Mendengar kabar Bojonegoro memiliki museum yang siap dikunjungi, rasanya hampir tidak percaya. Flyer bertajuk Boyongan Museum Rajekwesi di Jl. Pahlawan No. 9 Bojonegoro dari tanggal 20-22 Oktober 2025 itu menyita perhatian. Saya bersama dua teman mengunjungi museum yang terletak di sebelah barat Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) itu pada Senin malam (20/10).
Saya masuk melalui gerbang timur gapura hitam bertuliskan Museum Rajekwesi, karpet merah membentang dan di sepanjang sampingnya lapak-lapak pameran keris, aksesoris dari bahan alam dan batu akik berjajar sampai tikungan. Meski sudah malam, museum bisa kunjungi hingga tanggal 22 Oktober 2025. Setelah tanggal itu, museum buka sesuai jam kerja dari pukul 8.00-16.00 WIB.
“Akhir pekan tetap buka, kemungkinan liburnya Senin dan Selasa,” terang Andrean, salah satu pemandu museum yang menyambut pengunjung.
Ruang 1; Fosil dan Peninggalan Purbakala
Saya diarahkan ke ruang pertama di sebelah kanan pintu masuk. Mata saya langsung disuguhi pemandangan fosil gajah purba di etalase sebelah kanan. Potongan-potongan fosil itu disusun memanjang. Juga ada fosil-fosil gigi hiu dan cangkang kerang berbagai macam. Di sebelah selatan, tanpa ditutup kaca, kerangka kepala kerbau itu tampak gagah.
Masing-maasing benda bersejarah diberi papan nama dan sedikit keterangan di depannya. Sesekali Andrean bercerita ini tulang apa dan tulang apa. Ada tablet juga yang disediakan, pengunjung tinggal menggeser-nggeser layarnya dan informasi tentang benda yang dipajang akan muncul meski hanya nama dan deskripsi 1-2 paragraf.
Ruang 2; Peninggalan Hindu-Budha
Di selatan ruang fosil, ada ruang khusus benda sejarah peninggalan Hindu-Budha. Furnitur dari keramik khas zaman dulu disuguhkan di lemari kaca sebelah kanan. Ada yang berbentuk seperti piring dengan motif-motif elegan dan warna yang lembut. Ada pula kendi, gentong, ceret bahkan botol minum dari tanah liat yang di film-film biasanya digunakan untuk wadah anggur. Meski beberapa ada yang pecah, tapi benda-benda itu tetap menawan.
Di depannya, ada batu besar berbentuk yoni. Dalam kepercayaan Hindu, yoni melambangkan kesuburan, melambangkan reproduksi perempuan. Yoni memiliki cerat yang berfungsi untuk mengalirkan air suci atau susu yang dituangkan di atas lingga (lingga merupakan representasi dari reproduksi laki-laki).
Di samping yoni berjejer 4 arca, salah satunya arca Dewa Siwa. Arca-arca itu masih tampak gagah dan terawat, satu berukuran besar, tiga lainnya berukuran sedang.
Di kiri pintu, lemari kaca menyuguhkan furnitur dari tembaga. Ada pula 3 tembaga persegi panjang warna emas kecokelatan yang bertuliskan Aksara Jawa, sayang sayabelum bisa membacanya. Di anatara tembaga-tembaga itu, ada pula rosario berukuran sedang dengan manik-manik berbentuk tabung.
Ruang 3; Etnografi
Puas membayangkan bagaimana kehidupan zaman Hindu-Buda dengan segala peninggalan yang penuh filofosi dan furnitur yang menawan, saya beralih ke ruangan di depannya, Ruang Etnografi. Di tengah-tengah ada lesung panjang yang jika digunakan bersama-sama akan menimbulkan irama. Ada pula lesung kecil dengan satu lubang
Menarikya lagi, ada penggilingan kedelai. Tersusun dari dua tumpukan batu besar bentuk bundar, dengan bolongan kecil di atas bagian samping untuk memasukkan biji-biji. Lalu di bawahnya ada lubang kotak kecil tempat di mana kedelai yang sudah halus keluar.
Andrean, sang pemandu, menyontohkan bagaimana cara menggunakan alat penggiling tersebut, setelah biji-biji masuk, lubang bundar dimasuki gagang kayu lalu diputar sekuat tenaga. Jika menonton Upin-Ipin, ini pas saat adegan Opah dan Upin-Ipin menggiling kacang hijau menjadi tepung menggunakan batu yang sama.
Di sebelah kiri pintu, keris-keris yang sedikit keropos tampak sakral di lemari kaca. Di depannya ada berbagai alat pertanian zaman dulu seperti ani-ani, cangkul, sabit, dan garu/sisir.

