Siapa sebenarnya Jaka Tingkir? Tentu banyak sekali cerita tentang Raja Pajang Sultan Hadiwijaya ini. Lalu, bagaimana peralihan kekuasaan dari Pajang ke Mataram? Dari Sultan Hadiwijaya ke Panembahan Senopati? Buku Awal Kebangkitan Mataram: Masa Awal Pemerintahan Senapati karya DR.H.J. De Graaf yang diterbitkan Grafiti dan KITLV (1985).
Jaka Tingkir konon lahir di Pengging, sebuah daerah kecil yang merdeka. Ayah Jaka Tingkir adalah Kebo Kenanga alias Andayaningrat. Lantaran ia lahir waktu digelar pertunjukan wayang beber yang juga dikenal wayang krebet, maka ia dinamakan Mas Krebet. Tapi, ia tak dibesarkan di Pengging, melainkan di Tingkir. “Sunan Kudus raja-pendeta-diplomat-jenderal Demak telah membunuh ayahnya karena pembangkangan.” (hal: 16).
Setelah Kebo Kenanga meninggal, istrinya juga meninggal. Sehingga Mas Krebet menjadi yatim piatu dan diasuh oleh seorang janda kaya, sahabat dari ayahnya, di Desa Tingkir. Dalam perjalanan hidupnya, Jaka Tingkir bertemu dengan Sunan Kalijaga dan dinasehati agar mengabdi ke Demak. Jaka Tingkir kemudian melamar sebagai tamtama atau tentara.
Pada awal masuk, ia telah menunjukkan kehebatannya, melompati kolam istana dengan sekali lompatan ke belakang. Meski lompatan itu tidak disengajanya saat rombongan Raja hendak melewatinya. Sayang, ia tersandung masalah dan dengan tusuk konde membunuh tamtama lain. Ia pun diusir keluar dari istana Demak.
Dalam keputusasaan, Jaka Tingkir berziarah ke makam ayahnya di Pengging. Saat itulah ia mendengar suara ghaib agar ia mencari Kyai Buyut dari Banyubiru dan menjadi muridnya. Lalu dia diberi jimat (petunjuk) untuk bisa kembali ke Demak. Perjalanannya ke Demak, konon disertai 40 ekor buaya yang mendorong perahu getheknya.
Sesampai di Demak, dengan petunjuk gurunya, seorang kerbau dibuatnya gila dan menggegerkan istana. Tiga hari tiga malam tak ada yang bisa melumpuhkan kerbau itu. Jaka Tingkir kemudian turun tangan dengan mengambil azimat yang diletakkan di mulut kerbau. Maka, kerbau itupun jinak dan berperilaku seperti biasa. Jaka Tingkir pun bisa kembali ke barisan tamtama.
Jaka Tingkir menikah dengan putri ke-5 Raja Demak Sultan Tranggana. Ia menjadi Bupati Pajang dengan daerah seluas 4.000 bau. Tiap tahun ia harus menghadap ke Demak. Namun, daerahnya berkembang cukup pesat, dan ia membangun istananya di Pajang. Sepeninggal Sultan Tranggana, Pajang makin besar dan kukuh berdiri menjadi kerajaan. Jaka Tingkir bergelar Sultan Hadiwijaya.
Hadiwijaya kemudian mengangkat anak, yang merupakan anak dari Kiai Gede Pamanahan. Namanya Raden Bagus (Bagus Srubut). Serat Kandha menyebut nama ini dengan Mas Danang. Maksud raja adalah sebagai lanjaran agar memiliki anak sendiri. Raden Mas Danang ini cukup pandai dan hebat dalam pendidikannya. Sampai-sampai sang raja menyebut anak ini “gusti”.
Beberapa waktu kemudian raja memiliki putra yang bernama Raden Benawa. Raden Bagus atau Mas Danang kemudian diangkat sebagai ngabehi bergelar R.Ng Sutawijaya. Karena dia mendiami rumah di utara pasar, maka juga dikenal dengan nama Raden Ngabehi Saloring Pasar.
