Meski jarum jam menunjukkan pukul sembilan, tapi panas Bojonegoro sudah seperti pukul 12 siang. Bulir-bulir keringat menghiasi tiap dahi peserta kirab Festival Salak Wedi di Desa Wedi, Kecamatan Kapas, Sabtu (13/12/2025). Para peserta begitu riuh, mulai dari anak-anak TK hingga orang dewasa.
Murid-murid sekolah dasar bermain drumband, di belakangnya para siswa TK mengenakan baju adat Jawa; beskap bagi laki-laki dan kebaya bagi perempuan. Mereka menenteng keranjang bambu beraneka bentuk, tapi berisi sama; buah salak khas Desa Wedi atau lebih akrab dikenal salak wedi.
Mereka tertawa riang. Beberapa kali menyapa para penonton di sepanjang jalan. Dari Balai Desa Wedi Kecamatan Kapas Kabupaten Bojonegoro mereka berjalan kaki sampai perbatasan Desa Tanjungharjo, Kecamatan Kapas.
Tiap lembaga maupun RT barisan depan selalu membentangkan banner bertuliskan Festival Salak Wedi dengan desain kreativitas masing-masing. Barisan paling depan diisi oleh warga dari 21 RT yang masing-masing RT membawa gunungan salak untuk dilombakan.
Bapak-bapak dan para pemuda bergantian membopong gunungan salak tersebut. Gunungan itu dihias sekreatif mungkin. Ibu-ibu mengisi barisan di belakang, mengenakan kebaya dan membawa bakul berisi salak wedi.
Tidak hanya dari warga RT, tiga perguruan silat Desa Wedi juga membuat gunungan salak dan ikut berpartisipasi. Serta satu gunungan salak dari pemerintah desa.
Keseruan Sesi Grebek Salak
Sampai lokasi finish, setelah semua rombongan peserta sampai, gunungan salak itu langsung diserbu para pengunjung dan warga setempat dalam sesi Grebek Salak. Anak-anak, pemuda, orang tua, semua membaur mengelilingi gunungan salak berjumlah 25 itu. Tangan-tangan secepat kilat memotek salak dan memasukkannya ke dalam plastik ataupun tas. Tampak begitu meriah.

Usai salak tandas dari gunungan, para pengunjung lekas keluar area dan menikmati bazar UMKM yang berjajar memanjang hingga panggung festival. Panggung itu pada malam harinya dijadikan tempat penampilan pentas seni.
Di bazar, aneka macam kuliner tradisional dari olahan salak hingga jajanan kekinian tersedia. Ada pula yang berjualan baju dan sembako. Ingin beli salak wedi pun bisa, nominal yang dipatok antara 4-6 ribu perkilonya.
Menurut salah satu panitia, Muhammad Mudhir (35), festival ini bertujuan untuk melestarikan buah salak, memajukan petani salak, peringatan hari ulang tahun almarhum Mbah Basir Al Mujtaba sebagai tetua Desa Wedi sekaligus petani pertama yang menanam salak di desa tersebut, serta sebagai ungkapan rasa syukur dan sinergi antar warga, pemerintah desa dan para tetua.
Menurut warga RT 14 itu, festival ini sudah diadakan sejak tahun 2017. “Tapi sejak tahun 2020-2024 tidak diadakan. Baru diadakan lagi di tahun ini.”
Tidak ada hari khusus untuk menggelar Festival Salak Wedi. Festival ini secara kolektif diselenggarakan oleh pemdes dan masyarakat Wedi. Tiap RT melalui iuran dan gotong-royong membuat dan menghias gunungan sekreatif mungkin. Ada juga yang sampai sewa baju dan dandan di tukang make up untuk acara tersebut.
Tutik, salah satu warga selalu ikut dalam setiap Festival Salak Wedi sejak tahun 2017. Meski tidak semeriah awal kali digelar, tapi dia selalu menikmati festival tersebut.
Salak Punya Sejarah Panjang
Salak yang menjadi ikon festival tersebut ternyata punya cerita yang panjang. Sueb, salah satu warga mengungkapkan bahwa salak era dulu dijadikan sebagai jamuan tamu.
“Dulu salak ditanam untuk dijadikan suguhan tamu. Jadi, fungsi awalnya memang sebagai suguhan,” cerita Sueb.

Lambat laun, menurut Sueb, salak-salak itu dijual karena kebutuhan ekonomi warga semakin meningkat. Namun, beberapa tahun terakhir, harga salak wedi dianggap mengenaskan. Beberapa warga pun mencoba berinovasi dengan membuat kuliner dari olahan salak, seperti dodol dan manisan salak.
“Adanya festival ini kan membuat orang yang mulai tidak percaya diri dengan salak menjadi percaya diri,” terang Sueb.
Seiring berjalannya waktu, kebun-kebun salak yang dulu luas, beberapa berkurang diganti dengan rumah-rumah warga. Menurut Mudhir, tiap orang yang asli Wedi pasti punya kebun salak.
“Sekarang lebih banyak digunakan membangun rumah untuk anak-anaknya,” ujar Mudhir soal kondisi kebun salak yang menyempit.
Dari festival yang dibuat, ia berharap pemerintah lebih memerhatikan lagi potensi lokal yang dimiliki. “Harapannya, masyarakat bisa lebih maju dengan inovasi-inovasi dari pembinaan yang berkelanjutan oleh pemerintah,” harap Mudhir.









