Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Bojonegoro Timur

Ketika Kopi Menjadi Pembuka Jalan Penghijauan Bojonegoro

Redaksi
20/01/2025
Jurnalistik Trip #1 Mastumapel.com; Wajah Ceria Jurnalisme Kaki di Bojonegoro

Peserta Jurnalistik Trip #1 melakukan interview langsung dengan Budi Witoyo/Foto: Nisa

Reporter: Anggun Sofia Ardila

Di tengah terik matahari Bojonegoro yang bisa mencapai 38 derajat celcius, kebun kopi di Desa Tlogohaji, Kecamatan Sumberrejo menantang pandangan umum tentang budidaya kopi. Karena ternyata kopi bisa tumbuh dan berproduksi di dataran rendah.

Dalam kegiatan Jurnalistik Trip #1 yang digagas Mastumapel.com, Sabtu (18/01/2025), Lilik Budi Witoyo (38), inisiator kebun kopi tersebut memperlihatkan bagaimana tanaman yang biasanya tumbuh di dataran tinggi ini bisa berkembang di dataran rendah Bojonegoro.

“Selama kebutuhan nutrisi terpenuhi, tanaman kopi tidak akan mati, bahkan di dataran rendah sekalipun,” ujar Budi sambil menunjukkan empat varietas kopi yang ia kembangkan sejak 2019, yakni Arabika, Robusta, Liberika, dan Excelsa.

Fenomena ini sangat menarik, mengingat perubahan iklim yang drastis di Kabupaten Bojonegoro. “Sebelum tahun 90-an, suhu di sini berkisar 20-25 derajat dan masih hijau, maksimal 30 derajat. Tapi sekarang, semakin ke sini semakin kuning dan memerah,” jelas Budi, menggambarkan perubahan dramatis kondisi lingkungan setempat.

Untuk itu, perlu ada penghijauan terus menerus. Dan menyiasati tantangan ini, Budi kemudian menciptakan “miniatur hutan” dengan menanam beragam pohon peneduh untuk tanaman kopi. Pohon peneduh itu diantaranya pule, durian, cempedak, jambu air, jambu bangkok, mangga, alpukat, dan jeruk madu. Sistem ini tidak hanya melindungi tanaman kopi dari paparan matahari langsung, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi ganda bagi petani.

“Penggabungan pohon peneduh dan kopi ini bukan sekadar tentang produksi kopi,” tegas Budi. “Ini adalah cara terbaik untuk program rehabilitasi hutan dan mata air. Pohon peneduh memiliki perakaran dalam yang mengurangi panas dan tanah longsor, sementara akar dangkal kopi membantu mengurangi erosi tanah,” terangnya.

Hasil dari kerja keras beberapa tahun ini mulai terlihat. Dua kali dalam setahun, pada Juni dan Desember, kebun kopi ini menghasilkan panen yang meski masih terbatas. Dan ini telah menarik perhatian penikmat kopi lokal yang diundang untuk mencicipi hasil panen perdana. Meski belum bisa dikomersilkan karena jumlahnya yang masih terbatas, hal ini membuktikan bahwa kopi bisa tumbuh dan berbuah di Bojonegoro.

Inovasi ini, lanjut Budi, telah menarik perhatian berbagai daerah. Diantaranya, Budi diundang untuk memberikan pelatihan di berbagai wilayah, dari Pekanbaru hingga Tuban untuk membagikan pengetahuannya tentang budidaya kopi di dataran rendah. Lebih penting lagi, inisiatif ini sejalan dengan program RPJMD Bojonegoro untuk pengembangan kebun kopi dan alpukat.

Sistem pertanian yang dikembangkan Budi menggunakan pupuk organik dari kotoran hewan dan gedebok pisang yang difermentasi. Hal ini menunjukkan komitmennya terhadap pertanian berkelanjutan.

Di tengah krisis cuaca ekstrem dan potensi krisis air yang melanda Bojonegoro, kebun kopi ini menjadi model solusi yang menggabungkan kepentingan ekonomi dan ekologi. Inisiatif ini tidak hanya menjawab tantangan reboisasi, tetapi juga membuka peluang terciptanya kopi khas Bojonegoro yang selama ini belum ada.

________

Anggun Sofia Ardila adalah mahasiswi IKIP PGRI Bojonegoro, peserta Jurnalistik Trip #1

Tags: BojonegoroJurnalistik TripKopiLilik Budi Witoyo
Previous Post

Dari Gunung ke Kebun; Kisah Kopi Ditanam di Dataran Rendah Bojonegoro

Next Post

Menanam Kopi di Dataran Rendah Bojonegoro; Sebuah Inovasi di Tengah Tantangan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Catatan dari Pinggiran Hutan Jati: Menyalakan Api Cita-Cita Anak di SMPN Satu Atap Soko Temayang

Catatan dari Pinggiran Hutan Jati: Menyalakan Api Cita-Cita Anak di SMPN Satu Atap Soko Temayang

12/08/2026
Obrolan Minggu Malam Mastumapel: Ke Mana Arah Jalan Radio di Era TikTok?

Obrolan Minggu Malam Mastumapel: Ke Mana Arah Jalan Radio di Era TikTok?

27/07/2026
Mengenal Sosok Titie Said, Jurnalis dan Novelis asal Bojonegoro yang 2 Periode Pernah Jadi Ketua LSF

Mengenal Sosok Titie Said, Jurnalis dan Novelis asal Bojonegoro yang 2 Periode Pernah Jadi Ketua LSF

20/07/2026
Catatan Pendek Sebelum Nonton The Odyssey

Catatan Pendek Sebelum Nonton The Odyssey

17/07/2026
Madrasah Jurnalensa, Ruang Bersama Belajar Jurnalistik Bagi “Jurnalis NU”

Madrasah Jurnalensa, Ruang Bersama Belajar Jurnalistik Bagi “Jurnalis NU”

19/07/2026
Ketua Tanfidziah MWCNU Ngasem: Menulis Memperpanjang Umur

Ketua Tanfidziah MWCNU Ngasem: Menulis Memperpanjang Umur

02/08/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023