Pusat kerajaan pindah dari Demak ke Pajang. Sultan Hadiwijaya kemudian memerintahkan memindahkan semua pusaka dari Demak ke Pajang. Anak Sultan Tranggana, Pangeran Aria tidak mau naik tahta dan memilih menjadi priyayi mukmin yang kemudian lebih dikenal dengan Sunan Prawata. Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir kemudian mengangkat banyak kawan untuk menduduki posisi penting di Pajang.
Momen penobatan Jaka Tingkir menjadi raja Pajang dilakukan di Giri. Sultah Hadiwijaya bersama rombongan tiba di Giri dan disambut dengan Sunan Prapen. Pada saat pertemuan inilah terucap ramalan Sunan Prapeb bahwa anak dari Ki Gede Pamanahan akan merajai Jawa.
Setelah itu, muncul sosok Aria Penangsang, anak dari Pangeran Sekar Kusuma atau Pangeran Seda Lepen. Sekar Kusuma adalah kakak Tranggana. Aria Penangsang menilai seharusnya ayahnyalah yang menjadi Raja Deka, dan bukan Tranggana. Penangsang akan membalas dendam dengan membunuh semua keturunan Tranggana dan Prawata, serta Jaka Tingkir karena menjadi menantu Tranggana. Sunan Prawata dan Pangeran Kalinyamat akhirnya terbunuh. Tapi Aria Penangsang selalu gagal membunuh Jaka Tingkir.
Hingga tibalah pecah perang Jipang dan Pajang. Jaka Tingkir membuat sayembara siapa yang bisa membunuh Penangsang akan dihadiahi tanah Pati dan Mataram. Danang Sutawijaya bersama Ki Gede Pamanahan dan Ki Panjawi pun berangkat ke medan perang dan berhasil membunuh Penangsang. Pertempuran itu berada di sebuah daerah bernama Soude. Sejarawan De Graaf nama Soude lebih tepat merujuk pada Sudu atau Sudah, nama desa di Kabupaten Bojonegoro (Jatim) kini.
Usai kekalahan Jipang ini, Mataram diserahkan ke Ki Gede Pamanahan dan Pati diserahkan ke Panjawi. Mataram kemudian menjadi sebuah daerah yang berkembang, dan Sutawijaya menjadi pemimpinnya.
Pajang semakin besar. Tapi, Mataram di bawah Sutawijaya yang kemudian mengganti nama menjadi Senopati juga terus berkembang. Hingga akhirnya persaingan Bapak-Anak ini memuncak dengan pertempuran pertama di Prambanan. Atas siasat perang Senopati yang memanfaatkan prajurit Pajang yang suka takhayul, maka Jaka Tingkir berhasil dikalahkan. Jaka Tingkir lari ke Makam Tembayat. Tetapi pintu makam keramat tidak bisa dibuka. Sehingga Jaka Tingkir hanya bisa berlutut di luar saja.
Pasukan Mataram terus mengejar Jaka Tingkir. Tapi pengejaran tersebut seperti hanya membuntuti saja. Pangeran Benawa yang sakti meminta izin untuk memusnahkan Senopati dan pasukan kecilnya. Tapi, Jaka Tingkir melarangnya. Bahkan Jaka Tingkir yang sudah sakit-sakitan itu berpesan agar Benawa tetap bersahabat baik dengan Senopati.
Jaka Tingkir yang sakit akhirnya meninggal. Ia dibunuh oleh seorang juru taman yang menyelinap ke kamar. Juru taman itu, ada kemungkinan merupakan orang suruhan Senopati. Juru Taman tersebut adalah punokawan Senopati dari bangsa kulit putih, Italia. Jaka Tingkir kemudian dimakamkan di Butuh, sebuah daerah sebelah selatan Keraton Surakarta.









