Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Crita

Khong Guan, Kue Pastel, dan Lebaran yang Bahagia

Nanang Fahrudin
26/03/2025
Khong Guan, Kue Pastel, dan Lebaran yang Bahagia

Ilustrasi gambar by AI

Ketika awal memasuki bulan Ramadhan, aroma lebaran sudah tercium. Berkali-kali, anak nomor dua berhitung berapa baju yang harus dipunyai. Hari pertama ini, hari kedua ini, dan seterusnya. “Enggak sabar lebaran tiba,” katanya. Dan itu diulang-ulang dan diulang-ulang entah berapa kali. Setiap hari. Ia benar-benar tak sabar menunggu lebaran tiba. Sampai-sampai telingaku jadi tebal mendengarnya.

Tapi, anakku bergeming. Ia tetap saja mengulang-ulang “enggak sabar lebaran tiba”. Hingga, aku kemudian berpikir, sebegitu menggembirakannya lebaran? Kenapa kebanyakan yang merasa sangat bahagia akan datangnya lebaran adalah anak-anak? Benarkah orang dewasa tidak bahagia?

Akupun lantas duduk-duduk termenung. Berpikir pelan-pelan. Betapa menyenangkannya menjadi anak-anak. Memiliki imajinasi yang begitu murni dan sederhana tentang lebaran. Belum Ramadhan saja sudah memimpikan datangnya lebaran. Aku tidak tahu, di bagian mananya, anakku memimpikan lebaran datang. Sampai-sampai, dia pernah mengutarakan imajinasinya: andai lebaran idul fitri bisa beberapa kali dalam setahun, betapa bahagianya.

Aku pun mencoba menjumput dua hal: lebaran dan kebahagiaan. Apa yang menjadi benang merahnya? Yang menautkan antara momen Idul Fitri dan rasa bahagia. Kenapa anak-anak sebegitu bahagia dengan lebaran? Kenapa orang dewasa biasa-biasa saja?

Ternyata mengurai ini tidaklah segampang mengaduk kopi. Aku pun mencoba menarik penyebab orang dewasa tak sebahagia anak-anak, karena terperangkap pada cara pandang kebutuhan selama lebaran. Membeli ini dan itu, dan otomatis pengeluaran membengkak.

Kemungkinan lain karena faktor usia, yang mengganggap anak-anak lah yang pantas sebahagia itu. Dan orang dewasa memang tak seharusnya sebahagia anak-anak. Orang dewasa perlu menjaga psikologis, menjaga penampilan agar tak terlalu bahagia. Karena jika terlalu bahagia, khawatir dianggap seperti kanak-kanak dan belum dewasa.

Dan ketika aku merenung enggak jelas itu, aku mendengar sebuah ceramah. Ceramah itu datang dari hape istri yang biasa mendengar pengajian dari YouTube di dapur sambil memasak. Ceramah dari (almarhum) KH Maimoen Zubair. Perhatianku langsung tersedot ke situ, lantaran temanya adalah zakat dan idul fitri.

Mbah Maimoen dawuh, ada empat hal yang selalu mengiringi datangnya lebaran. Sholat ied, zakat fitrah, takbiran, makan enak dan baju baru. Nomor 1 – 3 bukan hal aneh. Sholat ied tentu saja. Zakat fitrah apalagi. Dan takbiran sudah menjadi tradisi. Tapi makan enak dan baju baru?

Ternyata poin nomor empat itulah poin menariknya. Makan enak dan baju baru adalah sebuah ungkapan syukur yang sangat mudah terlihat. Kalau biasanya makan tempe, usahakan makan daging ayam atau sapi. Jika biasanya sayur bening, ganti sayur kare ayam. Jika tidak pernah ada buah-buahan, beli dan makan buah-buahan. Demikian seterusnya.

Rasa syukur itulah yang melandasi baju baru dan makan enak. Keduanya bukanlah wajib sebagaimana zakat fitrah. Akan tetapi, ungkapan syukur akan datangnya idul fitri inilah yang harus terus dipupuk. Syukur akan melahirkan Bahagia. Maka, tak heran jika ada banyak makanan yang disuguhkan kepada tamu, dan ketika makanan itu dimakan, tuan rumah akan merasa sangat bahagia. Bahagia berbagi.

