Reporter: Anggun Sofia Ardila
Di tengah terik matahari Bojonegoro yang bisa mencapai 38 derajat celcius, kebun kopi di Desa Tlogohaji, Kecamatan Sumberrejo menantang pandangan umum tentang budidaya kopi. Karena ternyata kopi bisa tumbuh dan berproduksi di dataran rendah.
Dalam kegiatan Jurnalistik Trip #1 yang digagas Mastumapel.com, Sabtu (18/01/2025), Lilik Budi Witoyo (38), inisiator kebun kopi tersebut memperlihatkan bagaimana tanaman yang biasanya tumbuh di dataran tinggi ini bisa berkembang di dataran rendah Bojonegoro.
“Selama kebutuhan nutrisi terpenuhi, tanaman kopi tidak akan mati, bahkan di dataran rendah sekalipun,” ujar Budi sambil menunjukkan empat varietas kopi yang ia kembangkan sejak 2019, yakni Arabika, Robusta, Liberika, dan Excelsa.
Fenomena ini sangat menarik, mengingat perubahan iklim yang drastis di Kabupaten Bojonegoro. “Sebelum tahun 90-an, suhu di sini berkisar 20-25 derajat dan masih hijau, maksimal 30 derajat. Tapi sekarang, semakin ke sini semakin kuning dan memerah,” jelas Budi, menggambarkan perubahan dramatis kondisi lingkungan setempat.
Untuk itu, perlu ada penghijauan terus menerus. Dan menyiasati tantangan ini, Budi kemudian menciptakan “miniatur hutan” dengan menanam beragam pohon peneduh untuk tanaman kopi. Pohon peneduh itu diantaranya pule, durian, cempedak, jambu air, jambu bangkok, mangga, alpukat, dan jeruk madu. Sistem ini tidak hanya melindungi tanaman kopi dari paparan matahari langsung, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi ganda bagi petani.
“Penggabungan pohon peneduh dan kopi ini bukan sekadar tentang produksi kopi,” tegas Budi. “Ini adalah cara terbaik untuk program rehabilitasi hutan dan mata air. Pohon peneduh memiliki perakaran dalam yang mengurangi panas dan tanah longsor, sementara akar dangkal kopi membantu mengurangi erosi tanah,” terangnya.
Hasil dari kerja keras beberapa tahun ini mulai terlihat. Dua kali dalam setahun, pada Juni dan Desember, kebun kopi ini menghasilkan panen yang meski masih terbatas. Dan ini telah menarik perhatian penikmat kopi lokal yang diundang untuk mencicipi hasil panen perdana. Meski belum bisa dikomersilkan karena jumlahnya yang masih terbatas, hal ini membuktikan bahwa kopi bisa tumbuh dan berbuah di Bojonegoro.
Inovasi ini, lanjut Budi, telah menarik perhatian berbagai daerah. Diantaranya, Budi diundang untuk memberikan pelatihan di berbagai wilayah, dari Pekanbaru hingga Tuban untuk membagikan pengetahuannya tentang budidaya kopi di dataran rendah. Lebih penting lagi, inisiatif ini sejalan dengan program RPJMD Bojonegoro untuk pengembangan kebun kopi dan alpukat.
Sistem pertanian yang dikembangkan Budi menggunakan pupuk organik dari kotoran hewan dan gedebok pisang yang difermentasi. Hal ini menunjukkan komitmennya terhadap pertanian berkelanjutan.
Di tengah krisis cuaca ekstrem dan potensi krisis air yang melanda Bojonegoro, kebun kopi ini menjadi model solusi yang menggabungkan kepentingan ekonomi dan ekologi. Inisiatif ini tidak hanya menjawab tantangan reboisasi, tetapi juga membuka peluang terciptanya kopi khas Bojonegoro yang selama ini belum ada.
________
Anggun Sofia Ardila adalah mahasiswi IKIP PGRI Bojonegoro, peserta Jurnalistik Trip #1









