Mastumapel.com – Masihkah kita mengenal seni tradisi pertunjukan lokal yang sekarang sudah jarang dikenal. Seni wayang misalnya yang membayangkan saja menganggap sudah ketinggalan zaman, apalagi durasi pementasan yang cukup lama.
Namun bagi sebagian orang seni tradisi pertunjukan ini masih perlu dikenal terutama bagi generasi mendatang dan dijaga sebagai warisan budaya yang tersimpan nilai-nilai luhur di dalamnya. Di Bojonegoro terdapat seni pertunjukan wayang yang khas bernama Wayang Thengul Bojonegoro.
Wayang Thengul berupa pertunjukan wayang tiga dimensi yang terbuat dari kayu, memiliki kesamaan dengan wayang golek menak yakni bagian kepalanya dapat digerakkan ke kanan, kiri dan ke atas. Namun yang membedakan lakon atau cerita yang dibawakan, jika wayang golek biasa dengan cerita Mahabharata dan Ramayana, Wayang Thengul menggunakan cerita lokal khas yang terkenal di Bojonegoro seperti kisah Angling Darma, babad (cerita sejarah lampau) Majapahit, babad Ronggolawe dan babad Jipang, juga sering menampilkan cerita Panji, Walisongo, dan serat menak (naskah sastra Jawa yang merupakan adaptasi dari hikayat Amir Hamzah Melayu, yang dalam Islam mengisahkan perjuangan paman Nabi Muhammad Saw, bernama Amir Hamzah dalam menyebarkan agama).
Tak heran jika Wayang Thengul ditetapkan sebagai kesenian khas Bojonegoro dengan ciri berbeda.
Kenapa Namanya Wayang Thengul?
Dinamakan Wayang Thengul diambil dari kata thengul dengan akronim methentheng dan methungul dengan arti karena dalang harus methentheng (tenaga ekstra) untuk mengangkat, agar wayang bisa methungul (muncul) terlihat penonton.
Mengutip tulisan JFX Hoery (sastrawan Jawa) dalam salah satu media online, dia mengambil dari penuturan Santoso, seorang warga Desa Padangan Kecamatan Padangan yang telah menggeluti profesi dalang wayang Thengul sejak masih muda sekitar usia 14 tahun, pada 1959. JFX Hoery menjelaskan setidaknya Santosa memiliki catatan atau cerita mengenai wayang Thengul. Santosa menggeluti profesi dalang wayang Thengul dan wayang krucil sekaligus menjadi pengrajin kedua wayang tersebut.
Wayang Thengul muncul pada 1930, seorang pemuda bernama Samijan dari Desa Banjarjo Kecamatan Padangan membuat wayang boneka menyerupai wayang menak yang pada saat itu sudah terkenal di wilayah Kudus. Diduga Samijan terinspirasi dari wayang menak Kudus yang penyebarannya luas hingga ke Padangan, Cepu Kabupaten Blora, wayang menak digunakan sebagai media siar agama Islam. Alasan Samijan membuat Wayang boneka kayunya selain mengembangkan kreativitas seninya juga untuk mencari nafkah.
Samijan kemudian mendalang wayang boneka kayunya, keliling dari desa satu ke desa lainnya. Niat kuat dalam mendalang keliling, istilah bahasa Jawa disebut dengan methentheng niyat ngulandara. Kemudian dijadikan nama wayang boneka kayunya dengan sebutan Thengul. Theng dari akronim methentheng dan ngul dari kata ngulandara.
Hoery juga menjelaskan selain itu juga ada yang mengartikan sebutan Thengul karena kepalanya dapat digerakkan ke kanan ke kiri atau methungal methungul. Satu kotak wadah berisi wayang Thengul yang digunakan untuk keliling dinamakan wayang geyer. Nama ini diambil karena beratnya wayang dalam satu kotak yang dipikul sehingga ketika membawa sampai badan nggeyer-nggeyer (terasa berat mengangkat beban).
Melalui hal ini, Samijan terkenal dengan sebutan Ki dalang geyer. Samijan mengalami ketenaran pada sekitar 1950. Nama geyer menjadi identik di wayang Thengul, sehingga dalang Wayang Thengul Bojonegoro dikenal dengan sebutan dalang geyer. Wayang Thengul yang awalnya dibuat Samijan untuk mencari nafkah dengan keliling desa, seiring berjalannya waktu, banyak yang menanggap, bukan hanya sekedar sebagai hiburan, melainkan keperluan hajatan yang mulai berkembang.
