Mastumapel.com – Ketika memarkir motor di depan Dapur Art Karinah, pandangan langsung tertuju bangunan rumah joglo klasik full kayu jati dengan berbagai furniture lawasan. Dua patung kayu berbentuk daun di kanan-kiri pintu, motor CB, saklar hitam khas tempo dulu, kursi kayu jati dengan busa putih yang biasanya ditemui di rumah nenek, serta tembok jati yang diukir cantik, melengkapi suasana tenang nostalgia masa lalu. Tenang yang damai.
Dapur yang selalu sibuk berada di rumah joglo sebelahnya. Di sekitarnya ada space tiga meja kayu jati. Tepat di atasnya, di lantai dua, tersedia musala yang tangga dan lantainya juga berkayu jati.
Disebelahnya, ada sepetak rumah joglo lagi dengan lebih banyak meja dan kursi kayu jati. Pengunjung bisa memilih space ini untuk duduk-duduk bersama teman dan menikmati suasana tenang, sambil menunggu menu disajikan.
Masuk ke belakang, bunga-bunga kamboja bermekaran dan beberapa gugur di sepanjang jalan setapak. Di sisi jalan ada satu gazebo yang di bawahnya terdapat kolam ikan gurami. Suara airnya menambah sore di awal Mei 2025 serasa berjalan sangat pelan.
Di gazebo itu, saya bertemu Sutrisno, pemilik Dapur Art Karinah. Penampilannya sederhana, mengenakan kaus oblong. Sesekali tangannya menunjuk arah, Sutrisno bercerita dengan santai tentang perjalanannya membangun usaha kuliner ini.
Asal Nama Karinah
Ia yang lebih akrab disapa Tris, menuturkan Dapur Art Karinah, baginya bukan sekedar tempat usaha. Tapi tempat berkarya. Sebab itulah ia menamainya Dapur Art Karinah, bukan Dapur Karinah. Nama Karinah sendiri merupakan singkatan dari kedua orang tua Tris, Kari dan Sarminah. “Jadi, untuk mengingat kedua orang tua. Namanya doanya orang tua kan mandi (ampuh),” terangnya.
Sedangkan art lebih identik ke makna galeri. Tris memfungsikan Karinah sebagai tempat menyimpan karya-karyanya atau barang-barang antik koleksinya. “Namanya art karena memang saya buat menyimpan hasil usaha mebel di Jalan Pemuda,” ucapnya.
Barang-barang lawasan yang ada di Karinah ternyata sebagian juga barang jualan. Jika ada penungunjung tertarik membeli dan harga cocok, maka barang bisa dilepas. Ada meja, kursi, lampu, dan barang-barang lawasan lainnya. “Sering kok kejual di sini,” kisahnya.
Berawal dari Limbah Kayu usaha Meubel

Tanah tempat berdirinya Dapur Art Karinah dibeli Tris pada tahun 2018. Setahun sebelum Covid-19 mewabah. Tanah tersebut awalnya berupa sawah yang kemudian diuruknya bertahap. Tris membangunnya dengan pelan, memanfaatkan bahan-bahan bekas dari limbah usaha meubelnya. Bangunan yang kini berdiri seluruhnya baru, namun bermaterial lama.
“Saya memang pingin punya tempat yang bisa menampung karya-karya saya. Limbah kayu dari mebel itu banyak, daripada mubazir, saya bikin bangunan ini pelan-pelan,” ujarnya.
Dapur Art Karinah mulai dibuka untuk umum pada Januari 2023. Meski tergolong baru, konsepnya sudah lama dipikirkan. “Saya itu dari dulu sudah kepikiran ingin punya tempat yang menyatu dengan alam, tempat berkarya, tempat tenang,” lanjutnya.
Usaha untuk Berkarya dan Ketenangan
Bagi Sutrisno, bisnis bukan hanya tentang laba dan untung. Tapi lebih dari itu, baginya bisnis adalah untuk ketenangan batin. Ia ingin menjadikan Dapur Art Karinah sebagai tempat yang nyaman, bukan hanya untuk dirinya, tapi juga pengunjung dan karyawan. Kini total ada delapan orang karyawan yang Sebagian besar masih kerabat sendiri. Untuk mempercantik taman, Tris mempekerjakan dua orang.
Menjalankan bisnis, memang tak selalu bepengalaman lebih dulu. Tris mengaku tidak punya pengalaman membuka tempat makan. Namun, ia yakin dalam proses berjalan ia akan belajar. “Saya bukan pebisnis resto, jadi banyak masukan dari pelanggan itu saya terima. Pelayanan lambat, menu kurang, ya saya pelajari. Wong sambil belajar,” katanya dengan santai.
Tris juga tidak pernah menghitung berapa total modal yang ia keluarkan selama Dapur Art Karinah beroprasi. Pun juga tak pernah menghitung laba yang ia dapat. “Yang penting bisa buat untuk karyawan sudah syukur. Lebihnya sedikit tidak apa-apa, tidak pernah saya hitung juga. Yang penting cukup,” ujarnya.
Cara berpikir Tris memang menunjukkan model slow living. Ia enggan menjalankan bisnis dengan kaku dan berlomba-lomba mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya. Melainkan lebih fokus pada kebersamaan dan kedamaian. “Sudah usia segini mau apa lagi kalau yang dicari bukan ketenangan,” ungkapnya yang saat ini sudah berusia lebih dari setengah abad.
Suasana Hijau yang Menyegarkan di Karinah

