Jurnalistik Trip #2 digelar oleh Mastumapel.com Sabtu (22/2/2025). Peserta dari mahasiswa kampus Bojonegoro melakukan peliputan lapangan di Djoyo Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Djoyo Tani. Tempat tersebut sekaligus menjadi tempat edukasi dan wisata pertanian.
Sebanyak tiga mahasiswa dari IKIP PGRI dan Unugiri Bojonegoro melakukan kegiatan jurnalistik, bertemu dengan Fatkul Ilma, seorang petani milenial, Pemuda Pelopor Bojonegoro yang berprestasi tingkat nasional, sekaligus founder Djoyo Tani. Sekitar pukul 10.00 WIB, peserta Jurnalistik Trip #2 melakukan liputan lapangan ke greenhousedi Desa Bendo, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro.
Menurut Fatkul Ilma, Djoyo Tani berdiri tahun 2021. Berawal dari bangunan greenhouse bambu 4×6 meter, dan terus berkembang menjadi ukuran 6×10 meter. Greenhouse bambu terus berkembang menjadi ukuran 6×18 meter. Di akhir 2022 greenhouse Djoyo Tani dibangun permanen menggunakan rangka besi, dimulai dari ukuran 10×50 meter. Pembangunan dilanjutkan kembali pada 2023 berukuran 20 x 50 meter atau kini 1.000 meter persegi. Awal 2024, Djoyo Tani kemudian resmi menjadi Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S).
“Sekarang era 5.0. Artinya teknologi sudah bisa mengambil peran menggantikan manusia, seperti pemberian pupuk. Di mana semua sistem menjalankan kegiatan,” ucap Fatkul Ilma, mengawali perbincangan di rumahnya.

Dengan perkembangan teknologi, dia mengatakan tugas teknologi memudahkan manusia. Ia berusaha mengkolaborasikan antara IoT (internet of things) dan AI (artificial intelelligence) untuk mengembangkan inovasi teknologi pertanian yang semakin canggih dalam membantu pekerjaan petani. Melalui IoT merupakan konsep di mana jaringan perangkat fisik terhubung dan dapat bertukar data melalui internet. IoT memungkinkan perangkat-perangkat tersebut untuk berinteraksi dan berkomunikasi secara otomatis tanpa campur tangan manusia.
Peran AI adalah mendistribusikan dari sitem peralatan pertanian ke handphone. Dari situ, dia kombinasikan antara IoT dan AI. “Nutrisi tumbuhan dikontrol secara otomatis, kita bisa mengetahui temperatur alarm setting. Bisa mengetahui suhu di dalam ruangan, termasuk ada TDS, PH, kipas, pompa dan banyak lagi,” jelasnya sambil menunjukkan sistem aplikasi di handphone miliknya.
Fatkul Ilma menuturkan ia dapat mengontrol greenhouse hanya melalui handphone yang ia pegang. Juga bisa mengontrol greenhouse dari tempat manapun. Satu minggu sekali dia me-restart aplikasinya.
Fatkul mengatakan, dari inovasi sistem yang dibikin, memiliki beberapa kelebihan yang tidak ditemukan pada pertanian konvensional. Selain pemilihan alat yang sederhana dan efisien, hasil panen petani tidak tergantung terhadap cuaca. Petani bisa memprediksi, ketika tanam, panen dan lainnya semua terecord dan ada datanya. Cuaca dalam greenhouse bisa diatur sesuai dengan keinginan dan tidak tergantung terhadap cuaca di luar.
“Cuaca penghujan di luar greenhouse dan kemarau di dalam greenhouse, dua iklim yang berbeda. Tetapi kondisi iklim di dalam greenhouse bisa stabil dan tidak terpengaruh dengan kondisi luar,” terangnya.

Pemuda asal Desa Bendo ini menjelaskan, dengan ini petani bisa mengalkulasikan dari biaya operasional , panen dan hasil. Petani bisa menyetarakan harga, memberi patokan harga di awal. Jadi petani yang menentukan harga.
Di greenhouse P4S Djoyo Tani, ada banyak tanaman. Diantaranya melon, cabai, anggur, hingga seledri. Seledri ditanam melalui metode hidroponik di samping rumahnya. Ia dapat panen seledri setiap satu bulan. Sekali panen, bisa sekitar 3 kuintal dengan rata-rata pendapatan Rp 6 juta hingga Rp 7 juta.
Dia juga menjelaskan, bahwa sebenarnya tidak sembarangan orang bisa masuk dalam greenhouse, karena ditakutkan ketika dari luar orang tersebut berpotensi membawa virus. Langkah ini bertujuan mengurangi potensi penyakit tumbuhan. Melalui metode greenhouse ini pertumbuhan tanaman bisa lebih cepat dan minim dari penyakit atau hama.
Pemuda berusia 28 tahun ini, mengembangkan dan menggalakkan teknologi smart farming yang terjangkau sebagai bentuk nyata potensi desa dalam penyokong ketahanan pangan. Baginya, teknologi informasi tidak hanya dapat dipelajari oleh kalangan tertentu di tempat formal, tapi bisa dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja walaupun dengan keterbatasan.
“Semua tempat adalah sekolah dan semua orang adalah guru. Jadi kita belajarnya tidak hanya di sekolah atau kampus. Harapan saya petani bisa sukses dan menentukan masa depannya masing-masing,” tuturnya.
Sebagai pemuda di kota kecil Bojonegoro ini, Fatkul telah membuktikan sebagai pemuda pelopor dengan ide dan gagasannya yang bisa diterapkan langsung di dunia nyata terutama dalam pertanian. Meski dia bukan dari latar belakang pendidikan pertanian, tapi berawal melihat bagaimana kondisi petani. Yakni bapaknya yang seorang petani, menjadi salah satu yang melatarbelakangi semangatnya untuk terus berkarya.
Berangkat dari proses belajar ini, dia berkeinginan bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Djoyo Tani membuka magang bagi siapapun yang ingin belajar. Belajar tentang sistem, budidaya, hingga marketing. Dengan harapan setelah belajar di Djoyo Tani, mereka bisa bersinergi bersama membuat agro bisnis, yang menjadi mimpi besarnya. Semangat pemuda Bojonegoro!









