproduksi oleh para penyair, dan kehidupan di negara ini tidak semakin baik. Korupsi masih merajalela, masih ada predator seksual berkeliaran di kampus dan pesantren, banyak bank titil mengintai mangsa, banyak hayawan dan pohon kehilangan hak, dan makanan bergizi dalam ompreng terus dimasak. Puisi-puisi Wiji Tukul, Rendra, Emha Ainun Nadjib, Saut Situmorang, Chairil Anwar, Federico Garcia Lorca, Pablo Neruda, dan lain-lain terus dibaca di panggung-panggung sementara kejahatan masih melucu.

Bahkan bait-bait puisi baru tersebar di media sosial instagram, tiktok dan youtube secara membabi buta. Puisi-puisi diproduksi bukan oleh penyair saja, tetapi siapapun yang punya medsos bisa membuatnya. Puisi cabul berkedok kesucian cinta yang luhur dan tulus dan suci dan murni ditulis oleh seorang yang tak mengerti apa-apa. Apa yang bukan puisi bisa dianggap puisi dan apa yang puisi bisa dianggap bukan puisi. Puisi-puisi bernasib seperti seperti sampah plastik yang tidak bisa ditanggulangi. Kita melawannya, tapi kita memakainya.

Obrolan di warung kopi itu tentu saja bukan forum resmi yang setiap pertanyaan harus ada jawaban dan setiap pernyataan harus ada pernyataan tandingan. Pertanyaan itu bisa jadi menonjok diri saya sendiri, bahwa apakah saya berdampak pada kehidupan ini. Kita yang mendaku pakar dalam hal tertentu apakah bisa memberikan dampak pada kemaslahatan makhluk hidup.

Ah, barangkali puisi adalah jaring-jaring spiderman yang kadang menyelamatkan dan kadang menyakiti. Atau mungkin pedang para samurai yang kadang bisa mengoyak perut sendiri. Atau kadang puisi adalah coretan kasar di bak truk yang membarakan jiwa sopirnya untuk pantang pulang tanpa membawa dompet penuh isi.

***

Kelas menulis puisi Relima diikuti sekitar 20 peserta yang datang dari berbagai penjuru Bojonegoro dan Tuban. Di antara mereka adalah guru, ada yang pegawai negeri, ada yang mahasiswa, ada santri. Banyak yang belum saya kenal.

Nanang Fahrudin bicara di depan sepanjang kira-kira 30 menit. Saya tak tak beranjak dari kursi selama materi berlangsung. Beberapa hal saya sudah sering mendengar. Buku-buku yang dia sebutkan sebagian saya sudah pernah mengelusnya. Apa yang saya tulis pada nomor 2 di atas adalah yang bisa saya tangkap dalam paparannya. Selebihnya saya melamun. Selebihnya lagi saya merenung apa yang diharapkan dari para peserta ini. Apakah mereka ingin jadi penyair? Apakah mereka ingin refreshing? Atau ingin dapat pengetahuan baru yang berharga? Atau ingin dapat sertifikat? Saya tak tahu.

Sepanjang jalannya acara itu pula di tangan saya ada buku kumpulan puisi karya Joko Pinurbo Surat Kopi. Saya membolak-balik halaman buku karya penyair asal Yogyakarta yang pernah saya temui 12 tahun lalu saat dia ke Gresik itu. Ada satu puisi pendek yang memelototi saya.

ketika dua atau tiga cangkir kopi berkumpul

untuk merayakan sepi

puisi ada di tengah-tengahnya

 

Selesai acara saya ngopi dengan beberapa orang yang saya sebutkan tadi di warung kopi Pattimura depan Perpusda. Buyar dari ngopi di situ, saya ngopi lagi dengan seorang teman lain. Selesai dari ngopi dengan teman itu, saya pulang. Saya membuat kopi sendiri. Saya meminumnya sambil menyelesaikan tulisan ini yang sebenarnya tak pernah selesai.

Tags: BojonegoroKlas PuisiNanang FahrudinRelima Bojonegoro
Previous Post

Relima Perpusnas RI Gelar Kelas Menulis: Bojonegoro dalam Sepotong Puisi 

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Perjalanan dan Kucing-kucing

Perjalanan dan Kucing-kucing

25/08/2026
Merayakan HUT ke-81 RI, Ketika Lagu Indonesia Raya Menggema di Antara Pohon Jati Hutan Temayang

Merayakan HUT ke-81 RI, Ketika Lagu Indonesia Raya Menggema di Antara Pohon Jati Hutan Temayang

17/08/2026
Logo Bodjonegoro Dulu dan Kini, Catatan Singkat Sejarah

Kapan Bojonegoro Ikut Mengikrarkan Kemerdekaan Indonesia?

17/08/2026
Luncurkan Pusgiri Baca, Cara Kreatif Perpustakaan Unugiri Dorong Minat Baca Mahasiswa

Luncurkan Pusgiri Baca, Cara Kreatif Perpustakaan Unugiri Dorong Minat Baca Mahasiswa

20/08/2026
Tips Nulis Asik ala Althamira Frishka, Penulis Buku Captive of Love: Tawanan Cinta di Lautan

Tips Nulis Asik ala Althamira Frishka, Penulis Buku Captive of Love: Tawanan Cinta di Lautan

21/08/2026
Catatan dari Pinggiran Hutan Jati: Menyalakan Api Cita-Cita Anak di SMPN Satu Atap Soko Temayang

Catatan dari Pinggiran Hutan Jati: Menyalakan Api Cita-Cita Anak di SMPN Satu Atap Soko Temayang

12/08/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023