Anak kecil merasa begitu bahagia karena punya baju baru, bisa makan enak. Ke mana-mana bertemu dengan jajan dan aneka kue.

Nah, kita sebagai orang tua, tak ada salahnya meniru anak-anak. Membeli baju baru dan menyiapkan makanan paling enak. Sebelum sholat ied, makan enak dulu. Baju baru dan makan enak bukan soal harga atau model. Tapi, semua dilandasi oleh ungkapan rasa syukur. Seberapapun tinggi harga makanan dan baju, kalau tidak dibarengi rasa syukur, maka orang dewasa tak mungkin sebahagia anak-anak.

 Seharusnya, orang dewasa bisa lebih bahagia, karena mampu mengimbangi semua yang terjadi dengan ilmu. Kerepotan-kerepotan menyiapkan lebaran, adalah kebahagiaan mensyukuri datangnya lebaran.

Membeli Khong Guan misalnya, bolehlah dimaknai rasa syukur akan datangnya lebaran. Karena orang kampung sepertiku, tentu tak setiap hari membeli Khong Guan. Malam takbiran seorang ibu menyembelih ayam kampung untuk jadi menu spesial di pagi lebaran adalah kerepotan yang membahagiakan. Seorang ibu membuat kue pastel, yang tahapan membuatnya begitu njlimet, dilakoninya dengan penuh bahagia meski harus berjam-jam di dekat kompor. Kerepotan membeli dan membuat kue, akan terbayarkan ketika ada tamu datang ke rumah dan mencicipi kue itu.

Tapi, benarkah itu yang membuat bahagia di hari lebaran? Entahlah. Mungkin Anda memiliki jawaban-jawaban tersendiri. Akan tetapi, hal terpenting adalah semangat berbagi di hari lebaran dan ungkapan syukur yang besar, pasti akan menghapus semua kesedihan. Apalagi di malam lebaran, kita bertakbir, mengakui betapa kecilnya kita di hadapan Yang Maha Besar. Tak ada yang bisa kita lakukan sebagai hamba kecuali bersyukur dan bersyukur atas semua yang dianugerahkan oleh Yang Maha Besar. Betapa kita yang kecil ini begitu diperhatikan oleh Yang Maha Besar. Apa yang diberikan oleh Yang Maha Besar kepada kita begitu banyaknya, begitu berlebih-lebih. Nikmat apa lagi yang hendak kita rindukan, ketika kita telah dianugerahi rasa syukur. Syukur yang membahagiakan.

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar

Tags: Idul FitriKhong GuanLebaran
Previous Post

Crikak Bojonegaran: Delok Ngkas Badha

Next Post

Tradhisi Malem Sanga: Nyumet Oncor Mapag Arwah Leluhur

Comments 1

  1. Wan's says:
    1 tahun ago

    Alhamdulillah…. Terus semangat, selalu memaknai …. Sip

    Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Cerita Pengalaman Berkunjung ke Pak Hoery, Penulis Sastra Jawa di Padangan-Bojonegoro

Cerita Pengalaman Berkunjung ke Pak Hoery, Penulis Sastra Jawa di Padangan-Bojonegoro

26/04/2026
Bojonegoro Book Party Pertemukan Para Pembaca Buku di Taman Lokomotif

Bojonegoro Book Party Pertemukan Para Pembaca Buku di Taman Lokomotif

12/04/2026
Garis Batas: Perjalanan Menyingkap Makna Kehidupan

Garis Batas: Perjalanan Menyingkap Makna Kehidupan

16/04/2026
Setyo Wahono: Pers Berperan Membangun Daerah

Setyo Wahono: Pers Berperan Membangun Daerah

09/04/2026
JFX Hoery, Mutiara di Ujung Barat Bojonegoro 

JFX Hoery, Mutiara di Ujung Barat Bojonegoro 

27/04/2026
AJI, KPI, dan GMNI Bojonegoro Gelar Aksi Damai Peringati Hari Kartini di Depan Kantor DPRD

AJI, KPI, dan GMNI Bojonegoro Gelar Aksi Damai Peringati Hari Kartini di Depan Kantor DPRD

21/04/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023