Mastumapel.com – Momen hari raya Idul Fitri, tak sekedar jadi momen silaturahmi. Tapi juga menjadi momen kulineran. Pasalnya, aneka jajanan dan kue hadir seperti gerimis.
Nah, salah satu yang perlu dicicipi adalah kerupuk upil. Kerupuk ini bisa menjadi rekomendasi sebagai oleh-oleh mudik dan jajanan lebaran, pengisi toples atau kaleng. Ya, namanya kerupuk upil, terkesan sedikit lucu ketika mendengarnya.
Kerupuk upil dikenal di beberapa daerah Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Setiap daerah memiliki sebutan nama yang berbeda-beda. Termasuk di Kabupaten Bojonegoro sendiri. Tak sulit untuk mencarinya. Kerupuk upil berbahan tepung tapioka yang digoreng menggunakan pasir. Konon dinamakan kerupuk upil karena rasanya yang sedikit ada asinnya. Juga karena ukurannya yang kecil-kecil se-upil.
Dilansir dari laman goodnewsfromindonesia.id, terkait sejarah kerupuk, bahwa pertama kali kerupuk yang dimasak itu jenis kerupuk rambak yang terbuat dari kulit sapi atau kerbau. Kerupuk rambak pada zaman dahulu hanya dikonsumsi masyarakat yang memiliki pangkat, atau orang berduit. Sedangkan masyarakat pada umumnya membuat kerupuk yang terbuat dari tepung tapioka dan dimakan sebagai pendamping nasi. Sebab pada zaman itu masyarakat kesulitan membeli sayur karena harganya mahal. Penggunaan pasir untuk menggoreng awal mulanya karena pada zaman itu, masyarakat bawah belum bisa menjangkau minyak goreng akibat mahalnya harga.
Kerupuk Upil Produk Warga Gayam

Siang menjelang sore, Rabu (26/3/2025), memasuki waktu Ashar saya berkunjung ke rumah Siti Murtini (43) warga Dukuh Bringan, Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro. Ia sudah lama menjalankan bisnis kerupuk upil. Usahanya yang dijalankan bersama suaminya telah berjalan selama 13 tahun. Usaha kerupuk upil milik Murtini ini merupakan resep turun temurun.
Rumah Murtini dekat dengan Bengawan Solo, berada di sekitar pinggiran Bengawan Solo. Depan halaman rumahnya terjejer jemuran kerupuk yang terbuat dari seng. Bahan kerupuk upil dimasukkan ke dalam rumah karena hari itu hujan datang lumayan deras. Dalam dapur sederhana mengepul asap dengan aroma khas. Di atas tungku, api menyala. Suara renyah kerupuk terdengar ketika digoreng.
Murtini menjelaskan, bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat kerupuk upil, yakni tepung tapioka, bawang putih dan garam. Membutuhkan waktu kurang lebih satu minggu dalam proses pembuatan adonan kerupuk. Semua proses dimulai dari mencampur semua bahan, kemudian merebusnya. Setelah itu dibiarkan selama 2 hari, baru kemudian dipotong-potong dan dijemur. Jika cuaca sedang cerah, penjemuran cukup 2 hari.
Baru setelah itu kerupuk siap digoreng dengan pasir panas dalam kuali ukuran lumayan besar yang terbuat dari tanah liat. Secukupnya pasir dimasukkan ke kuali. Jika pasir telah panas, dengan asap yang telah mengepul, kerupuk dimasukkan secukupnya diaduk searah. Perlahan kerupuk mengembang dan ditiriskan. Begitu Siti Murtini melakukannya setiap hari. Pasir ditambah sedikit-sedikit ketika dirasa telah berkurang pasir dalam kuali.
“Pasir baiknya tidak terlalu banyak, karena nanti berat ngaduknya ketika menggoreng. Sebelum pasir digunakan, dibersihkan terlebih dahulu,” jelas wanita 43 tahun ini dengan ramah.

Murtini menjelaskan bahwa pasir yang digunakan yakni pasir bengawan yang biasanya digunakan tukang bangunan untuk membangun rumah. “Pasirnya minta di tukang bangunan,” guraunya sambil ketawa kecil.
Tidak membutuhkan alat khusus untuk pembuatan kerupuk upil. Siti Murtini sambil mengaduk kerupuk menggunakan erok stainless melanjutkan ceritanya. Menurut dia, ukuran kerupuk upil miliknya cenderung kecil. Kerupuk upil dikemas dengan plastik ukuran 1 kg (15 × 27), dijual dengan harga Rp 2.000/ pcs. Plastik diisi penuh kerupuk upil. Di hari-hari biasa bisa habis dua karung/sak kerupuk upil yang telah digoreng.
“Kurang lebih jadi 40 bungkus kerupuk dari satu sak/karung, tepung tapioka yang digunakan bisa habis 10 kg,” jelasnya.
Murtini memasarkan kerupuk upil di Pasar Tobo, Kecamatan Purwosari, Bojonegoro. Dia menyetok para pedagang sayur keliling yang membawa rengkek. Rengkek adalah sebutan untuk semacam beronjong dari kayu tempat sayur. “Kerupuk upil bisa juga digoreng menggunakan minyak, jika pengen. Kadang ada pembeli yang membeli kerupuk upil mentah untuk digoreng sendiri,” ungkap ibu dua anak tersebut.
Di bulan Ramadhan ini, diakui Murtini produksi kerupuk upil sedikit meningkat. Terutama pada awal Ramadhan dan menjelang lebaran. Kerupuk upil biasanya dikonsumsi dengan sambal pecel. Meski tiap daerah bisa berbeda sesuai selera. Yang pasti, kerupuk upil cocok menjadi camilan ketika berkumpul bersama teman atau sanak saudara. “Paling banyak itu bisa habis 3 sak/karung kerupuk upil matang,” tuturnya.
Sebagai penjual kerupuk yang masih memanfaatkan terik matahari sebagai pengering adonan kerupuk, dia mengaku tidak berjualan ketika tidak ada terik matahari. Hal itu yang menjadi salah satu kendalanya. “Ketika masih ada yang membeli kerupuk, berarti masih ada yang suka dengan kerupuk upil saya,” katanya sambil tersenyum di akhir obrolan.
Kerupuk upil bukan hanya tentang cara membuatnya, namun mencerminkan hubungan harmonis manusia , alam dan budaya. Renyah dan rasa khas kerupuk upil masih mendapat tempat di hati para pencintanya. Dengan membelinya dan mencicipinya, kita ikut menjaga agar pengetahuan berharga ini tidak tergerus oleh zaman.