Tidak hanya di wilayah Padangan, wayang Thengul meluas ke Dander, Kanor hingga Tuban. Penerus Samijan adalah Tayib dari Desa Caper, Kecamatan Batokan. Tayib merupakan penabuh gamelan yang setia mengikuti Samijan. Samijan tidak memiliki anak sehingga penerusnya bukan dari keturunannya.
Wayang Thengul Bojonegoro mengambil bentuk dan pakaian mirip ketoprak. Gamelan pengiring menggunakan pelog atau Laras slendro yang menjadi ciri khas gamelan Jawa Timur, juga diiringi waranggana (vokal). Layar (geber) pada Wayang Thengul pada bagian tengah terbuka atau diberi lubang sebagai ruang pementasan gerak wayang, sehingga dari arah belakang, penonton akan tampak bentuk wayang dan gerakan dalang. Panjang layar Wayang Thengul tidak sepanjang wayang kulit, sekitar 3-4 meter.
Dalam pergelaran wayang Thengul, wayang-wayang dijajar sebelah kiri dan kanan dari layar yang terbuka, Wayang-wayang ditancapkan di batang pisang.Gunungan ( Kayon) terbuat dari kayu dan bulu ekor merak. Ikatan bulu ekor merak diikat berjajar ditancapkan ke boneka bentuk muka lumayan besar. Lama pergelaran sekitar 6-7 jam, terkadang siang juga malam.
Sejarah Perkembangan Wayang Thengul Menurut Peneliti
Mengutip penelitian dari Sigit Prianto, mahasiswa jurusan pendidikan sejarah, Universitas Negeri Surabaya, yang berjudul “Seni wayang Thengul Bojonegoro tahun 1930-2010” mengenai perkembangan dan transformasi Wayang Thengul Bojonegoro, menerangkan beberapa tahap, diawali perkembangan Wayang Thengul era kolonial Belanda hingga presiden Soekarno yakni pada 1930-1965.
Pada era ini, dulu wayang Thengul masih sangat sederhana, baik pakaian, hiasan dan ukirannya, terlihat dari ukiran mata, hidung dan ekspresi wajah masih halus. Polesan pada mata tipis dan kurang timbul. Ekspresi muka terlihat kaku, aksesoris kepala kurang rapi dengan pahatan dan ukiran sederhana pada telinga. gamelan pelog dan perlengkapan panggung lainnya baru disertakan ketika wayang Thengul mulai mendapat undangan dari berbagai acara.
Pada masa orde baru (1966-1998) ukiran pada wayang masih sederhana, perkembangan positifnya yakni ukiran hidung, mulut, dan gigi menyerupai bentuk asli. Pada periode 1990 ekspresi wajah wayang Thengul cukup tampak hidup. Pada periode 1999-2014 terdapat perkembangan yang cukup baik, yakni dengan pemaksimalan pementasan dalam perlengkapan gamelan yang awalnya (sebelum tahun 2000) hanya menggunakan gamelan pelog pada periode ini ditambah gamelan Laras selendro, disertai dengan vokal / warenggana dan drum set.
Perkembangan ciri-ciri dalam pembuatan wayang Thengul terlihat karakter tubuh wayang yang lebih spesifik. Ukiran lebih realistis dan timbul. Bentuk pahatan mata, hidung, mulut, telinga pada wajah membentuk ekspresi lebih nyata. Polesan pada wajah juga terlihat terang dan segar. Terdapat peningkatan di pakaian dan aksesoris yang bisa dicopot.
Pakaian wayang Thengul dibuat lebih menonjolkan ciri-ciri dan karakter wayang. Pembuatan wayang lebih dikuatkan pada karakter wayang dan ciri-ciri yang ada pada cerita. Hiasan wayang lebih mendetail seperti mahkota, dan bordiran pada kain wayang. Perubahan ciri-ciri Wayang Thengul dilatarbelakangi oleh perkembangan zaman.
Mengutip dari beberapa sumber, karakter wayang Thengul disesuaikan dengan cerita yang ditampilkan, setiap tokoh mempunyai ciri khas sendiri. Selain karakter, suara tokoh dan gerakan juga berbeda. Untuk peran tokoh raja, kesatria, dan patih memiliki pakem bentuk wayang dengan spesifikasi karakter dan bentuk tersendiri. Seperti dalam penelitian yang dilakukan oleh Puteri Ayu Wahyuningtiyas mahasiswi jurusan Sendratasik Universitas Negeri Surabaya yang melakukan penelitian mengenai analisis karakter tokoh Wayang Thengul pada Lakon Sri Huning Gugur, yakni sebuah legenda dari tiga kota yakni Bojonegoro, Tuban dan Lamongan yang terjadi pada era kerajaan Majapahit oleh dalang Ki Darno Asmoro.