Dapur Art Karinah berdiri di lahan hampir setengah hektare lebih. Tak hanya bangunan joglo, di sisi-sisi lahan ditanami berbagai tanaman hias seperti bonsai, bunga kemboja dan bugenfil. Tris juga menanam sayur-mayur seperti kangkung dan terong. Menu usahanya selalu fresh petik dari kebun sendiri. Ada pula pohon lemon untuk minuman dan jeruk pecel untuk penyegar sambal, yang semua Tris tanam dengan tangan sendiri.
“Saya memang suka nanam. Dulu pernah buka lapak kembang di dekat Stadion Bojonegoro, tapi karena penjaganya kurang pas, akhirnya saya tutup dan tanamannya saya pindah ke sini,” kenangnya.
Desain Dapur Art Karinah dirancang sendiri oleh Tris, tanpa bantuan konsultan desain. Ia mengaku semuanya dikerjakan pelan-pelan, bahkan gazebo dan musala yang akan dibangun dekat jembatan nanti pun dirancang sendiri. “Kalau dibangun pelan-pelan, ide-ide itu bisa muncul sendiri,” tambahnya.

Pantas saja nuansa bagian belakang Dapur Art Karinah ini mirip taman di sinetron lama Indosiar. Banyak bunga warna-warni dan dedaunan yang tumbuh rindang. Udaranya begitu bersih, ditambah pemandangan Bengawan Solo dan jembatan Kaliketek yang bisa dilihat secara langsung sambil menikmati kudapan. Semua membuat pengunjung semakin betah dan nyaman. Apalagi, ada dua ayunan yang diikat di pohon mangga ala-ala ayunan di series My Heart. Cocok untuk galau atau ber-me time. Cocok juga untuk menyembuhkan luka.
Eka Nurul Khoiriyah, salah satu pengunjung punya kesan bagus dengan Dapur Art Karinah. Menurut dia, tempat itu serasa menyatu dengan alam. “Hawanya sejuk. Menyatu dengan alam, bengawan, dan juga taman-taman. Aku suka,” ucapnya.
Eka merasa enjoy menikmati sore di gazebo samping bengawan dengan menikmati menu olahan Dapur Art Karinah yang baginya harganya lebih murah dibanding tempat-tempat nongkrong yang pernah ia kunjungi. “Harganya lebih murah,” terangnya.
Pengunjung lainnya, Navy, mengaku merasa tenang dan damai saat berkunjung ke Dapur Art Karinah. Menurutnya, tempat itu seperti menyatu dengan alam, terlebih ia suka nuansa kayu jati yang klasik. “Asyik untuk ngerjakan tugas. Tenang dan damai juga,” ungkapnya.
“Makanannya juga enak, dan terjangkau,” komentarnya setelah menghabiskan nasi goreng, dan jamur krispi.
Menu Dapur Art Karinah

Menu spesial Dapur Art Karinah adalah rujak belut. Cukup dengan 25 ribu saja pengunjung bisa menikmati olahan belut yang disajikan dengan bumbu kacang yang mirip bumbu sate dipadu dengan bumbu siomay dan rujak dengan toping bawang merah mentah dan tomat. Ada juga rujak nila dan gurami bakar/goreng yang fresh langsung dari kolam. Ada juga olahan nasi, telur, dan ayam. Juga cah touge dan kangkung hasil menanam sendiri. Menu makanan berat ini bisa dinikmati dengan harga mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp 40 ribu.
Ada pula menu snack serba Rp 7 ribuan seperti tahu krispi, jamur krispi, dan tempe goreng. Bagi yang suka bakaran, bisa juga mencoba menu bakaran mulai dari harga Rp 3-6 ribu. Sedangkan menu minuman juga cukup variatif, ada kopi, rempah tradisional, minuman kekinian hingga sop buah.
Dapur Art Karinah hampir semua makanannya diambil dari kebun sendiri. “Saya itu pengennya yang natural. Ada jeruk untuk sambal ya tanam sendiri. Kalau ada tamu yang minta, kadang saya suruh ambil sendiri,” katanya.
Dapur ini juga pernah digunakan untuk acara pernikahan dengan kapasitas maksimal 400 orang.
Alamat Dapur Art Karinah
Dapur Art Karinah terletak di Desa Menilo Kecamatan Soko Kabupaten Tuban. Namun, lokasinya sangat dekat dengan kota Bojonegoro karena berada di perbatasan Tuban-Bojonegoro. Setelah jembatan Kaliketek (sisi utara) ada gang kecil sisi kanan jalan, lalu masuk. Lurus saja melewati jembatan kecil dan tujuan berada di sebelah kanan.
Bagi pengunjung yang membawa mobil, bisa lewat Simo dengan rute setelah jembatan Glendeng belok ke kiri, lurus saja sampai di SDN Menilo lalu belok kanan, ada pertigaan belok kiri dan lanjut lurus saja, maka akan sampai.
Jika lewat jembatan Kaliketek, bagi yang membawa mobil, maka harus lurus turus karena gang pertama tidak bisa dilewati mobil. Lurus hingga sampai pertigaan Warung Gethuk Mak Yah lalu belok kanan. Silakan lurus terus hingga ada pertigaan lalu belok kanan. Ada pertigaan lagi, belok kanan lagi, dan tinggal lurus saja maka akan sampai.
Jika musim hujan dan air bengawan tinggi, biasanya jalan menuju Dapur Art Karina di gang pertama diterjang banjir. Jadi, bisa lewat gang warung gethuk. Saat banjir juga, bagian belakang Dapur Art Karinah tidak bisa digunakan. Pengunjung tetap bisa enjoy dengan duduk di bagian depan.[kaj]









