Penulis: Mahmud Gusti Afendi
Sabtu 3 Mei 2025. Kami, peserta Jurnalistik Trip #3, mendengarkan cerita dan berlatih langsung proses pembuatan batik ecoprint di Desa Guyangan, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro. Tepatnya di Rumah Batik Cussaybienna yang terletak di perkampungan yang sejuk.
Di balik motif batik yang khas dan penuh makna, tersimpan kisah inspiratif seorang pengrajin yang tekun. Ia adalah Nurul Kholifah atau lebih dikenal dengan Nurul Cussaybienna. Ia memulai kiprahnya dari ketertarikan dan ketekunan belajar akan batik. Lalu, ia memproduksi batik, salah satunya motif desain jembatan sosrodilogo.
Nurul lebih dikenal sebagai pelopor batik ecoprint. Teknik batik ini menggunakan pewarna alami yang ramah lingkungan. Proses peralihan dari batik warna alam ke ecoprint menjadi jalur baru yang ia tempuh seiring meningkatnya tren dan kesadaran lingkungan di kalangan masyarakat.
Salah satu keunikan dari karya batik ecoprint adalah penggunaan bahan warna alami yang diperoleh dari lingkungan sekitar. Seperti dari serabut kelapa, daun jambu, daun ketapang, hingga daun mandar, yang semuanya dimanfaatkan untuk menciptakan warna-warna khas yang menawan. Proses pembuatannya melibatkan penjemuran, perendaman, dan perebusan, hingga menjadi bahan pewarna batik yang siap digunakan.

Selain ramah lingkungan, metode ini juga menjadi bentuk pemanfaatan sumber daya lokal yang sangat efisien dan ekonomis. Nurul tidak hanya berkarya sendiri, namun juga memberdayakan masyarakat sekitar baik ibu rumah tangga maupun lulusan anak Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk terlibat dalam proses produksi seperti menjahit dan membuat produk turunan dari batik.
Perjalanan Nurul bukan tanpa tantangan. Ia memulai usahanya dengan modal hanya Rp 400 ribu, yang digunakan untuk membeli mesin jahit bekas dan kain sisa (perca). Ide kreatifnya membawa kain perca dari penjahit-penjahit di sekitarnya untuk diolah menjadi produk-produk seperti sarung bantal, taplak meja. Kreativitas ini menarik perhatian komunitas lokal dan membuka jalan menuju Dekranasda.
Kejujuran dan keunikan produknya menarik minat konsumen, termasuk dari luar kota dan bahkan dari luar negeri. Nurul bercerita, produk batiknya pernah menarik minat di Kalimantan dan Riau. “Bukan hanya karena motifnya, tapi karena cerita dan filosofi di balik setiap kain,” terangnya.
Kini, usahanya telah berkembang pesat. Pesanan datang dari berbagai instansi seperti kampus UGM dan lembaga pelatihan di seluruh Jawa Timur. Produknya tidak hanya digunakan untuk kebutuhan pribadi, tapi juga untuk seragam hingga oleh-oleh resmi. Ia mengungkapkan bahwa permintaan bisa mencapai 800 potong batik warna alam. Ini menunjukkan tingginya kepercayaan terhadap kualitas dan nilai produknya.
Harga produknya pun beragam, dari Rp560 ribu hingga lebih dari Rp1 juta, tergantung tingkat kerumitan dan keunikan warna alami yang digunakan. Meski demikian, produk ini tetap diminati karena membawa nilai lebih baik dari sisi estetik, keunikan lokal, maupun ramah lingkungan.
Dalam praktik membatik dengan warna alam, banyak sekali teknik yang bisa diterapkan, mulai dari teknik ponding, kukus, hingga teknik transformasi warna antar kain. Setiap teknik memiliki keunikan dan syarat-syarat tertentu agar menghasilkan batik yang tidak hanya estetis, tetapi juga tahan lama dan ramah lingkungan.
Teknik ponding misalnya, dalam teknik pencetakan, satu lembar kain diberi aneka daun, lalu dilipat rapat mengunakan plastik, kemudian dipukul-pukul mengunakan palu dari kayu. Sementara teknik kukus dimulai dengan proses mordam yaitu kain yang telah dicuci direndam atau direbus dalam larutan khusus, biasanya larutan tawas atau cuka kayu untuk membuka pori-pori kain. Proses ini penting agar kain mampu menyerap warna dari daun pewarna. Setelah proses mordam, kain dikeringkan lalu diberi cetakan daun pada permukaannya. Kemudian dikukus agar motif dan warna menyatu kedalam kain.
Pada teknik batik tulis dengan warna alam, prosesnya memerlukan ketelitian tinggi. Setelah sketsa digambar dengan pensil, proses canting dilakukan menggunakan malam panas. Pewarnaan dilakukan berlapis. Misalnya, tahap pertama dicelup ke warna kuning dari kunir atau kunyit, lalu difiksasi untuk mengunci warna.
Agar batik warna alam awet dan tetap cantik hingga 8–9 tahun, perawatan yang tepat sangat penting. Batik ini sebaiknya dicuci menggunakan deterjen lembut, sabun cair, atau bahkan sampo, dan tidak direndam terlalu lama. Asalkan penjemuran dilakukan di tempat yang teduh, maka warna batik akan awet.
Membuat batik ecoprint, lanjut Nurul, membutuhkan waktu 3–4 hari setelah proses pengukusan dan pengeringan sebelum warnanya bisa dikunci secara optimal. “Jika langsung dikunci, hasilnya bisa kurang maksimal dan warna tidak meresap sempurna pada serat kain,” terangnya sambil menunjukkan hasil produksi batik ecoprint.
Proses panjang dan penuh perhatian dalam membuat batik warna alam adalah refleksi dari kecintaan terhadap warisan budaya yang lestari dan ramah lingkungan. Dari pemilihan kain berserat alami, penggunaan daun dengan kandungan tanin tinggi, hingga teknik pewarnaan dan perawatan, semuanya berkontribusi pada keindahan yang tidak hanya tampak dari luar, tetapi juga memiliki nilai historis dan filosofis.
Melalui pemahaman dan pelestarian teknik-teknik seperti ini, generasi muda diharapkan tidak hanya menghargai, tapi juga meneruskan tradisi batik warna alam dengan cara yang kreatif dan bertanggung jawab terhadap alam. Batik bukan sekadar kain bermotif. Ia adalah cerita, jejak budaya, dan seni yang hidup dalam tiap helai benangnya. Mari terus mencintai dan melestarikan batik sebagai bagian dari identitas dan kekayaan budaya kita bersama.









