Penulis: Anggun Sofia Ardila
Saya tidak sengaja hadir terlambat dalam kegiatan Jurnalis Trip #3 yang diselenggarakan oleh Mastumapel.com. Kendala di jalan membuat saya baru tiba ketika sesi sudah berjalan. Tapi semua rasa terburu-buru itu terbayar lunas ketika saya memasuki ruang tamu Nurul Kholifah di Desa Guyangan, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro.
Di rumah sederhana itulah, batik-batik beragam motif desain dengan merek dagang Cussaybienna dilahirkan. Namun lebih dari sekadar tempat produksi, di sana saya belajar bagaimana sebuah kain bisa bercerita, bahkan menjadi strategi pemasaran yang kuat.
Sebelum dikenal sebagai pengrajin batik ecoprint, Nurul memulai dari kerajinan berbahan perca. “Sebelumnya saya aktif membuat barang dari bahan perca. Contoh produk: bed cover, sarung bantal kursi dari limbah perca,” tuturnya. Keterlibatannya dalam dunia batik bermula dari sering “nimbrung” di Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Bojonegoro. Dari situlah ia mulai belajar dan menciptakan motif batik seperti Jembatan Sosrodilogo yang merupakan ikon daerah kelahirannya.
Berbekal semangat dan ketekunan, Nurul memilih jalan berbeda: memanfaatkan pewarna alami ketika modal hampir tidak ada. “Karena modal saya tidak ada,” ujarnya. Ia memulung serabut kelapa, mengeringkan dan merebusnya, lalu mencampur dengan daun jambu atau ketapang untuk dijadikan pewarna batik. Inilah cikal bakal karyanya yang kini dikenal luas.
“Alhamdulillah sekarang yang bantu ada 6 orang, di antaranya ada juga adik-adik spesial lulusan SLB,” ucapnya. Di hari kerja, mereka mengerjakan proses ngeblat dan nyanting, sementara ibu-ibu rumah tangga sekitar dilibatkan untuk menjahit dan membatik.
Namun kunci sukses Cussaybienna bukan hanya teknik pewarnaan, melainkan pada cara Nurul memasarkan produknya: menjual filosofi. “Saya sadar, batik saya tidak selalu menarik di pandangan pertama. Warnanya kalem, bahkan terkesan kusam dibandingkan batik pabrik,” ujar Nurul “Tapi kalau orang sudah tahu proses dan makna di baliknya, mereka jatuh cinta.”
Ia sering mempromosikan batik dengan menceritakan asal usul motifnya, seperti jembatan, kayangan api, bahkan kerupuk klenteng, makanan tertua di Bojonegoro.
Dalam sebuah pameran di Solo, Nurul bercerita bertemu dengan dosen UGM. Setelah ia menjelaskan filosofi batik, pesanan bertambah dari dua menjadi delapan belas potong batik tulis. Produk tersebut menggunakan pewarna alami, yang harganya pun berbeda jauh dengan batik pabrikan. “Kalau produk pewarna alami paling murah Rp550.000 per potong,” jelas Nurul. Sedangkan batik cap dengan pewarna pabrik dijual mulai dari Rp85.000 hingga Rp250.000 per potong.
Tak berhenti di sana, ia juga menyesuaikan desain untuk anak muda. “Kemarin dari mahasiswa Brawijaya punya organisasi tingkat Asia itu, mereka ke sini tanya, ‘Mbak, apakah bisa membuat batik bergaya anak muda?’ Nah kan biasanya anak muda nongkrong ngopi pakai laptop, saya aplikasikan gambar kerumunan orang pakai laptop di batik, bagian punggung.”. Ia menyadari pasar anak muda tidak menyukai batik ‘tua’, maka ia sisipkan elemen visual kekinian dalam motif batiknya.
Untuk pemasaran digital, Nurul memanfaatkan Instagram @cussaybienna, serta bekerja sama dengan pihak yang memasarkan produknya di Bukalapak dan Tokopedia. “Saya tinggal kirim foto, diupload mereka.”
Dalam kesempatan tersebut, kami juga berkesempatan mencoba langsung membuat batik eco print teknik pounding (dipukul). Saya mungkin datang terlambat hari itu, tapi pulang dengan cerita yang akan tinggal lama. Dari Cussaybienna, saya belajar bahwa kekuatan batik bukan hanya pada warna dan pola, melainkan pada makna yang terkandung di dalamnya. Dan ketika makna itu disampaikan dengan jujur, ia menjelma menjadi strategi pemasaran yang paling kuat: menyentuh hati.









