Hari Raya Idul Adha bukan sekadar rutinitas tahunan menyembelih hewan kurban. Di balik perayaan ini, ada nilai-nilai penting yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk kemajuan Bojonegoro. Jika kita melihat kembali sejarah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, ada banyak pelajaran hidup yang sangat relevan dengan kondisi kita saat ini.
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, pada momen Idul Adha 1447 H/2026 M ini, mengajak masyarakat untuk merefleksikan kembali semangat Idul Adha. Saat memberi sambutan sebelum menunaikan sholat Idul Adha di Masjid Darussalam Bojonegoro Rabu (27/5/2026), ia menekankan bahwa keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukan hanya untuk dikagumi. Akan tetapi untuk dipraktikkan dalam keseharian kita. Untuk mewujudkan Bojonegoro yang bahagia, makmur, dan membanggakan, ada tiga hal utama yang bisa kita lakukan.
Pertama, meningkatkan ketakwaan
Ketakwaan bukan hanya soal ibadah ritual di masjid. Dalam konteks yang lebih luas, takwa berarti melakukan segala sesuatu sesuai dengan aturan dan perintah Tuhan. Bagi warga Bojonegoro, ini berarti bekerja dengan jujur, disiplin dalam menjalankan tugas, dan bertanggung jawab. Ketika setiap individu menjalankan tanggung jawabnya dengan baik, maka dampaknya akan terasa bagi lingkungan sekitar dan daerah kita secara keseluruhan.
Kedua, menanamkan sikap ikhlas
Nabi Ibrahim AS mengajarkan kita arti keikhlasan saat ia harus melakukan sesuatu yang sangat berat demi perintah Tuhan. Sikap ikhlas ini sangat kita butuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. Ikhlas berarti bekerja dengan niat tulus untuk membantu sesama, bukan semata-mata mencari pujian atau keuntungan pribadi. Dengan sikap ikhlas, pelayanan publik akan menjadi lebih baik dan pembangunan daerah akan berjalan dengan lebih lancar karena dilandasi oleh semangat pengabdian.
Ketiga, memperkuat kepedulian sosial
Idul Adha adalah momen yang sangat kuat untuk mempererat hubungan antarwarga. Praktik kurban secara nyata adalah wujud kepedulian bagi sesama yang membutuhkan. Ketika kita berbagi, sekat-sekat perbedaan di antara kita akan hilang. Kepedulian sosial seperti inilah yang menjadi kunci agar masyarakat Bojonegoro bisa hidup rukun, harmonis, dan saling mendukung satu sama lain.
Selain itu, pesan yang tak kalah penting dari kisah Nabi Ibrahim adalah tentang pentingnya pendidikan di dalam keluarga. Kesabaran Nabi Ibrahim dalam mendidik anaknya merupakan contoh bagi orang tua di Bojonegoro. Kualitas sumber daya manusia (SDM) yang unggul, berbudaya, dan berakhlak dimulai dari pendidikan di tingkat keluarga.
Bupati mengajak menjadikan momen Idul Adha tahun ini sebagai awal untuk memperbaiki diri. Dengan meningkatkan ketakwaan, membiasakan sikap ikhlas, dan terus peduli terhadap sesama, kita sedang menata fondasi yang kuat bagi Bojonegoro. Mari bersama-sama kita wujudkan Bojonegoro yang lebih bahagia, makmur, dan membanggakan bagi generasi mendatang.









