Bagaimana Anda menjalani hidup hari ini? Sesiang ini, sudah berapa banyak berita yang masuk ke pikiran Anda? Demo tolak MBG, demo pro MBG, insiden saat diskusi Total Politik di UGM, bocah hilang di Bengawan Solo, ribut di Munas NU di Ploso-Kediri, pidato Presiden Prabowo soal penyebab gaji guru rendah, dan…..ada lagi yang terlewatkah? Tentu cukup banyak.
Begitulah kita saat ini. Jika berita diibaratkan hujan, maka tiada hari tanpa hujan. Tiada jeda tanpa berita. Dan kalau kita terus berjalan, maka kita akan basah kuyup. Atau apesnya lagi, kita bisa-bisa tenggelam. Tenggelam oleh berita.
Oleh karena itu, kita perlu sedia payung. Bukan untuk menolak “air” berita yang terus berdatangan tanpa henti menjejali pikiran kita. Tapi hanya sebuah usaha untuk membuat ruang kecil agar diri kita tidak selalu basah. Lebih dari itu, payung yang kita pakai adalah sebuah kesadaran bahwa kita membutuhkan ruang kosong dari air hujan yang terus tumpah dan ditumpahkan.
Payung yang menjadi ruang kosong bagi pikiran kita itu bisa hadir di manapun, dan kapanpun.
Dan siang ini, aku masuk ruang kosong itu di warung kopi. Ketika berbincang-bincang dengan seseorang yang tak kukenal. Di warkop, kita tak harus kenal dulu baru berbincang. Sambil nyeruput kopi seharga 4k, kita bisa saling bercerita, apa saja. Obrolan yang sederhana dan seringkali tanpa “isi”. Tapi, bagiku, itulah yang kita butuhkan kini. Obrolan tanpa isi. Karena makna “isi” atau “penting” di era media sosial ini adalah sesuatu yang viral, sesuatu yang mengikuti arus algoritma. Yang viral, yang perlu diobrolkan.
Seorang kawan ngopi bercerita, di belakang rumah tuannya, ada banyak sarang burung. Tapi ia tak berani mengambilnya, lantaran ada pagar yang dikunci rapat dan ia tak berani melompati pagar itu. Terlalu tinggi dan banyak hantunya, katanya sambil tertawa. Ia adalah “waker” atau seorang yang pekerjaannya menunggui rumah.
Kawan ngopi lain bercerita tentang kesehariannya yang begini-begini saja. Selama libur sekolah, tak banyak aktivitas yang dikerjakan. Ia adalah seorang guru. Beberapa tahun lagi akan pensiun. Lalu, kawan lain menceritakan anaknya yang baru lulus SMP dan akan masuk SMA.
Begitulah, obrolan kesana-kemari tanpa ada pemandu. Mengalir zig zag tak bergantung pada algoritma. Obrolan-obrolan sederhana yang menghadirkan keakraban. Bahkan tanpa diminta, orang yang hendak meninggalkan warkop terlebih dulu biasa berpamitan, padahal tidak saling kenal.
Aku sendiri menyukai suasana demikian. Obrolan yang setara meski berbeda latar belakang. Antara satu dengan lain, ada sebuah “sistem” yang terbentuk secara organik dan dihormati secara bersama-sama. Tak jarang obrolan saling bantah membantah, tapi semua dalam suasana cair penuh tawa.
Di warkop, kita seperti diajak jeda dari dunia yang sedang berlari. Jeda dari berita-berita viral dan membangun “dunia kosong” yang penuh isi.