Di samping alat pertanian, ada produk-prduk dari anyaman bambu seperti tampah, bakul nasi, kipas sate, bojok, bucu, entong kayu dan kendil. Di depannya ada peralatan untuk menangkap ikan seperti kepis, wuwu welut, wuwu ikan, jala ikan, susug ikan dan serokan ikan.
Lemari kaca terakhir di ruangan ini berisi 3 alat musik. Ada 3 buah gamelan, 1 kecapi tanpa senar, dan calung.
Ruang 4; Kesenian
Setelah puas di 3 ruangan lantai 1, saya menuju Ruang Kesenian di lantai 2. Di ruangan ini ada pelaminan tradisional khas Bojonegoro. Satu kursi panjang dari kayu jati untuk pengantin yang di belakangnya ada gembyok berukir yang diapit dua payung warna hijau. Di sisi kanan 3 keris berjejer berdampingan dengan 2 payung emas yang menguncup.
Pakaian adat pengantin khas Bojonegoro yang serba hijau tua atau army terkesan memancarkan nilai tinggi yang berbudaya. Kembang goyang bentuk daun yang berjumlah enam menghiasi konde pengantin perempuan. Di tengahnya mahkota kecil bertengker anggun dan mawar serta melati menjuntai di sisi kanan dan kiri konde pengantin. Pengantin laki-laki menggunakan blangkon kain yang ditutup hiasan kepala dari tembaga, berkalung melati dan membawa keris sebagai simbol seorang ksatria.
Di lemari kaca lainnya ada kosstum paten para pelakon Sandur, Cawik yang ayu dengan kebaya hijau dan jarik putih bercorak cokelat, juga Pethak, Balong dan Wak Tngsil yang memiliki model baju berbeda tapi sama warnanya, perpaduan merah dan putih.
Tari Thengul yang menjadi ciri khas Bojonegoro juga dihadirkan kostumnya di ruangan ini. Kostum perpaduan warna hijau dan oren itu semakin lengkap dengan hiasan 4 bunga di sanggul manekin.
Ada satu ruangan lagi di samping Ruang Kesenian, ruang yang digunakan pengunjung untuk menonton film-film dokumenter tentang Kota Ledre tersebut. Sebab sudah malam dan yang bertugas sudah pulang, saya tidak bisa mengeksplore ruangan tersebut.
Ruang 5; Pertunjukan
Ruang Pertunjukan ini berada di belakang Ruang Kesenian tepatnya sebelah kanan. Di ruangan ini pengunjung harus melepas alas kaki. Karpet abu-abu yang membentang mengarahkan pengunjung untuk membaca tentang Ruang Pertunjukan yang disuguhkan di kiri dan kanan tembok yang berbentuk lorong.
Saat sampai di ujung, satu set gamelan tersaji memukau mata. Ternyata, pengunjung boleh belajar memainkannya atau sekadar untuk foto berpura-pura memainkannya asal berhati-hati. Di depan set gamelan ini para wayang thengul berjejer rapi di panggung pentas berhias bulu merak yang biasa dipakai Krisna.

Di samping wayang thengul, wayang kulit juga berjajar rapi satu set. Dengan background putih yang membentang di gebyok kayu jati berukir.
Terakhir ada wayang krucil dengan background putih dengan pinggiran atas warna merah. Dari segi bentuk, wayang krucil mirip dengan wayang kulit, bedanya bentuk wayang krucil lebih timbul dan membentuk dari pada wayang kulit yang tipis.

Pameran Keris, Batu Akik dan Aksesoris dari Bahan Alam
Saya turun menuju luar lantai pertama untuk berkeliling di pameran keris, batu akik dan aksesoris dari bahan alam. Pertama saya mencoba akik yang diproduksi masa kini dan dijual dengan harga 50ribu. Ada akik untuk perempuan dan laki-laki. Mencoba cincin akik rasanya seperti hidup di zaman kerajaan.
Tidak hanya akik masa kini, juga ada akik masa lampu dalam kotak kaca tertutup. Untuk akik ini tidak bisa dicoba, hanya untuk dinikmati keindahannya.
Selain akik, ada pula kalung dan gelang dari siung ikan. Ada juga gelang bertekstur tajam dari sirip ikan, yang jika dipakai sangat aman untuk jaga diri, sebab sekali tonjok, sirip-sirip lancir dan tajam itu membuat kulit berdarah.
Kebanyakan yang dipajang adalah keris. Keris ini memenuhi meja dari ujung ke ujung. Rasanya seperti jalan-jalan di pasar tradisional mada masa kerajaan.
Dari Warga untuk Museum Rajekwesi Bojonegoro
Meski awalnya kaget Bojonegoro membuka museum, salah satu pengunjung dari Kecamatan Sekar antusias mengeksplore semua sisi Museum Rajekwesi. Menurutnya, museum itu sangat menarik sebab ada peninggalan leluhur yang disajikan secara layak di tempat yang proper.
“Awalnya kaget tiba-tiba Bojonegoro ada museum,” terang Yudik Hardika.
Dika, sapaan akrabnya bersama Eka Pradana Kusuma berharap museum juga menyuguhkan manuskrip-manuskrip kuno dan juga prasasti yang dimiliki Bojonegoro. “Dari ruang yang dikunjungi, belum ada benda-benda itu dipajang. Akan lebih lengkap jika disajikan sebab mungkin pemandu bisa menerjemahkan isinya meski kita belum bisa membaca secara langsung,” papar mereka.
Gambaran tentang benda yang disediakan di tablet, menurut Eka, kurang menjelaskan secara keseluruhan. Pemuda dari Ngasem tersebut berharap ada penjelasan yang rinci tentang filosofi beberapa warisan budaya.
“Atau setidaknya pemandu bisa menceritakan secara detail bentuk ini bermakna apa atau ornamen di baju pengantin melambangkan apa. Kalau pemandu tidak tahu kan ngefeknya juga ke kita ini pengunjung. Tapi penyambutan dan cara pemandu menemani ramah kok,” ungkapnya.
Eka dan Dika sama-sama sependapat bahwa museum ini wajib dikunjungi utamanya oleh warga Bojonegoro untuk mengenal lebih dalam tentang kota yang ditempati. “Bagi orang luar Bojonegoro pun jika berencana ke Bojonegoro harus mampir ke museum,” ucap Eka.
“Mungkin bisa ditambah pendinginnya. Meski berkunjung malam, rasanya sangat sumuk,” pungkas Dika.









