Penulis: Kajar Alit Djati
Banyak masjid baru dibangun. Masjid-masjid tersebut menonjolkan sisi kenyamanan dan kemegahan. Kubah berukuran besar dengan menara-menara menjualng. Masjid-masjid kebanyakan berarsitektur gaya Timur Tengah.
Masjid-masjid yang dibangun di Jawa pun kebanyakan bergaya modern ala Timur Tengah. Padahal, Jawa mempunyai gaya arsitektur masjid yang sudah lama dikenalkan oleh para penyebar agama Islam dulu. Bahkan, arsitektur rumah jawa memasukkan gaya masjid sebagai salah satu arsitektur bangunan khas Jawa.
Tak heran jika kini banyak muncul pertanyaan, kenapa masjid baru yang dibangun, tak lagi suka menggunakan arsitektur jawa.
Arsitektur Adalah Ekspresi Jiwa
Arsitektur masjid sebenarnya tak sekedar terkait bentuk bangunan saja. Melainkan arsitektur masjid merupakan bagian dari ekspresi jiwa, yaitu jiwa spiritualitas dalam bentuk kebendaan. Masjid sebagai implementasi dari spiritualitas umat muslim juga terkait dengan hukum kebendaan yang tidak bisa lepas dari konteks kebudayaan
Arismunandar (2002, p.88) menjelaskan bahwa Masjid Jawa memiliki ciri-ciri tertentu. Mereka memiliki denah terpusat, atap bertingkat dua hingga tiga, dan tiang-tiang mengelilingi bagian luar bangunan. Ada juga serambi tambahan di depan bangunan, serta halaman yang dikelilingi oleh dinding, termasuk menara dan makam di bagian depan.
Menurut Pijper (1947), masjid di Jawa memiliki beberapa karakteristik khas. Pertama, mereka memiliki bentuk bangunan yang berbentuk persegi. Kedua, bangunan ini tidak ditopang oleh tiang-tiang di dasarnya. Ketiga, atapnya bertingkat dua hingga lima. Keempat, terdapat perluasan ruang di sisi barat atau barat laut yang berfungsi sebagai mihrab. Kelima, ada serambi di depan atau di samping masjid. Terakhir, halaman sekeliling masjid dibatasi oleh dinding dengan satu pintu masuk melalui sebuah gerbang di bagian depan.
Masjid-masjid tua di Jawa rata-rata berbentuk tajug pada bagian atap. Yakni bertingkat tiga. Dikutip dari laman Jogjaprov, sesuai naskah-naskah lama tentang bangunan rumah berarsitektur Jawa, jenis tajug adalah awal dari bentuk bangunan-bangunan lain yang ada. Jadi dari tajug kemudian berkembang menjadi joglo. Lalu dari joglo menjadi limasan, dan kemudian berubah bentuk ke bangunan jenis kampung.
Sehingga beberapa literatur menyebut jenis bangunan rumah jawa dibagi menjadi empat. Yakni tajug, joglo, limasan dan rumah kampung. Seperti bangunan Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta yang berada di sebelah barat Alun-Alun Utara Kota Yogyakarta. Atap di serambi masjid (sebelah kanan) berbentuk limasan, sedang bangunan utama (sebelah kiri) berupa tajug bersusun tiga
Di Kabupaten Bojonegoro sendiri, bangunan masjid dengan menggunakan desain arsitektur rumah jawa sudah jarang. Kebanyakan adalah bangunan masjid dengan desain modern. Jarang sekali atap bentuk tajug susun tiga.