Diterangkan bahwa tokoh Wayang Thengul laki-laki tampak ciri-ciri menggunakan aksesoris kalung kace, terdapat keris pada bagian belakang pinggang, selendang terletak memutar di bagian pinggang, dan corak warna merah muda di bagian kelopak mata yang tidak penuh. Sedangkan pada Wayang Thengul perempuan tidak menggunakan kalung kace, penggunaan selendang disampirkan pada pundak sebelah kanan secara diagonal dan memiliki corak merah muda penuh di bagian kelopak mata.
Tokoh wayang Thengul laki-laki lebih terlihat gagah daripada perempuan. Pergerakan Tangan Wayang Thengul laki-laki berada di depan dan belakang dengan badan condong ke depan, sedangkan tangan wayang tokoh perempuan terlipat di depan perut supaya terlihat anggun. Dalam Wayang Thengul tidak ada punakawan yang spesifik seperti di wayang kulit. Punakawan dalam Wayang Thengul bisa dimunculkan melalui kreativitas dalang dan namanya disesuaikan dengan lakon yang digelar.
Karakter Wayang Thengul dapat dilihat dari segi wayang seperti warna wajah, raut muka dan bentuk badan. Wayang yang memiliki wajah warna merah lebih kuat mencerminkan pada tokoh antagonis (melawan). Namun tidak semua wajah warna merah menunjukkan tokoh dengan emosi berlebihan, melainkan dapat diartikan ketegasan dan disiplin. Sedangkan wajah warna putih mencerminkan tokoh alusan (protagonis). Salah satunya karakter wayang gecul yakni wayang selingan yang menampilkan karakter wayang pelawak, jin atau penari (sindir). Dalam hal ini dalang memiliki kreativitas dalam memainkan wayang dan membuat cerita baru dalam sesi wayang guyonan atau sesi gara-gara (jenaka, humor).
Tokoh-Tokoh dalam Wayang Thengul
Berbagai tokoh Wayang Thengul antara tokoh raja, punggawa (tokoh yang bijaksana, setia, dan berwibawa) dan punakawan (gecul), juga hadir sosok prajurit berkuda. Kehadiran prajurit berkuda bukan sekedar sebagai pemanis, namun menjadi elemen penting yang menghidupkan dinamika lakon.
Secara visual, prajurit berkuda Thengul memiliki karakter yang kuat dan mudah dikenali. Dengan ciri tubuh tegap, mengenakan busana tentara kerajaan, bisa berupa baju takwa( kain lurik baju surjan) dengan ikat kepala atau helm khas. Ekspresi wajah menunjukkan ketegasan dan kesigapan, mencerminkan jiwa seorang pelayan negara yang siap tempur.
Bentuk kuda digambarkan berbeda, yang digambarkan tidak secara realistis kuda naturalis(bercorak nyata) melainkan dengan gaya distorsi (memanipulasi karakter visual) yang penuh tenaga. Tubuh kuda yang kekar dengan kaki-kakinya yang kokoh, posisi kuda sering kali digambarkan dalam keadaan melangkah, mendengking, ekor kuda diukir detail menambah kesan gerak.
Hal ini menciptakan kesan dinamis dan heroik. Prajurit berkuda wayang Thengul digunakan sebagai pengawal dan pasukan elite, kurir, pembawa pesan, dan penghubung adegan dan pengatur tempo.
Wayang Thengul seperti seni tradisi lainnya, mengandung akan makna. Seperti prajurit berkuda tidak hanya dimaknai secara harfiah(terlihat). Kuda melambangkan hawa nafsu dan energi duniawi. Kuda yang liar dan kuat harus dapat dikendalikan.
Prajurit melambangkan akal, budi, pekerti, dan kekuatan mental. Dengan demikian, prajurit berkuda mengartikan atau melambangkan manusia yang mampu menunggangi dan mengendalikan hawa nafsunya sendiri. Seorang kesatria sejati yang menggunakan energi dengan kendali penuh untuk menuju tujuan yang mulia dan benar. Kuda yang terkendali dengan baik akan membawa sang penunggang ke tempat yang dituju dan bukan mencelakakannya. Terdapat juga tokoh sinden, tokoh perempuan Wayang Thengul yang digunakan sebagai penutup acara pagelaran.
Wayang Thengul Bojonegoro ternyata menyimpan banyak keunikan dan keindahan, untuk dinikmati sebagai seni pertunjukan. Di era modern seperti sekarang patut memandang tradisi dengan pandangan filosofi atau makna yang terkandung di dalamnya.









