Nur Imamah memang tak muda lagi. Usianya menginjak 53 tahun. Tapi, ia masih produktif dengan berjualan di sela-sela kewajibannya mengajar dan sebagai ibu rumah tangga. Ia berjualan kue tradisional Putu Tegal dan kue tradisional lain. Putu Tegal adalah kuliner andalanya.
Bisnis kue tradisional Putu Tegal menurut dia sangat berpengaruh dalam menambah pemasukan ekonomi, termasuk membantu biaya pendidikan anaknya. “Belum luas dipromosikan, masih dari cerita mulut ke mulut,” kata Naila anak ke tiga Nur, yang duduk di sampingnya ketika ditemui di rumahnya (10/12/2025).
Nur, ibu empat anak ini menjajakan Putu Tegal dengan cara dititipkan ke beberapa pedagang kue tradisional di dekat rumahnya yang berlokasi di Dusun Kalangan, Desa/Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro. Serta dijajakan ketika ada event bazar, juga event CFD (car free day) di Cepu. Meskipun termasuk kue tradisional Putu Tegal menjadi kue yang selalu dikangeni oleh lidah para penggemarnya. Bisnis kuliner ini sudah dijalankan ibu yang telah memiliki dua cucu tersebut selama 3 tahun ketika masa pandemi covid 19.
Pada hari biasa, Nur bisa membuat Putu Tegal sebanyak 50-60 bungkus, berbeda ketika ada bazar dia bisa membuat sekitar 300 bungkus. Terkadang juga menerima pesanan dalam jumlah lumayan banyak.
“Awalnya, saya kan suka makanan yang berbau-bau kelapa. Di sisi lain waktu itu masih ada anak yang kuliah dan dua anak yang mondok, akhirnya saya berpikir, apa ya usaha yang menambah ekonomi dan saya seneng. Terus, zaman dulu kan ada kue yang namanya putu tegal, saya coba buat kog enak kemudian membagikan ke tetangga kanan-kiri. Mereka bilang enak dan suka, dari sini saya mulai sadean (jualan),” papar Nur Imamah.
Putu Tegal merupakan kue tradisional yang berbeda dengan kue putu biasanya kita temui. Kue putu ini memiliki ciri khas adonan tepung beras putih dan terdapat isian gula merah di dalamnya yang dijajakan dengan gerobak berbunyi nyaring. Perbedaannya kue Putu Tegal bertekstur kenyal dan lengket dengan isian pisang matang di dalamnya. Di atasnya dibaluri kelapa parut dan gula pasir, biasanya paling banyak adonan berwarna hijau, sekilas mirip dengan kue tradisional klepon.
Tekstur kenyalnya ini berasal dari adonan tepung ketan. Cara memasaknya dengan dikukus. Mengutip beberapa sumber, dinamakan Putu Tegal sesuai dengan namanya kue ini memang berasal dari Tegal, Jawa Tengah. Di sisi lain menganggap nama putu tegal, dari kata tegal, yang dalam Bahasa Jawa adalah tegalan yang berarti ladang atau sawah. Warna hijaunya melambangkan sawah atau Tegal, sedangkan pisang melambangkan tanaman pendamping yang biasa ditanam di sekitar sawah.
Resep Putu Tegal

Ketika ditanya resep, Nur Imamah menjawab bahwa adonan kue merupakan perpaduan dari tepung ketan dan tepung beras. Selain itu dia memisahkan sendiri untuk taburan gula pasirnya.
“Resep Putu Tegal yang saya jual adalah dari coba-coba. Ketika sore setelah mengajar saya coba membuat putu tegal kemudian membagikannya ke tetangga, dari mereka mendapat masukan, ada yang bilang kurang ini dan itu, jadilah belajar dari situ,” jelas Nur
Menurut dia, perbandingan adonan antara tepung ketan dan beras adalah misalkan tepung ketan ¾ kilo diberi tepung beras ¼ kilo, jadi perbandingannya 3 banding 1.
Nur Imamah merasa bersyukur dengan tanggapan para pelanggannya yang terpikat dengan perpaduan rasa dalam putu tegal buatannya. Sehingga tidak dipungkiri kue putu tegal buatannya masih sering dicari. Seperti halnya pebisnis kuliner lainnya, pasti mengalami adanya naik turun dalam penjualan. dia mengatakan tantangan yang paling sulit yaitu ketika salah satu bahan di kue yaitu pisang sedang tidak musimnya, selain itu jumlah kue yang dibuat masih terbatas, kendala tenaga dan waktu.
“Orang-orang dulu itu caranya gula ditabur, tapi saya bikin ciri khas, gulanya saya wadahi plastik kecil, supaya ditabur sendiri. Untuk kelapanya juga dikukus supaya tidak lengket dengan yang lainnya,” ungkapnya.
Nur menyebutkan beberapa bahan lainnya yang dibutuhkan antara lain pisang, kelapa muda, gula pasir dan garam. Kualitas bahan-bahan dijaga benar oleh Nur, dia mengatakan untuk pisang di dapat dari pedagang pisang yang sudah menjadi langganannya. Pisang yang digunakan jenis pisang raja.
Nur Imamah memberi pesan dalam berbisnis kuliner untuk selalu menjaga kebersihan makanan dan sabar dalam menjalankannya. Dia berharap bisnis kuliner kue tradisional putu tegalnya bisa lebih berkembang luas dan makin banyak peminat kue tradisional ini.









